4.20.2007

GEmerLAP





Hitam.
Entah yang di sebelah mana.
Gelap.
Namanya juga malam.

Pejam.
Mungkin itu sebabnya.
Silap.
Terserah mereka sebut apa.

Lalu?
Pagi berganti malam kah?
Malam berganti pagi kah?
Siapa yang peduli?
Toh matahari datang dan pergi.
dan bulanpun muncul silih berganti.

Dan akupun duduk sendiri.
Sambil pandangi 2 buah busur pelangi.....



Meja Adwork dengan clio awards palsu
200406
Malam? Pagi? Malam?

3.20.2007

Balada Orang Susah





Hari Sabtu itu adalah weekend ke sekian yang gue habiskan buat ngerjain kerjaan klien orang India, yang outputnya gak juga jadi-jadi.
Semua kerjaan kayaknya gak pernah final tiap dimitingin sama dia.

Job A dikerjain, dia udah minta job B, C dan D.
Besoknya Job A dipresent ternyata dimentahin dengan argumen panjang lebar sampe gak sempet present Job B, C dan D.
Tapi dia sempet ngasih job E, F dan G.
Besoknya Job A dipresent ulang, hasilnya minta alternatif baru sambil mentahin Job B, C, dan D.
Besoknya Job A2 (Alternatif) diterima kita berteriak girang.
Tapi detik berikutnya kita sedih karena job B, C, dan D dimentahin dan Job E, F dan G direvisi major.
Besok paginya ditelpon, karena Job A2 harus diubah karena komen dari regional.
Detik berikutnya dia marah-marah karena job B, C, dan D harusnya udah musti tayang besok (lhah baru kemaren bukan dimentahinnya?)
Detik berikutnya dia mempertanyakan revisian Job E, F, dan G.
Siangnya ngasitau ada 2 job baru.
Dan seterusnya dan seterusnya.
(Pusing bacanya? Nah lo bayangin deh tuh yang ngerjain…huehehehe)

Kalo istilahnya Yoga, setiap miting, kita pulang selalu kayak prajurit kalah perang.

Pokoknya selalu ada hal-hal untuk bikin hidup kami semua jadi susah!

Susah?

Tiba-tiba gue malu sendiri make kata itu.

Hari ini gue tinggal di rumah beratap dan berdinding.
Punya kerjaaan dan pergi ke tempat kerja bisa berangkat naik kendaraan (umum maupun pribadi)
Makan tiga kali sehari.
Punya HP.
Punya bapak ibu kakak anak istri yang sehat.
Bisa nonton DVD atau EPL
Bisa main Yahoo Fantasy Football atau browsing,

Dan lo mengklaim hidup lo susah?
Pls d Sekkkk!

Gak malu apa sama Daniel yang rumahnya kerendem banjir hartanya bablas semua? (Masih ngurusin klien telekomunikasi pula! =p )

Gak malu apa sama Gepeng yang rumahnya roboh gara-gara gempa Jogja?
(Tapi kan dia baru punya kamera DSLR baru! )

At least malulah sama penduduk Perumtas yang rumahnya raib dihajar lumpur Lapindo tanpa kejelasan ganti rugi—baik dari Lapindo maupun pemerintah!

Malulah sama keluarga korban Adam Air, Senopati Nusantara, Levina, Garuda, Gempa Sumbar, Longsor Manggarai, (perlu disebutin sampe Tsunami Aceh?)

Malulah sama pedagang-pedagang kaki lima di seluruh negeri yang belakangan ini tiap hari musti gebuk2an dan teriak2an sama satpol PP yang dibantu preman preman—berseragam maupun tak berseragam.

Malulah sama keluarga korban Trisakti, Semanggi I & II, orang hilang Mei 98, yang udah dikhianati sama wakilnya sendiri di DPR.

Malulah sama Suciwati yang suaminya dibunuh keji oleh pengecut dan sang pengecut dilindungi oleh (atau jangan-jangan kepanjangan dari) tangan-tangan tak nampak.

Malulah sama SBY dan JK yang hidupnya susah, sampe kayak orang bego gak ngerti prioritas buat negerinya.

Malulah sama Angel Lelga yang bingung sebenernya siapa yang nikahin dia, Bang Haji atau Aman Jagau…

Plak!

Suara realitas menampar?
Ternyata bukan.
Cuman sebuah brief baru terbanting di meja gue.

“Kita cuman punya 5 hari kerja buat develop print ad ini sampe tayang. Gue dah bikin timeline buat brainstorming, review, present ke klien, dan produksinya. Alangkah indahnya kalo gak perlu motret…”

(Orang-orang Susah: “Hayooo…! Hayooo…! Pasti mau bilang idup lo susah, deehh???” )

“NGGGGGGGG…. ENGGGGGGGAAAAKKKK KOKKKKK!!!!”




Meja lt 2 Adwork yang no smoking tapi smoking.
200307
Hard. Hurt. (No) Heart.

2.08.2007

Kisah Anta dan Prota





Apa salah satu plot favorit film Hollywood?
Tokoh antagonis dibikin abu-abu.
Kadang tokoh antagonis diposisikan sebagai korban, jadi meskipun antagonis tapi audiens dipaksa berempati. Misalnya Catwoman atau Penguin di film Batman.
Atau kadang tokoh antagonis ini justru punya kedekatan dengan tokoh protagonisnya. Misalnya Hannibal Lecter di Silence of the Lambs.

Apa salah satu plot favorit sinetron Indonesia?
Tokoh antagonisnya dibikin item seitem-itemnya, tokoh protagonis putih seputih-putihnya.
(Jadi inget tagline Hugos: “Tempat Party se-party-party-nya” =P )

Misalnya di sinetron ala Hidayah (Hikayah? Habibah? Ah whatever). Tokoh Istri berjilbab yang suaminya miskin, trus diajak ama temennya ngelacur. Pas ketauan dan dinasehatin sama Pak Ustadz, malah si Istri marah2 dan maki-maki


“AHHH PAK USTADZ INI NGAPAIN SIH IKUT CAMPUR URUSAN ORANG. Emangnya kalo kita kelaparan Pak Ustadz mau ngasih makan kita!!??? Udah sana Pak Ustadz ke mesjid aja sana! Sholat gih!”


"Astaghfirullah…"
(Yang ngucap ini selain tokoh pak Ustadz di sinetron itu, juga gue--Gue lebih karena shock kok ada ya penulis skenario setega ini sama karakter ciptaannya…)

Atau ada di sebuah sinetron non religi, yang ceritanya: Bapak-Ibunya itu gak punya uang sementara anak-anaknya lumayan kaya. Si anak ngomong gini,

“Bapak dan Ibu itu udah gak bisa ngasih warisan, malah ngerongrong kita. Orang tua yang baik kalo meninggal itu ngasih warisan! Lagian bapak dan ibu katanya orang yang taat beragama, berarti udah biasa puasa dong!! Tahan laper dikit kenapa sihh!!?”


Tokoh Bapak, Tokoh Ibu, dan gue: “Astaghfirullah…”

Entah apa yang ada di otak penulis skenario sinetron Indonesia.
Mungkin, mereka nganggep orang Indonesia itu bodoh, jadi kalo dikasih abu-abu, bingung yang mana antagonis yang mana protagonis.

Tapi…jangan-jangan emang bener ya?
Jangan-jangan emang begitu karena orang-orang Indonesia di kehidupan sehari-hari emang cenderung dikasih tontonan realitas yang serba abu-abu, jadi susah mbedain antagonis dan protagonis.

Ada (mantan) Narapidana jadi ketua PSSI, siap ndodosin duit APBD-APBD katanya demi “tontonan rakyat” bernama sepakbola.

Ada Menteri yang ‘tangannya bersimbah darah’ korban kecelakaan transportasi laut, darat, dan udara, tapi mukanya yang kucel dan rambutnya yang putih bikin dia dikasihani.

Ada Menteri yang bikin kelaparan ribuan orang, tapi karena dia “Beragama”, jadinya gak terlalu dihujat. (Sama dong sama SPG-SPG dari Univ Moestopo Beragama… :p )

Tapi gue rasa enggak juga.

Buktinya ada orang-orang yang konsisten tetap dengan statement-statement antagonisnya ala sinetron.

Misalnya, ada menteri cameh yang ngurusin kesejahteraan rakyat tapi :
Pas harga elpiji naik, dia nyuruh orang pake kompor minyak
Pas harga minyak naik, dia nyuruh orang pake kompor briket batubara
Pas perusahaannya nenggelemin puluhan desa di sidoarjo, dia bungkem
Terakhir pas Jakarta tenggelem, dia bilang media massa membesar2kan masalah seolah-olah Jakarta mau kiamat –cek di sini
(pak…buat yang mati dan hartanya ludes dibawa air itu namanya kiamat kaleee…)

atau ada Gubernur yang tahun 2002, daerah yang dia pimpin tenggelem, dia bilang, “Siapapun gubernurnya, saya yakin gak ada yang bisa nyelesein masalah banjir ini!”(terus kenapa elo pak yang jadi gubernur? Kenapa gak Pak Slamet tukang nasi goreng depan rumah gue? Sama-sama gak bisa ngatasin banjir kan?)

Tahun 2007 pas jakarta tenggelem (lagi) dia bilang dia gak bisa ngatasin sendiri, dan katanya emang ada daerah-daerah Jakarta yang letaknya rendah jadi WAJAR kelelep. (hellooooo…Bapak gubernur kan? Helloooo…Belanda letaknya di bawah permukaan laut bukan, pak?)

Jadi berterimakasihlah pada Sutiyoso dan Aburizal Bakrie.
Karena berkat mereka, audiens kita udah dikasih contoh tokoh antagonis itu kayak apa. Jadi mereka gak bodoh lagi. Jadi sebenernya gak perlu lagi penulis skenario sinetron menghitamputihkan permasalahan. Malah jadi gak membumi dengan keseharian.

Gak se-membumi skenario Ekskul yang jadi film terbaik FFI 2006…

Gubrak!
(Sepatu milik Nia Dinata, Mira Lesmana, dan Riri Riza mendarat di muka gue.)




Meja lt 2 kantor deket pintu manggarai
080107
Byurrrr.Byuuuuur.Biarrrr.

1.02.2007

Jejak Langkah Lego





Beberapa hari yang lalu Astri beliin Naia mainan Lego.
Mainan (yang katanya bikin) kreatif itu ternyata gak cuma menarik buat Naia.
Ken, ponakan gue yang kelas 1 SD dan tinggal di sebelah rumah itu, juga tersibukkan dengan mainan itu.
Alih-alih cuman nemenin mereka main, tiba-tiba gue juga tersedot dengan mainan itu.
Tauk-tauk gue menemukan diri gue lagi sibuk bikin bentuk helikopter dari Lego di jam 2 pagi saat Astri dan Naia udah tidur. (Dan gue baru ngeh itu jam 2 pagi, karena Astri kebangun dan heran gue lagi “kelutekan” di depan TV yang nyala tanpa gue tonton itu)

Apa yang menarik sih benernya?
Padahal mainan klasik dari jaman gue kecil itu ya bentuknya gitu-gitu aja.
Kenapa juga itu bisa lebih menarik dibandingkan siaran tunda Blackburn vs Liverpool di Trans7 dini hari itu?
(Anak-anak: “mungkin karena Brad Friedel gak ketembus dan Liverpool kalah di pertandingan itu, Sek?” =^ppp )

Hehe..mungkin.
Tapi mungkin juga karena Lego itu gak pernah ngasih skema untuk bikin bentuk-bentuk tertentu.(Eh ada gak sih?) Anak cuma dikasih gambar-gambar jadi bentuk bentuk itu (misalnya helikopter) buat nunjukin possibilty yang bisa dibikin. Bahkan bentuk helikopter versi gue atau versi Ken atau malah Naia, jelas beda-beda. Setelah dipreteli disuruh bikin lagipun gue belum tentu bisa dengan bentuk yang sama. Itu mungkin makanya Lego dianggap sebagai mainan yang bisa bikin anak jadi kreatif.

Kreatif.

Hmmm… rasanya udah terlalu sering kita denger itu kata.
Malahan dah nempel di status pekerjaan.

Orang kreatif.
Anak kreatif.

Nyatanya kita sangat jauh dari kreativitas di kehidupan sehari-hari.

Contohnya soal membesarkan anak.
Gak banyak yang sadar bahwa membesarkan anak itu GAK ADA FORMULA / RESEP AJAIBNYA!
Ada yang sibuk baca “kitab suci2” cara membesarkan anak karangan psikolog-psikolog kondang.
Ada yang sibuk bertanya di milis-milis ibu “Gimana sih supaya anak kita doyan makan?”, “Gimana sih ngelatih anak kita poeb dan pipis di toilet?” etc etc.
Ada yang cari referens ke sana kemari.

Cuma sebagian yang inget bahwa setiap anak adalah individu yang unik, yang cuma bisa dibesarkan dengan cara yang unik dan berbeda tiap individunya. Cara A bisa dilakukan buat anak yang ini, tapi belum tentu berlaku buat anak yang itu.

Contoh lain adalah soal karir.
Ada orang yang kerjanya ikut seminar-seminar dengan pembicara pebisnis kondang, berharap dia akan sesukses pebisnis itu.
Ada yang setiap hari dateng ke workshop multilevel marketing bermimpi bisa sesukses uplinenya.
Cuma sebagian yang inget bahwa, kalo semua punya cara yang sama dalam berbisnis, terus di mana keuntungan kompetitifnya? Kalo semua orang dagang bakso, terus siapa yang beli bakso?

Gak usah jauh-jauh deh.
Contoh yang paling deket sama kita (baca: anak kreatif ad agency)
Ada yang sibuk beli Archive dan browsing-browsing situs award.
Ada yang sibuk dateng ke seminar-seminar kreatif dan nanyanya : “Mas…gimana sih caranya bisa jadi kreatif kayak mas…?”
Ada yang sibuk nyela-nyelain anak-anak muda yang “Archive-minded”, tapi selalu nyuruh mereka menggali dari budaya sendiri dengan contoh….Iklan THAILAND!

(Mas…kasih dong contoh yang konkrit, jangan Thailand lagi Thailand lagi ahhhhh…apa bedanya dong lo sama generasi Archive???)

Memang mudah melirik kesuksesan seseorang.
Semudah kita mencontoh gambar jadi sebuah lego.
Tapi berharap ada formula ajaibnya?
Berharap ada jejak langkah yang bisa kita ikuti dengan mudah?
WOOOYYY…di Lego aja gak ada skema pembuatannya!!!! (semoga gue gak salah soal ini…)

Membesarkan anak.
Meniti karir.
Bikin iklan
Bikin Lego.
Adalah sebuah proses trial dan error.

Ngejalanin seluruh kehidupan itu sendiri juga sebuah trial and error.
Gak ada satupun orang yang secara absolut bisa bilang paling ngerti gimana cara ngejalani sebuah kehidupan.

Gak juga elo.
Gak juga gue.

Selamat Tahun Baru 2007.
Semoga jalan kita berbeda, tapi sama-sama menuju pada kehidupan yang lebih baik.
Amien.



Cuz life is a lesson
You’ll learn it when your through
- Limp Bizkit ~ Take A Look Around (2000)


*Terinspirasi oleh ON BEING MOM - Anna Quindlen dan Bisnis Itu Permainan - Rusman Hakim


Meja Adwork Penuh Kertas Berserakan Lt 2
020107
prok.prok.prak!

12.06.2006

Dua






Konon angka 2 lagi populer belakangan ini.

Seorang ustadz berinisal AA G baru aja beristri 2.
(Bukan!! Bukan AA G yang suka ngasih shabu ke artis-artis ituuuu, bukaaaan!! Ini yang satunya! he he)

Beredar video anggota DPR lg mesum sama istri ke 2 nya.
(Joooooo...itu bukan bininya kaleeeee! Itu artis kampung yang akting nangisnya setengah-setengah dan nyanyinya terengah-engah!!)

Lapindo akhirnya bersedia ganti rugi tanah warga 2 juta per meter!
(Duuuhhh baca berita di mana sih ni anak??? Tanah 1 juta per meter, bangunan 1,5 juta per meter!!)



Diem-diem angka 2 ternyata juga lagi populer di hati gue.
Mungkin karena gue udah bisa bertahan di semester 2 kantor baru.
Mungkin karena gue sekarang punya HP 2 biji.



Tapi yang pasti karena 2 orang yang paling gue syukuri hadir di kehidupan gue.
Dan salah satunya baru aja menginjak usia 2 tahun.....



Selamat ulang tahun cintaku!
MMMMMMMMMMMMMMUUUUUAAAAH!



Meja Adwork dengan Mac ber-wallpaper-kan Rhoma Irama memegang Playboy
05122006
Dua. Dua. Doa.

11.28.2006

Busway, Bush No Way





Beberapa hari ini kebetulan gue lagi CAR-LESS WHISPER. (terjemahan bebas: diem-diem gak ada mobil--mogok jo!)
Berhubung tanggal tua, jadi biar aja tuh mobil ngangrem di garasi.
Dan alhasil gue ke kantor naik motor diboncengin sopir gue yang jadi jobless whisper.

Selama naik motor banyak hal baru yang gue temui.

Yang pertama (ini gak baru sebenernya) JAKARTA TUH PANASNYA EMANG ANJING TANAH YA!!!!
Gak hawanya, gak mataharinya.
Sumpah mampus!
Gak usah di jalan raya penuh polusi.
Wong pas hari Minggu gue ada acara arisan keluarga di rumah gue aja, semua yg dateng pada LELEH!!!!
Tanya DanRem yang jadi saksi hidup...

Buat gue yang gampang keringetan, naik motor bener-bener mati gaya.
Gak pake lengen panjang, kulit jadi belang (Anak-anak: "Halah Sek, mau belang gimana wong item kulit lo dah mentok...!")
Kalo pake lengen panjang, nyampe kantor dah kayak tikus got.
Dan tauk kan musuh besar org Jakarta beberapa bulan belakangan ini?
BUSWAY!!!

Pembangunan asal2an gak terkoordinir, semrawut, kejar setoran.
Oke lah tujuannya mulia--selain nggelembungin account Pak Gubernur juga--memberi transportasi yang memadai buat warga DKI.
Dan sejujurnya gue juga nungguin yang koridor VI karena bener2 jalur rumah ke kantor!
Tapi joooooooo....
Manusiawi dikit kek!

Yang kedua: SESAMA PENGENDARA MOTOR ITU TENGGANG RASA
Entah kenapa, agak beda sama pengendara mobil yang suka gak mau kalah satu sama lain.
Kalo pengendara motor tuh biarpun seruntulan dan asal kepot sana-kepot sini, tapi gak nyolotan.
Kesannya: sesama seruntulan, ya sutralah yaa....

Analisa sok tau gue, adalah: karena pengendara motor punya musuh bersama.
Yaitu pengendara mobil dan juga semrawut dan panasnya lalu lintas Jakarta (baca: BUSWAY!)

Analisa sok tahu gue juga jadi ngeliat tabiat "bersatu saat ada musuh bersama" memang jadi salah satu ciri khas orang Indonesia.
Contoh: waktu refomasi semua unsur mahasiswa punya agenda dan musuh besar satu : TURUNKAN SOEHARTO.
Semua bersatu padu. (kecuali antek2 Soeharto tentunya)
Atau contoh paling gres waktu George W. Bush dateng ke Bogor.
Dari paranormal bin oranormal sampe Kyai bin Anarkis sampe Mahasiswa...semua!
Bersatu padu.
Menentang keras!

Tapi kapan ya kita ngeliat kemiskinan sebagai musuh bersama?
Kapan ya kita ngeliat kebodohan sebagai musuh bersama?
Kapan ya kita ngeliat korupsi sebagai musuh bersama?
(Belum2 wapres udah memperingatkan KPK soal pemeriksaan pejabat-- takut keserempet pak Ucup?)


Kapan ya?


Kapan kapan kita berjumpa lagi
Kapan kapan kita bersama lagi
Mungkin lusa atau di lain hari
- Koes Plus ~ Kapan-Kapan (1974)



Meja Adwork Pojok Ngerokok Lt 2
271106
Bas. Bis. Bus. Pisang Rebus.

11.02.2006

Si Sri dan Mimpinya





Kisah ini semula gue kira sebuah kisah sedih.
Tapi rasanya bukan.
Karena kisah nyata ini ternyata memberi seorang Sesek pelajaran.

Kisah dibuka dengan sebuah telpon dari nyokap gue, di saat gue dan Astri menjadi Upik Abu di rumah, setelah ditinggal bedinde-bedinde pulang kampung dan memaksa kita ambil cuti bergantian.

Di telpon, nyokap bercerita bahwa di rumahnya ada seorang cewek.
Namanya Sri.
Dia dateng dari Temanggung dianter sama ibunya untuk casting di sebuah Talent Agency di daerah Gandul deket rumah nyokap. (Jooooo… talent agency kok di daerah Gandul???)

Singkatnya, mereka sempet terdampar di rumah nyokap, sebelum nemuin tuh Talent Agency. Karena belum punya tempat tinggal, akhirnya nyokap menampung anak-beranak itu semalem di rumah. Selama di rumah nyokap mereka sempet bantu-bantu kerjaan rumah juga. Setelah itu mereka ngontrak di deket Talent Agency itu untuk sewaktu-waktu dipanggil casting.

Menurut cerita mereka, mereka diharuskan membayar uang Rp 450.000 untuk mengikat kontrak setahun (MEMBAYAR lho bukan DIBAYAR…), supaya sewaktu-waktu bisa dipanggil kalo dibutuhin.

Alhasil setelah beberapa lama ngontrak, suatu hari si Sri “maen” ke rumah nyokap gue lagi. Ujung-ujungnya dia cerita bahwa dia kehabisan duit buat bayar uang kontrakannya dan mau minjem duit. Dan nyokap karena gak bisa bantu, nyaranin Sri untuk kerja sebagai PRT serep yang justru pas lebaran gini dibutuhin orang-orang.

Singkatnya, itulah kenapa nyokap gue menelpon, dia nawarin Sri untuk jadi PRT serep di rumah gue selama 10 hari. Gayung bersambut, karena memang gue dan istri mulai kelelahan menjadi upik abu.

Dan tanpa gue sangka, si Sri bekerja luar biasaaaaaaa.
Kerjanya cepet, rapi, bersih.
Rumah gue justru lebih rapi dan bersih dibanding hari-hari sebelum lebaran.
Belum lagi soal inisiatif dan ketidakcanggungannya berhadapan sama orang.
Bener-bener ngebantu banget pas rumah kita open house kedatengan sodara-sodara di H1 lebaran.

Di suatu hari senggang sesaat sebelum liburan abis, gue sempet ngobrol sama si Sri.
Gue terenyuh denger cerita dia. Apalagi gue ngeliat secara fisik (duh maap ya…) dia gak punya penampilan yang memadai untuk jadi talent atau tampil di sinetron.
“Saya udah sempet syuting 2 kali kok pak” katanya berbinar-binar.
“Yang pertama buat sinetron yang satu lagi buat iklan.
Cuman numpang-numpang lewat sih.
Yang sinetron saya dibayar Rp 25 ribu.
Kalo yang iklan lebih gede pak. Rp 40 ribu…”

Mak Jlep!

Duh…
Mungkin orang bisa bilang gue materialistis ya, tapi tetep aja uang segitu itu kan minim bangettttt!!
Setauk gue extras buat iklan aja 100-150 ribu perak bukannn?

“Saya sih gak pilih-pilih pak. Kalo teman-teman saya yang lain banyak yang udah pilih-pilih. Kalo saya peran apa aja saya ambil aja. Istilahnya kan sambil belajar ya pak ya. Jadi ntar lama-lama insya allah dikasih dialog..”

Awalnya gue miris.
Kayak gini ya ternyata imbas iming-iming jadi bintang itu?
Thank’s to AFI, Idol dan pemilihan-pemilihan idola lainnya…

Kenapa sih dia gak jadi pembantu ajah????
Kerja dia bagus banget kokkk, begitu pikiran gue.

Itulah makanya akhirnya gue nawarin dia untuk kerja permanen karena gue udah males juga sama bedinde lama gue, yang sampe detik gue ngobrol gak ada kabar dia akan balik atau enggak.

Tapi apa jawabnya si Sri?

“Wah pak..sebenrnya kalo soal mau sih mau aja pak. Cuman gak bisa saya… Soalnya udah keiket sama yang di sana kan pak…”
begitu jawab dia sambil nyebut nama talent agency yang “mengontrak” dia.

Gue udah pengen ngelarang dia nerusin niatnya itu.
Tapi entah kenapa, ngeliat sorot matanya yang berbinar penuh keyakinan, gue tiba-tiba tersadar.

Siapa sih gue, kok berani-beraninya ngelarang Sri?
Siapa sih gue, kok bisa-bisanya yakin mimpi dia gak bakal terwujud?
Siapa sih gue, kok punya nyali untuk ngevonis dia bakal lebih sukses jadi pembantu daripada ngejar mimpinya?

Tiba-tiba gue ngerasa kecil di depan dia.

Buat dia saat ini, impossible is nothing.
Sementara gue tiba-tiba berubah menjadi orang kecil yang karena udah gak berani lagi bermimpi, akhirnya cuman bisa ngelecehin orang-orang yang masih berani bermimpi.

Damned.

Sejak kapan gue jadi orang yang nyinyir soal mimpi seseorang?
Sejak kapan gue jadi sutradara yang nentuin jalan cerita orang lain?
Sejak kapan gue membunuh kepercayaan gue tentang the power of dreams?
Sejak kapan …

Tiba-tiba beribu pertanyaan berloncatan.
Pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampe detik inipun masih gak bisa gue jawab…



If all the rain drops were lemon drops and gum drops, oh what a life I would lead.
If all the snowflakes were candy bars and milk shakes, oh what a life I would lead.
If all the sun beams were bubble gum and ice cream, oh what a life I would lead.
Standing outside with my mouth open wide…
- Barney ~ The Raindrops Song (2004)





Bangku Adwork yang baru kududuki lagi.
021106
Weleh. Walah. Wah...

10.18.2006

Topengmu Hari Ini





Sebuah sambal teroles di muka. Bedebah. Pedasnya minta ampun.
Bukan. Ini bukan tentang siapa-siapa—Mmm.. sebenarnya tentang siapa-siapa.
Tapi bukan siapa-siapa penting. Bukan yang biasa cabuli logika orang kecil. Atau yang biasa sunat nurani. Bukan.

Ini tentang orang biasa. Ini tentang Schmidt--Memang tak sepenuhnya dia. Apalagi aku hanya mengintip ekornya. Tapi entah kenapa itupun sudah cukup jadi pengganti sendok pengoles.

Ini tak cuma tentang Schmidt. Ini juga tentang Rayhan. Atau Rehan. Entah aku juga agak tak peduli. Dan itulah masalahnya.

Kataku peduli adalah peduli. Tak peduli adalah tak peduli. Entah di hati, entah di otak, entah di tangan, entah di omongan, atau di kemaluan. Kata mereka peduliku bukan peduli. Apalagi tidakpeduliku. Mereka lebih tidak peduli lagi. Mungkin.

Ini memang tentang mereka—Mmm.. tapi tentangku juga.
Tentang mereka yang petentengan di depan kamera hidup. Tentangku yang bercermin di bayangan mereka. Bayangan yang jatuh di tembok dari sorot spotlight. Di balik temaramnya tirai yang jatuh perlahan.

Pertunjukan usai.

Dan siapa peran yang kumainkan selama ini?
Segelintir mengangguk-angguk. Dua gelintir bertepuk tangan. Sisanya pulang ke rumah masing masing.
Bermain dengan anaknya. Mungkin.
Tonton DVD bajakannya. Barangkali.
Mainkan PS nya. Siapa tahu.
Baca koran sambil buang kotorannya.
Beri makan anjing setianya.
Setubuhi istrinya.
Gelomohi kekasihnya.
Tidur nyenyak.
Dan mereka bangun esok hari dijejali infotainment pagi.

Selesai.

Tak ada sisa topengku. Apalagi Confetti.
Ludas ditelan Betara Kala.

Selesai.

Tak ada sekuel.


*Terinspirasi oleh Schmidt, Rayhan, Bamos & Oca.



Meja di pojokan seberangan mushola Adwork.
181006
Chance.Choice.Change

10.11.2006

Doa Dongak





Malem itu, seorang pengusaha besar di Indonesia lagi duduk di ruang TV rumahnya bareng istrinya. Abis pestain ultah anaknya, kecapekan. Mereka berduaan leyeh-leyeh sambil nonton sebuah acara di Cable TV.
“Bu…gila yah… Trump itu kalo bikin jamuan makan malem… Orang gila…bener-bener gila..”
Si pengusaha ngebahas acara yang dia tonton.
“He-eh”, sang istri menyahut males-malesan…

*

Pagi itu, sambil nikmatin 1 slice pizza sisa pesenan semalem, gue baca-baca majalah fashion di meja makan. Entah tuh majalah punya siapa, mestinya punya bini gue ya. Bukti iklan di bawa pulang he he he…
Anjrit! Ada seorang pengusaha Indonesia ngabisin biaya ampir 1 M buat pesta ultah anaknya. Makanan mewah ala eropa, menjadi cost center terbesar. Hampir Rp 600 juta sendiri!
Sinting…
Geblek…

*

Malem itu, babysitter dan pembantu gue diem-diem “ngerasanin” gue. Mereka setengah sebel, karena gue jarang banget makan makanan rumah yang udah dimasakin. Suka tiba-tiba pesen Pizza Hut lah, KFC lah. Padahal kadang abisnya bisa seperempat gaji mereka sendiri, gitu sekali pesen.
“Mending duitnya buat kita kali yah….”

*

Malem itu, Mak Ijah, tukang pijet langganan gue yang kebetulan abis mijet nongkrong di dapur gue. Bertigaan ngobrol sama pembantu dan babysitter gue. Dasarnya orang betawi kalo ngomong kenceng, jadi gue denger pas dia ngomong sinis:
“Biar kate makanan maren juga pan misi bisa dimakan, ngapah dibuang! Mending buat saya ajeh! Mayan saya ngirit makan sehari, pan…”

*

Detik itu, pengusaha besar dan istrinya, gue dan istri gue, babysitter gue, pembantu gue, Mak Ijah, dan ada anak-anak kecil entah siapa--dari dandanannya kayaknya mereka anak jalanan--semua berdiri berjajar rapi di sebuah ruangan limbo putih bersih.

Tiba-tiba sebuah lighting menyala terang bikin kita semua hilang dibalik silaunya cahaya itu seolah-olah ruangan limbo itu jadi putih bersih.

Sebuah tulisan muncul.


Terima kasih Tuhan kau berikan Ramadan,
sehingga kita semua tahu rasa syukur ,
tak hanya saat menunduk, tapi juga saat mendongak…






Meja di bawah AC ruang campur lt 2 Adwork.
111006
Tindak.Tanduk.Tunduk.

9.18.2006

Dedikasi Dunia





Steve “The Crocodile Hunter” Irwin meninggal disengat ikan pari!

Entah kenapa saat pertama denger kabar itu gak ada kekagetan sedikitpun di hati gue. Mungkin sama gak kagetnya ketika dulu denger Ayrton Senna meninggal karena nabrak tembok pembatas Imola.

Buat gue rasanya, memang lebih pantes mereka meninggal dengan cara seperti itu.
Kecintaan mereka yang besar terhadap dunia mereka masing-masing, rasanya bakal jadi unhappy ending kalo mereka gak meninggal di dalam dunianya itu.

Bayangin kalo Irwin meninggal gara-gara kakinya canthengan.
Atau misalnya Senna tewas diserempet Bajaj.
Kayak kata banci-banci: “AGAK KURANG, YAAAAAAAAAAA!!???”

Tapi beda banget.

Dada gue sesak waktu denger beberapa pemulung meninggal gara-gara kelongsoran sampah di bantargebang.

Bener.
Sampah memang dunia mereka.
Tapi denger mereka meninggal di ”dunia mereka” kok rasanya perih yah.

Atau pas denger mahasiswa IKIP Makassar mati ditusuk preman di kampusnya gara-gara demo. Preman yang disewa rektor sebagai tenaga kemanan partikelir.
Anjrit, rasanya tusukannya berasa di ulu hati gue.

Atau pas denger sopir buldozer pembuat tanggul buat mencegah lumpur lapindo kelindes buldozernya sendiri.
Duh Gusti…

Kenapa gue belum pernah denger, koruptor mati kekenyangan harta korupsinya?

Kenapa gue belum pernah liat birokrat kotor mati jatuh kepleset kotorannya sendiri?

Kenapa gue belom pernah …
(Anak-anak: AH SUTRALAH SEKKKKKK!!!!)

Kata siapa dunia itu gak adil?

Buktinya Steve Irwin, Ayrton Senna, Pemulung Bantar Gebang, Sopir Buldozer Lapindo, Mahasiswa IKIP, semua punya kesempatan buat meninggal di dunia mereka….

Tapi, Sek ..
AH SUTRALAH, JOOOOO!!!





Meja di pojok lt II Adwork dgn trophy clio bo'ongan.
180906
Jep! Jep! Jep!

9.13.2006

139





Hari ini cuman satu permintaanku sama Yang Di Atas.
Tuhan...jangan hentikan karunia yang udah dikasih Kamu padaku selama ini, seperti:

Betamax, VCD, Laser Disc dan DVD, Atari, Game & Watch, dan Playstation, Prambors Cafe dan Champions Cafe, Catatan Si Boy dan Dear Diary, 'Tak Benteng dan 'Tak Jongkok, Trungtung, Zebra, Taft, Atoz dan Lancer, Baju, Celana, Kaos Kaki, Sesek, Nike, Adidas dan Puma, Sendal, Ericsson, Motorola, Nokia dan Sony Ericsson, Komputer, MP3, dan Internet, Alkohol, Cimeng, Ecstasy dan Shabu, Zidane dan Maradona, Star Trek, Voltus, Warkop, Srimulat, Growing Pains, Friends, dan Band of Brothers, Dji Sam Soe dan Kopi, Citra Pariwara, Pinasthika, Adoi, dan New York Festival, Pangudi Luhur, Taman Belakang, dan Lokananta, Slank, Culture Club, Run DMC, Benyamin, Naif dan Agnes Monica, Cek n Ricek, Kabar-kabari dan Kiss, Mangan or a Mangan Kumpul, Keluarga Cemara dan Lupus, Donald Bebek, Bobo, Trigan, Storm, Trio Detektif, Lima Sekawan, Dora Emon, Natane dan Kobo Chan, Asia Carrera, Raquel Darian, Jenteal, Bang Bus dan Backroom Facial, Enny Arrow, Nick Carter, Wiro Sableng, dan RA Kosasih, Polio Kaki Kanan dan Sensitif, Ginseng Kianpi Pil, Saji, Cabe Rawit dan Adwork, Rumah Gedong Batu, Cidodol, Cinere, Gandul dan Kebagusan, Astri, Naia, dan Keluarga Besar.

dan tentunya karunia memiliki kalian semua yang udah ngerelain kesibukannya demi ngucapin selamat.
Baik yang lewat imel, sms, Y!M, doa, maupun hati....

Sebuah hal besar yang tetap punya tempat di hatiku yang kecil ini.

Amien.


SQ
34 tahun
Jujur hanya untuk hari ini. =)


Meja di pojok lantai non-smoking Adwork tapi masa bodo.
130906
Hip! Hip! Happy!!

8.30.2006

Sindroma Inferior





Katanya bangsa Indonesia itu kelamaan dijajah, sampe gak punya harga diri.
Mulai dijajah Belanda, dijajah Inggris, dijajah Jepang, dijajah Soeharto, sampe dijajah infotainment, membuat kita menjadi bangsa yang inferior.
(Desainer Inferior? Haiyah….)

Paling tidak itu yang dipercayai oleh sebagian besar orang Indonesia sendiri.
Ngeliat ada orang nyerobot antrian,
Ngeliat orang dateng telat,
Ngeliat bonek, bobotoh, dan jakmania rusuh,
Ngeliat orang2 rebutan keliatan sorot kamera di belakang reporter,
Ngeliat negatif ini,
Ngeliat negatif itu,

Langsung yang keluar: “Dasar melayuuuuuuuu…”

( + Padahal Melayu kan gak Indonesia doang?
- Lho Melayu itu Jawa lho… Melayu karo Melaku…haiyaahhhhh!!!)

Mungkin itu juga yang ada di otak Nadine, waktu dia milih pake bahasa Inggris belepotan daripada bahasa Indonesia pas diinterview di ajang Miss Universe.

Mungkin itu juga yang ada di otak salah satu mantan rekan kerja gue, waktu dia ngomong:
I mean, cmon, geto lowh… at the end of the day kita bisa menunjukkan how lengkapnya servis kita…”

(Dan biasanya gue akan menundukkan kepala sambil melakukan ketololan yang sama, bergumam, “Owhh pllleaseeee…” =p )

Di timnas sepakbola, kita bisa ngeliat Ponaryo Astaman dkk, keliatan banget “minder” ngadepin musuh, meskipun masih di level Asia Tenggara. Kadang keliatan kurang konfrontatif buat ngerusak emosi lawan. Nrimo ing pandum bola dan keputusan wasit.

Dulu gue paling sebel sama salah satu kakak gue.
Karena sindroma inferior, makanya dia itu selalu memosisikan diri sebagai orang yang perlu dikasihani.

Kalo gue cerita ke dia bahwa gue dan temen-temen gue ke Fire atau Musro (anjrittttttt ketauan banget angkatannyaaaaa), dia bakal ngomong:
“Disko tuh kayak gimana sih??? Aku tuh belum pernah ke disko…”

Atau kalo gue ngebahas tipe-tipe HP terbaru (padahal cuman ngebahas lho…secara HP Nokia 3650 gue dah gue pake hampir 3 tahun!!!) , langsung dia nyamber:
“ Wah canggih-canggih banget ya, kalo punyaku boro-boro ada kamera, layar aja masih monochrome…”

Sesebel-sebelnya gue dengan segala sindroma inferior, tapi ternyata lebih pedih lagi punya sindrom superior.
Seperti yang gue rasain saat tumbang di final pitch sebuah bank beberapa minggu lalu.
Dengan segala keoptimisan dan rasa superior ternyata membuat sebuah kekalahan itu begitu menyakitkan.

Gue jadi tauk rasanya Brazil, Inggris, dan Jerman di Piala Dunia kemaren…

But anyway…. (Anak2: SEEEEEEEEKKKKKKK!!!)
Entah karena itu atau enggak,
tapi gejala sindroma inferior menghinggapi gue belakangan ini.
Sindroma yang sebenernya punya bibit tumbuh subur dalam diri gue dari dulu dan mati-matian berusaha gue kontrasepsikan biar gak berkembang, ternyata tiba-tiba menyeruak.

Kenapa Sek, kenapa? Ha? Ha?


Well I guess...karena gue orang Indonesia….”

I guess mbelgedessz!!!




Meja baru di "pojokan nekat ngerokok" Adwork.
300806
Miss? Missed? Mistress...

8.11.2006

Perjalanan Waktu








Sinar matahari jatuh di keningnya.
Sesaat kulihat dia berkernyit.
Guratan usia tampak bertumpuk di kepalanya.
Satu, dua,..
Keinginanku untuk menghitung hilang seketika.
Kata orang hidup itu bukan matematika.
Dan memang,
karena lalu lintas Jakarta pun membenarkannya.
Sekaligus membenamkannya.
Sorot matanya masih tajam.
Kadang bergerak liar.
Sorot yang sering membuatku bergidik.
Entah kapan saja kutak ingat semua.
Tapi yang kutahu
tak cuma sorot seperti itu yang dia punya.
Dia juga kadang punya semburat kehangatan.

Kali ini sorot matakulah yang jatuh ke perutnya.
Timbunan lemak tak lagi bisa disamarkan.
Oleh baju lamanya yang sudah melar tak karuan.
Tak ada sedikitpun kesempurnaan di perawakannya.
Termasuk lengan besarnya yang bertulang kecil.
Termasuk uban sporadis di kepalanya.
Termasuk anting di telinga kirinya.
Termasuk bibir tebalnya yg kehitaman
yang sejurus kemudian sudah mengepulkan asap
Membuatku menutup hidung dengan perlahan.
Kuintip sederet gigi yang tak rapi muncul di balik bibirnya.
Membuatnya makin tampak mengerikan
buat orang lain.
Tapi entah kenapa,
tidak buatku.

Tiba-tiba,
jemarinya yang berkuku panjang menyapa kulit rambutku.
Aku diam tak bergerak.
Perlahan jemarinya turun menelusuri wajahku.
Aku tak berusaha menghentikannya.
Kehangatan terasa di tiap sentuhannya.
Kemudian dia mendekatkan mukanya ke mukaku.
Bau rokok kretek khas tercium dengan jelas.
Bibirnya yang hitam menghampiri bibirku.
Dan dia mulai mengecup bibirku.
Kemudian dahiku.
Kedua pipiku.

Dan aku membalas.
Mencium dahinya.
Hidungnya.
Bibirnya.
Dan dagunya.

Sebuah kebiasaan
yang katanya sudah kulakukan dari saat umur 1,5 tahun

“Ati-ati pulangnya ya, Nai….”

Seperti biasa.
Aku tak pernah bisa membedakan.
Apakah ia memanggilku “nak” atau “Nai”.

“Iya, Pa. Doain Naia ya. Papa juga ati-ati ke kantor. Jangan panasan kalo nyetir “

Dia cuma terkekeh.
Aku mencium punggung tangannya.
Kemudian turun dari mobil.
Dia menggoyangkan lengannya berputar berporoskan siku
Dadah Miss Universe, kami menyebutnya.

Mobil bergerak.
Tinggalkanku berdiri di depan sekolah.
Masih memandanginya di kejauhan

Memandangi papaku.
Yang aku sadar jauh dari kesempurnaan.
Tapi kutahu dia mencintaiku sepenuh hatinya….




You know, that in twenty years or more,
You still look the same as you do today.
You'll still be a young girl, when I'm old and grey.
- Genesis ~ Anything She Does (1987)






Meja di Adwork dengan sebotol cap tikus di atasnya.
110806
Lust. Lost. Love.

7.11.2006

Pelajaran Yang Tersisa






Di sebuah kelas Fakultas Hukum, Marcello Lippi maju ke depan dengan cerutu di mulutnya.
Dia bicara panjang lebar tentang arti sebuah kerja keras.
Tentang proses panjang menuju sebuah tujuan.
Seluruh isi kelas manggut-manggut.
Mereka tak berani menyangkal kebenaran isi kuliahnya hari itu.
Mereka semua menjadi saksi keberhasilan tim Italia yang dibentuknya dengan solid.
Mulai dari melibas Jerman di partai pemanasan di Firenze, dengan skor telak 4-1, sampai di laga pamuncak mengandaskan Perancis 6-5 lewat adu penalti di Berlin, tim Italia tak pernah terkalahkan.
Determinasi, strategi, permainan cantik menyerang diramu dengan cattenacio, menjadi resepnya.
Dan Piala Dunia di tangannya, menjadi buktinya.

Setelah itu Zinedine Zidane maju ke depan.
Kali ini seisi kelas manggut-manggut mendengar isi kuliah Zizou tentang kehidupan seorang manusia.
Dia bicara tentang perjalanan panjang hidup seorang manusia yang penuh dengan pasang surut.
Tentang manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, yang tak pernah sesempurna penciptanya.
Lagi-lagi mereka tak berani menyangkal kebenaran isi kuliah itu.
Mereka semua memelototi rekaman perjalanan roller coaster Zizou, mulai dari Girondins de Bordeaux, Juventus, Real Madrid.
Mulai Dari WC 1998, 2002, sampai 2006.
Keseimbangan skill dan mental menjadi resep kehidupannya.
Baik dan buruk adalah hasil dari komposisinya.
Golden Ball 2006 dan Kartu Merah adalah buktinya.

Giliran Horacio Elizondo maju ke depan.
Dia bicara soal keadilan.
Dia bicara soal keberanian.
Dia bicara soal esensi pepatah yang sudah lama mereka kenal: "Berani karena Benar"
Dan sekali lagi mereka manggut-manggut.
Mereka memangguti performa Elizondo di tengah kritik buruknya kinerja wasit di WC 2006.
Mereka memangguti keberaniannya bersikap adil, tanpa pandang bulu.
Siapapun bersalah, meskipun bintang seperti Rooney atau dewa seperti Zizou, ya harus dihukum.

Kuliah pun selesai.
Tiga tamu kehormatan, Mendiknas Bambang Sudibyo, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dan Wapres Jusuf Kalla pun dipersilakan maju ke depan untuk menyampaikan satu patah dua patah kata.
Sebelum nantinya memukul gong, sebagai penutupan secara simbolis, kuliah singkat tersebut.

Mereka bertiga kemudian bergantian menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tiga dosen tamu tersebut.
Sambil bergantian memberi petuah yang intinya sama: agar para mahasiswa memahami isi kuliah tersebut, mengambil esensinya yang begitu berharga, sebagai pijakan untuk kehidupan dan masa depan para mahasiswa sendiri.

Seorang mahasiswa berdiri.
"Maaf bapak-bapak terhormat.
Kalo benar bapak setuju dengan esensinya pak Lippi, Pak Zidane dan Pak Elizondo, lalu mengapa itu tidak keliatan dr pemikiran dan perilaku Anda bertiga ya?"

Kelas bergemuruh.

"Kebijakan Mendiknas mengadakan Ujian Nasional sama sekali tidak menghargai kerja keras anak-anak sepanjang tahun.
Hanya dalam sehari kerja keras setahun hilang begitu saja.
Hidup matinya seseorang bisa dibalik semudah membalik kertas.
Lihatlah Pak Zidane.
Kesalahannya di partai final, tidak memupus kerja kerasnya sepanjang turnamen.
Dia masih tetap terpilih sebagai Pemain terbaik World Cup 2006.

Ucapan Bapak Wapres yang mau menjadikan janda-janda di daerah puncak menjalankan kawin kontrak supaya menarik wisatawan TimTeng, sangat-sangat tidak memanusiakan manusia.
Pemerintah tak mau kerja keras menyediakan mereka lapangan kerja, dan lebih memilih cara instant dengan melacurkan mereka.
Pemerintah tak menganggap mereka manusia, karena bukan saja tak berusaha meningkatkan skill mereka, tapi juga justru memarjinalkan mental mereka.

Keputusan Pak Ketua MA yang tidak mau datang sebagai saksi di pengadilan Tipikor tidak menggambarkan keadilan.
Merasa dirinya sebagai Dewa yang tak tersentuh.
Boro-boro dikartumerah, diperiksapun tak mau.
Sebaliknya Pak Ketua MA malah "memanusiakan" hakim dengan cara menerbitkan peraturan MA yang membolehkan hakim menerima pemberian..."

Kelas hening.
Semua orang manggut-manggut.
mahasiswa tadi maju ke depan, mengambil pemukul gong.

"Pelajaran sudah selesai..."

GOOOOONGGGGG!!!!!




Meja di Adwork dengan poster jadwal WC 2006 yang terkelupas.
110706
Ole. Ole. Oleh-oleh...

6.30.2006

Kiprah Para Pengadil





Ada kisah kocak di jaman gue SMA.
Di PL itu ada aturan yang tidak tertulis (atau jangan2 di semua SMA?) bahwa kalo ada murid yang 2 kali berturut2 veteran, dia langsung dikeluarin dari sekolahan.
Cuman ada satu orang yang gak kena itu.

The Living Legend itu bernama Moh. Slamet Darmadjaja alias Memet.
Dia ketika gue kelas 3 SMP, dia udah di SMA kelas I.
Karena veteran dia jadi angkatan gue pas gue masuk SMA PL (rese banget pula pas ospek)
Pas gue naik ke kelas 2 SMA, dia lagi-lagi veteran.
Dan entah apa yg ada di benak Bruder Michael a.k.a Benyek, kepsek gue, yang pasti Memet dikasih kesempatan 1 tahun lagi.
Mungkin karena melas.
Atau karena ngeliat keteguhan hati Memet yg begitu cinta PL( padahal udah gak dinaikin 2 kali...Ha ha ha...)

Tapi pasti bukan atas pertimbangan yang sama, makanya Graham Poll ngasih tiga kartu kuning ke Josip Simunic, back Kroasia pas pertandingan terakhir sekaligus penentuan di grup F, antara Kroasia vs Australia.

Poll, yang terkenal bagus kalo mimpin pertandingan di EPL, akhirnya gak bakal dipake mimpin pertandingan sisa dari sejak perempat final, dan dia mutusin retired dari pertandingan internasional.

Bruder Michael dan Graham Poll adalah para pengadil yang bekerja di bidangnya masing-masing.
Kekuasaannya di lapangan atau di sekolah adalah absolut.
Apapun keputusannya, hasil gak mungkin diubah.

Tapi toh mereka ngejalanin perannya karena ada aturan yang ngatur.
Toh mereka tetap manusia yang bisa bikin kesalahan.
Mereka bisa dievaluasi dan diberi hukuman kalo bikin kesalahan.
Hukuman yang diberikan atas dasar semangat dan keinginan untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan.

Tapi memang Sepakbola adalah sebuah potret mikro sebuah negara.

Tengok dunia sepakbola kita .
Wasit berbuat salah gak dihukum.
Pemain dikasih kartu, wasit digebukin.
Pemain dihukum, tapi langsung hukumannya diputihin.
Ketua PSSI nya jadi kriminal, dicuekin.

Lihat Republik ini.
Hakim memihak, malah dibela.
Hakim korupsi, justru dilindungi.
Pelapor korupsi, terus diintimidasi.
Hakim Agung bisa memperpanjang pensiun sendiri.
Diperiksa gak mau.

Jadi ya sudahlah.
Gak usah ngarep wasit dievaluasi, pemain salah dihukum.
Wong ketua PSSI nya udah jadi narapidana aja gak diturunin.
Wong ketua KONI nya aja lebih sibuk sama network media dan cucu gelapnya.
Belum lagi bentar lagi bakal jadi calon gubernur DKI.

Gak usah ngarep wasit kita bisa adil.
Wong ketua Mahkamah Agung yang harusnya jadi juragan adil aja gak bisa adil.
Wong pegawai MA aja bisa disuap apalagi kok wasit.

Mending ngarepin Ronny Patinasarani dan Danurwindo bisa lebih BERANI memprediksi hasil. Daripada cuman sok menganalisa permainan dengan analisa standard. Beda ama komentator politik dan hukum yang jauh lebih BERANI teriak---- meskipun tanpa hasil!

Atau mending ngarep Graham Poll pensiun wasit ikut fit and proper test jadi Ketua MA?

Sak karepmu....
Kalo gue mending ngarepin Zidane melakukan tarian indah pencetak gol sebagai penutup manis karirnya.

Pritttt! Pritttt! Prittttt!!





Meja di Adwork dengan kalendar Tiara Lestari di meja.
070706
Prit!! Priiiiitt! Pret!

6.10.2006

Football-Freak Harrasment





.........


(Ini speechless. Jangan dibaca "Titik titik titik titik"!!)




Meja di ruang tim GG Adwork kena AC.
100606
Koma. Koma. Koma

5.27.2006

Ronggowarsito Monolog II





Ya Allah...
mengapa kau benarkan LAGI imajinasiku....

Ronggo
Ronggo I


Kamar Naia masih di Gandul
280506
Jogjakarta. Jrrrrrrroooogggjjjaaakaarrrrrrtaaa. Dukakarta.

5.24.2006

Teguh Beriman






Guh...
inget gak pas tahun 87, jaman kita beneran masih ABG--masih kelas 3 SMP! (gak kayak skrg.. NGAKUnya doang masih ABG :p) dan kita berdua jadi juara 3 lomba ngeRAP di My Place discotheque? Huaahahahahaha...bodoh banget..
Pesertanya cuman 4 tim, jelas aja juara 3!!!

Udah gitu jaman itu kita juga lagi suka-sukanya ama Run DMC, Beastie Boys dan...............
Rick Astley!!!? Najis lo Guh...he he he...

Guh...
Inget gak jaman itu elo orgnya tempra banget. Sampe elo sempet ribut gebuk-gebukan sama Iwan Tarjo di kelas pas pelajaran Pak Sum. Atau berantem sama Bamos di depan kantin PKK cewek. (Gue masih inget banget komennya Bamos pas pertama lo pukul.."Aduhh!!! SAKIT GUH!!!" hi hi hi)

Atau pas jaman SMA yang elo digebukin rame-rame sama anak '90 di depan WC sementara deket kantin Don Salamo ? Gara-gara elo mukul Tulo pas elo gak pake badge?

Saking seringnya lo ribut sama orang, sampe pas elo sama Adam tabrakan on the way ke PAMSOS --acara musiknya anak SMA 6--dan tangan lo patah, banyak yang bilang elo kena tulah karena "ringan tangan"
Padahal abis itu justru Ijum Verdi kena pukul elo gara2 maen slepetan di kelas nyasar ke tangan lo yang lagi patah digips itu. Hi hi hi...

Guh...
Inget gak di suatu saat di Taman Belakang, ketika kita masih SMA, elo bilang gini ke kita-kita "He he..iya yah gue tuh kalo udah begini selalu nyesel, kenapa gak seringan maen sama elo-elo...", menyesali kenakalan elo bersama gank nakal lo.

atau pas jaman angkatan gue daftar-daftaran kuliah di Bandung, dan elo memberi kami fasilitas sebuah rumah di jalan Kanayakan punyanya sodara lo untuk kita acak-acak sementara. Malah jaman itu elo masih pacaran sama Tanya, elo pake telponnya sodara lo untuk interlokal Tanya, sambil maenin lagu pake piano. Romantis sih Guh, tapi berapa ya tagihan telpon sodara lo setelah itu..ha ha ha...

Atau jaman kuliah kita rame-rame nangkring di rumah Teges, dan elo selalu memainkan piano dengan romantisnya, tapi saat lo mau menyanyi, Teges ngebekap mulut lo "Udah Guh, kamu maen piano aja..."
Hahahahaha...Tae tuh emang Teges.

Guh..
inget gak jaman elo mulai cabut dr The Hours of Silence trus mulai gabung ama Kidnap dan seterusnya jadi anak potlot dan kita mulai "kehilangan" elo meskipun kita sesekali masih ketemu elo.

Guh..
Mungkin blog gue gak cukup buat nulis semua kenangan-kenangan dan kejadian-kejadian tolol yang pernah kita lakuin bareng-bareng.
Tapi semoga cukup bisa ngingetin ke semua orang bahwa, mau ke manapun kita pergi, cuman IMAN kitalah yang bakal menentukan ke mana akhirnya kita.

Seperti seluruh perjalanan terakhir-terakhir hidup lo yang tercermin dari postingan-postingan blog lo...

Yang tenang ya DI SANA, Guh....



Layar pun menutup perlahan
Lampu-lampu satu persatu padam
Tinggal raut wajah malam
Kulihat menjawab dengan tawa
tanda pertubjukan selesai
sampai di sini...

DRAMA HITAM-PUTIH
by Anda, Yuka, Teguh (?)






Meja Adwork dengan G4 nangkring di atasnya.
240506
Lahir. Hidup. Mati.

5.18.2006

Maridjan, Maribeth, dan Mari Mengampuni






Bo'ong aja, kalo ada dari kita-kita belakangan ini belum pernah denger nama Mbah Maridjan.
Gara-gara Merapi mau meletus, Mbah penjaga Wedhus Gembel ini memang jadi omongan di mana-mana. Mulai dari kekaguman sampe cercaan dia dapet gara-gara gak mau nyuruh penduduk ngungsi.

Nama Mbah Maridjan, emang nyaris sekondang Mbak Maribeth, waktu lagu Denpasar Moon lagi ngetop-ngetopnya! Jaman itu kayaknya kalo lo jalan-jalan di Glodok atau Aldiron (hweh Aldiron???) atau apalah yang banyak toko kasetnya, atau pertokoan yang biasanya muterin lagu-lagu di pengeras suaranya (kayak Matahari, Ramayana dll itu), pasti lo akan denger lagu Denpasar Moon.
Dari mulai versi dangdut, house music, versi Sunda, versi Disko, Reggae, etc etc Hoekkkkk!!!!

Tapi ya itu tadi,
seperti biasa, setelah "trend"-nya lewat semuanya pun bakal senyap lagi.
Mbah Maridjan suatu saat pasti akan ganti sama Mbah Maridjan-Mbah Maridjan yang lain-- kalo Merapi dah kelar dan ganti gunung lain yang waspada.
Denpasar Moon pun ilang berganti dengan Lemon Tree, atau Asereje, atau Mambo no 5, yang juga turun berbagai versi.

Udah jadi kebiasaan kita, (KITAAAA!!??? Elo kaleeee!!) yang anget-anget tai ayam pas lagi masa serunya, tapi abis itu "mak klepus!" ilang tanpa penyelesaian.

Begitu juga dengan RUU APP dan Playboy, Revisi UU Naker, Kasus Rekening PATI Polri, Kasus BNI dan Trunojoyo I, atau bahkan Semanggi I & II, Tanjung Priok dan lain-lain.
Ada yang muncul lagi setelah ilang, tapi abis itu ilang lagi.

Kasus Pak Harto mungkin yang paling unik.
Kontroversi Bapak Pembangunan bin Pahlawan atau Penjagal HAM bin Koruptor kelas wahid, masih kenceng-kencengan. Antara pendukung dan pendongkel, masih sama-sama adu kuat. Jadinya yang ada muncul ilang, muncul ilang.

Kalo mau diadili--> semua rame, beliau sakit, pengadilan diberhentiin.
Kalo keluarganya ada yang kawin--> beliau sehat, semua teriak, tim dokter kepresidenan langsung masuk infotainment dan bintang acara talkshow.
Semua teriak rame--> beliau langsung sakit lagi, pengadilan malah mau disuruh diberhentiin secara permanen.

Jusuf Kalla, Jimly Ashiddique, Yusril Ihza Mahendra getol menyuarakan "MARI MENGAMPUNI! BELIAU KAN BAPAK BANGSA, PAHLAWAN, UDAH TUA HARUS DIBERI EMPATI PERI KEMANUSIAAN"

Sementara ICW, PBHI, dan kaum sebangsa getol menyuarakan "HUKUM ADALAH HUKUM. IMPUNITAS TAK BOLEH ADA"

Logika awam dipermainkan dan dibengkokkan bak oleh aktor-aktor Srimulat.

Asmuni membaca surat: "Yang bertandatangan di bawah ini...."
Lalu Asmuni kelabakan sibuk mencari ke bawah lantai, di mana tandatangan itu berada.


Katanya setiap warga negara itu derajadnya sama di mata hukum.
Mau mantan presiden, mantan maling, mantan koruptor, tukang becak, mantan pemimpin Baja Merah Putih, tukang pecel, sampai orang advertising, semuanya sama di mata hukum.

Kalo salah ya dihukum.

Tauk dia salah atau enggak, gimana?
Ya diadili!

Kan udah tua, sakit-sakitan?
Kalo maling ayam sakit2an apa terus dia diberhentiin pengadilannya?

Tapi kan pahlawan?
Kalo Ellyas Pical yang Pahlawan Tinju Indonesia, ketangkep jualan ecstasy apa musti diampuni?

Tapi dia sakit, jadi gak mungkin dateng ke pengadilan?
Ehmmm..tauk istilah "Pengadilan In Absentia" yang tanpa dihadiri terdakwa gak?

Adili ajalah!!
Kalo salah, ya dihukum, terus hartanya di sita, tapi dikasih grasi jadi gak usah njalanin hukuman fisik.
Adil kan?
Kemanusiaan tetep terjaga, keadilan tetep didapet.

Kalo tauknya gak salah?
Ya dibebasin.
Terus biarin dia hidup seperti sekarang tapi tanpa dikejar-kejar orang.
Kasian kan hidupnya?

Jangan2 emang KETIDAKTENANGAN DI HARI TUA itulah, bentuk hukuman buat beliau dari Tuhan..??
HUSH!! Ngaco!

Ngacoan mana sama yang nebak beliau bentar lagi meninggal, mengingat Wedhus Gembel biasanya keluar di saat ada kejadian besar?

Amien..

Lho?




Meja di pojokan tim GG Adwork.
180506
On-Off. On-Off. Capek.

4.07.2006

Kisah Kupu-Kupu dan Shabu







Masuk di lingkungan baru--entah kantor , sekolah, atau komunitas memang menghadirkan satu sensasi sendiri.
Sebuah sensasi yang sampe sekarang gak pernah berhasil gue describe.

Ingatan gue merambat ketika gue masuk TK pertama kali.
Sensasi itu muncul ketika gue ngeliat muka-muka asing itu.
Kalo kata Jolly Jumper di komik Lucky Luke, "rasanya seperti habis menelan kupu-kupu".

Dan bener...kalo ngeliat muka (calon) temen-temen gue di TK itu kayaknya memang rasa itu juga yg mereka rasain.
Tapi memang akhirnya waktu lah yang mengubah "rasa menelan kupu-kupu" itu jadi "rasa menghisap shabu2" (bwehehe..)

Kalo gak ketemu temen-temen, rasanya gimana.. gituuu...

Waktu pertama kali pindah ke Jakarta kelas 3 SD,
di hari pertama yang "ketelen" kayaknya malah "Kupu-Kupu Raja".
Anjrit gak enak banget.
Gimana enggak?
Udah lingkungan baru, bahasa baru pula..
(maklum anak Jokaw pindah ke metropolitan =) )
Padahal di kemudian hari, di sinilah gue menemukan Ijoen
--"shabu gue"paling setia sampai sekarang.

Masuk SMP pindah lingkungan lagi.
Di sini "Kupu-kupu" nya gak terlalu berasa.
"Shabu"nya banyak yang nyangkut ampe sekarang.
Maesa, Ocai, Yuka, Shanti, Emink, Tari, Ienda, Ai, Bamos, Apit, Yoris, dll
(Mungkin karena SMA gue gak ganti lingkungan dan lanjut sama mereka-mereka)
Di SMA malah nambah Tanti, Upil, Kambing, dan anak angkatan lain dari Ikatan Taman Belakang

Pas kuliah beda lagi.
Kampus FE Pancasila adalah sebuah tempat yang unik.
Lingkungan ini gue rasain sebagai lingkungan yang baru terus-terusan.
Lo bayangin, selama 7 tahun kuliah (???) gue berasa nelen kupu-kupu setiap gue pergi ke kampus!!
Bayangin betapa kenyangnya gue dengan kupu-kupu saat itu.
Gak heran gue jadi gak punya shabu di sana...
kekenyangan kupu-kupu, jo!!!

Tapi bukan itu doang yang unik.
Cabe Rawit juga lingkungan yang unik.
Di sini gue malah gak nemu satu kupu-kupupun untuk ditelen sejak mulai dari hari pertama masuk!!!
Mungkin itu yang menyebabkan gue begitu kecanduan sama lingkungan ini.
Bahkan saat gue udah memutuskan untuk quitpun gue tetep kejerumus balik.
Cabe Rawit bukan Shabu.
Cabe Rawit itu Putauw.

Dua minggu udah gue menginjak EuroRSCG.
Ada sedikit kupu-kupu di sana-sini tapi kecil-kecil.
Belum ada putauw maupun shabu,
tapi ada sedikit ecstasy dan happy-five =)
--itu juga kecil-kecil.

Tiba-tiba gue ngerasa kembali ke masa hari pertama masuk TK.

"SELAMAT PAGI, BU GURUUUUUUUUUUUU!!!!"

Pinterrrrr....


Meja di depan pintu ruang tim GG Adwork.
070406
Halo? Halo? Halah...