Suara yang muncul belakangan. Berbunyi membelakangi nalar. Yang tak pernah didengar. Samar. Lamat-lamat. Lama-lama hilang.
10.18.2010
Happy Bday
Sebuah balon gas berbentuk Spongebob,
bertuliskan "I Love Lintang - From Mbak Naia".
Tangan mungil Naia melepas pelan.
Balon membumbung cepat.
Dalam hitungan detikpun sudah tak terlihat.
Menuju ke surga, tempat adik Lintang berada...
Begitu kata Naia.
Ya,
Setahun sudah Lintang pergi.
Tanpa sempat merasakan sesaknya Jakarta.
Atau kebodohan Gubernurnya.
Atau bahkan kebimbangan-kebimbangan tolol Presidennya.
Atau mendengar kefrustrasian orang-orang di Republiknya.
Seperti yang dirasain bapaknya.
Di jalan maupun di twitter.
Selamat ulang tahun, anak lanangku.
Jangan maen twitter ya, di sana.... :)
---
jangan kau sesali segala yang telah terjadi
kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini tak ada artinya lagi
syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah...
- Jangan Menyerah ~ D'Masiv (2009)
Lt III Narrada, meja BUH yang melompong
181010
Sayang. Kangen. Ikhlas.
9.03.2010
Pamer
Masih segar di ingatan gue ketika masih kecil suka banget gambar-menggambar. Terus biasanya itu diakhiri dengan ritual pamer hasilnya ke nyokap atau bokap, dengan sebuah kalimat tanya:
“Jelek ya?”
Jelas ekspektasinya adalah jawaban seperti:
“ah enggak kok bagussss…”
Iya.
Mungkin lebih banyak anak yang melontarkan pertanyaan “Bagus gak?”—seperti yang dilakukan oleh Naia sekarang ini.
Tapi entah kenapa, dulu gue memilih bertanya dengan pendekatan negatif :D
Anyway,
apapun pilihan cara bertanyanya, misi anak seumur itu adalah menerima pujian.
Jadi pernah suatu kali gue bertanya sama nyokap: “jelek ya?” dan nyokap lagi ribet, beliau nyahut cuek “iya, jelek“
Itu beneran sedihnyaaaaaaaaaa minta ampuuun….
(sayang waktu itu belum ada istilah Garuk2 Aspal :p)
Tapi gara-gara itu gue dapet pelajaran berharga dari nyokap:
“Kalo kamu yakin gambar kamu bagus, ya gak usah nyari penegasan. Kalo kamu beneran minta pendapat orang, ya harus siap dengan ‘kejujuran’ pendapat itu dong”
Exact words-nya mungkin gak kaya gitu, tapi kurang lebih itu yang gue tangkep sampai saat ini. Orang yang butuh pengakuan dari orang lain adalah orang yang menyedihkan.
Buat gue komentar nyokap itu ternyata masih relevan sampai sekarang.
Apalagi kalo lagi iseng melototin timeline twitter.
Kadang suka cengar-cengir sendiri ngeliat orang2 yang lagi ngetweet sesuatu dengan maksud pamer--kalo orang Islam suka bilangnya Riya. (Makanya gw sering ngetweet “Riya Punya Selera” :D )
Atau yang lebih parah lagi malah ada yang sengaja ngereply tweet org pake RT-dengan tujuan sama: PAMER.
Ada yang reply dgn RT, pujian2 yang ditujukan ke dia.
Ada yang reply dgn RT, cuman krn mau nunjukin dia lagi di luar negeri.
Ada yang reply dgn RT, cuman krn mau nunjukin dia akrab dengan seseorang yang (dianggap) penting.
Gara-gara mereka, gw akhirnya memutuskan untuk ‘lebih memaafkan’ orang yang reply dengan RT karena menyangka RT itu singkatan dari Reply To—instead of Retweet.
Karena mereka memang ga tau.
Bukan berlaku kaya anak kecil...
SFX: *tak-dessss*
“Halah Seq, lo kan juga sering pake RT!”
Yah gue kan cuma orang biasa.
Kapolri & Jaksa Agung aja ama Presiden dibolehin khilaf, masa gue gak boleh….
SFX Closing: *trak-tak-tak-dessss*
---
Ku dibelikan boneka Simpson kesukaanku
ku dibelikan Hello Kitty kesayanganku
ku dibelikan Doraemon teman tidurku oye oye oye oye.
- Semua Dicium ~ 3 Anak Manis (1991)
Ruang Meeting Lt I Narrada dengan asbak berisi puntung penuh kaya rapat PKI
030910
RT. RT. RT dan TL. :)
10.26.2009
There He Goes

Di parkiran kampus IISIP, di dalam mobil, gue menangis santer sesenggrukan.
Hari Sabtu (17/10/09) tepat jam 15.00, sesaat gue menutup kuliah KKL sore itu, gue menerima kabar dari Astri, bahwa Lintang udah gak ada. Anak laki-laki yang gue tunggu-tunggu selama 9 bulan itu diambil sama Tuhan, sekitar 1-2 minggu sebelum waktunya dia lahir.
Begitu kontrasnya air mata gue saat itu, dibanding sebelumnya.
5 bulan sebelumnya, di tempat yang sama, di dalam mobil juga, gue nangis bahagia begitu denger bahwa jabang bayi di perut Astri, adalah laki-laki.
Setelah dikasih Naia yang sehat dan tumbuh mbanyol lima tahun ini, dikasih anak laki-laki, bener-bener bikin hidup gue lengkap.
“Tuhan baik banget ya sama gue…?”
Namun hari Sabtu (17/10/09) itu berbeda.
Gue cuman sempet ngetweet “YA ALLAH…” di Twitter.
Abis itu gue nangis seada-adanya.
Setelah tangis kesedihan reda, gue segera menyusul Astri ke RS.
Jadwal ngajar di kampus tiap hari Sabtu, memang bentrok dengan jadwal Astri kontrol ke dokter.
Itulah sebabnya di dua momen yang berbeda itu, gue gak ada di samping Astri.
Sepanjang perjalanan menuju RS, terngiang kekhawatiran Astri sebelum-sebelumnya.
Hari Kamis (15/10/09) sebenarnya Astri udah beberapa kali melontarkan kekhawatiran, karena Lintang sedikit “anteng”.
Dalam beberapa kesempatan lewat telpon maupun BBM, Astri bilang “adek kok diem aja ya…”.
Tapi kekhawatiran kita saat itu mulai sirna karena ternyata lewat maghrib, Lintang menendang-nendang perut bundanya dengan aktif.
Tapi mungkin itu gerakan aktif terakhir Lintang.
Karena besoknya di hari Jumat (16/10/09) seharian dia bener-bener diem.
Bahkan goyangan gempa Ujung Kulon yang terasa sampai Jakarta itu pun gak lagi mengusik dia.
Astri yang saat itu lagi company gathering di kantornya udah was-was, meski dia gak ikut lari-lari turun karena gempa.
Dia makin cemas karena setelah maghrib lewat, Lintang masih anteng.
Hari jumat itu gue syuting seharian dari pagi sampe tengah malem di daerah Pondok Cabe.
Waktu pulang sampe rumah lewat tengah malem, Astri kebangun.
Kalimat pertama yang dia ucapin “Adek masih gak gerak…aku khawatir”.
Meski gue mulai sedikit khawatir, tapi gue nenangin Astri, karena toh besok pagi (Sabtu 17/10/09) itu memang jadwal dia kontrol.
Dan selanjutnya itulah yang terjadi.
Astri periksa ke RS.
Gue ke kampus.
Denyut jantung Lintang tidak ditemukan.
Sabtu sore itu di RS, di tengah air mata dan kelinglungan, kita akhirnya mutusin untuk pulang ke rumah, menenangkan diri, dan mikirin tindakan apa yang harus diambil.
Dokter kita sedang keluar kota jadi kalo mau nunggu dia, Lintang baru bisa “dikeluarin” hari Selasa! Buset!
Akhirnya kita mutusin untuk ngeluarin Lintang dengan dokter pengganti aja besok pagi, yang penting buru-buru dikeluarin.
Sabtu malam itu Lintang masih di dalam perut Astri.
Itu terakhir kalinya dia “tidur” di rumah sama kita.
Kekalahan Liverpool 0-1 atas Sunderland malam itu bener-bener gak semenyedihkan biasanya.
Iyalah..
kita kan baru ditinggalin anak laki-laki kita…
Malam itu gue mulai ngeblast kabar lewat BBM, Status FB, dan Twitter.
Ucapan belasungkawa mulai mengalir.
Bahkan malam itu Iyo – Wina, Kang Awin , dan Syarif Gepeng, udah berkunjung ngucapin bela sungkawa.
Minggu pagi (18/10/09) jam 09.00 kita ke RS dan berangkat seperti layaknya pasangan mau ngelahirin anak normal.
Memang proses persalinan Lintang pun dilakukan secara normal, bukan dioperasi cesar.
Karena ternyata operasi cesar itu adalah tindakan yang dilakukan dengan dasar keselamatan jabang bayi.
Jadi saat bayi emang udah meninggal, buat apa operasi?
Karena meski dianggap prosedur yang udah biasa dan aman, yang namanya operasi --dengan sayatan dan anestesi, pasti tetep ada resikonya.
Ijoen, sahabat gue dari SD, juga pernah ngalamin kayak begini pas anak pertamanya.
Dia juga ngelahirin Fio (Alm) dengan persalinan normal tanpa operasi.
Ijoen adalah salah satu orang-orang pertama yang gue kabarin soal meninggalnya Lintang barengan sama keluarga gue.
Pagi itu sudah mulai mengalir teman-teman gue berkunjung ke RS.
Ada Ilya, Mike-Alex, Dinah, Eko, Atma, dan Mbak Dewi Meita.
Terus terang gue bingung menghadapi kunjungan teman-teman, karena ini situasional yang berbeda dengan saat punya anak (dan hidup).
Karena biasanya, teman-teman berkunjung setelah anak dilahirkan.
Sementara saat itu Astri baru mulai diinduksi ketika beberapa teman-teman menyusul muncul.
Mulai dari Bucin, Gepeng (again), Yoris-Debbie, Aci-bini (gw lupa nama bini lo Ci..maap! :p), Lala-Benyek, Monik-Donny, Richard Asisi, Yoelia, Tasya, Joe, Martinus, Dewwar, Acid, Nanish, Dewi PS, Mbak Arum-Kemal, Miss Emma- Miss Reygel, Ijoen-Is, Yuka-Eveline, Bisma, Evin-Ajo, Vira-Yul, Lady-Alex, Asca-Inul, Pak Lardi, Mas Incon-Mbak Thea dan ditutup Vella-Dimas terakhir di jam 10 malem.
Sepanjang kunjungan itu sebagian teman sempat masuk nemuin Astri di ruang persalinan—yang amazingly sosoknya kaya kamar opname: ada sofa, TV LCD, dll—sebagian lain cuman gue temuin di luar.
Ini karena emang sebenarnya kaya’ lazimnya orang ngelahirin, yang boleh masuk ke dalam, cuman keluarga.
Tapi mungkin karena situasionalnya dianggap beda, susternyapun akhirnya longgar, dan ngebiarin beberapa yg “nekat” masuk.
Tapi suster shift malam ternyata lebih ”galak” dibanding suster shift sebelumnya.
Ngeliat banyaknya tamu yg masuk, sementara Astri udah mulai mules-mules akibat induksi, suster tersebut akhirnya ngelarang.
“Nanti ibu kecapekan terima tamu, malah gak punya tenaga buat ngeden, pak..”
Make sense, sih.
Alhasil, Vella-Dimas kebagian gue temuin di luar.
Itupun akhirnya gue tinggal karena Astri nelpon dari dalem.
Dari sejak diinduksi jam 11 siang, kemudian bukaan dua di jam 5 sore--pas diobserve, kemudian ditambahin induksi lagi, kemudian pas diobserve jam 10 itu, ternyata air ketuban udah pecah dan Astri udah bukaan 8.
Kerempongan terjadi.
Di tengah siap-siap untuk mulai proses persalinan, gue nyempetin diri ngebales semua saudara-saudara yang minta diupdate current situation.
Ada yg lewat SMS ada yang lewat BBM.
Bayangin, tangan kanan diremas, BB di tangan kiri masih diketik2, plus sesekali ngajak Astri inhale-exhale.
Tapi akhirnya BB gue taroh, karena kayanya proses kali ini luar biasa sakitnya, melebihi waktu Naia lahir.
Astri yang gue kenal adalah Astri yang jarang ngeluh sakit kecuali bener-bener sakit.
Tapi kali ini dia teriak-teriak, bahkan sempat muntah karena gak kuat nahan sakitnya.
Dan kemudian, proses persalinan normalpun dimulai.
Dokter ditelpon.
Istri meregang nahan sakit.
Suami berdiri megang tangan istri-- coba kasih support.
Suster nyiapin peralatan.
Istri sesekali nanya ke suster, dokter udah dateng apa belom.
Suami sesekali nenangin istri.
Dan semua proses dan protokoler persalinan normalpun terjadi.
Kecuali,
Bayi itu keluar tanpa diikuti suara tangisnya…
Lintang “lahir” dengan “tenang”.
Dokter sempet berdiskusi sama gue soal penyebab meninggalnya, ketika dia baru “keluar setengah badan”.
Aliran makanan dan “napas” di tali pusatnya terhenti sekitar 1,5 jengkal dari pusar Lintang.
Diduga dia terlalu aktif sampe-sampe tali pusatnya “melintir” berlebihan dan memacetkan aliran makanan tadi.
Kemudian dia ditaroh di box.
Tangis gue nyaris meledak waktu ngeliat dia di box.
Tapi kemudian gue inget pesan Ijoen dan Is.
“Habiskan waktu bersama dia sebanyak2nya, dan foto dia. Kita berdua nyesel gak punya fotonya Fio…”
Dan guepun mulai memotret Lintang dari berbagai angle.
(I wish I could share the pic here, tapi gue sama Astri mutusin untuk nyimpen buat kita aja).
Bibir atasnya yang “njedir” nyaris gak beda dgn bibir gue.
Mungkin juga malah lebih sedikit, secara Astri juga punya bibir seperti itu.
Idungnya mbleber--tapi tulang hidungnya nggak pesek kaya Naia ☺
Dia tidur sangat nyenyak.
Entah apa yang terjadi, mulai detik itu tiba-tiba kesedihan gue hilang.
Nyaris gak bersisa.
Rencana makamin Lintang langsung setelah dia lahir, batal, karena ternyata lahirnya malem banget.
Gue malam itu butuh banget istirahat.
Capek fisik dan mental, jadi gue mutusin untuk tidur di rumah sakit
dan besok pagi (Senin 19/10/09) makaminnya.
Jenazah Lintang yang seharusnya dimasukin ke kamar jenazah, entah kenapa sama suster jaga malam itu dibolehin ditaroh di samping Astri tidur.
(besok paginya suster kepala rada sewot pas tau jenazah ada di dalem kamar :P)
Tapi itu sebuah blessing in disguise buat gue sama Astri, karena “dibolehin” menghabiskan malam itu bareng dia.
Senin pagi itu dijemput ipar, gue ngebawa jenazah Lintang ke rumah bokap-nyokap gue di Gandul buat dimandiin dan disholatin terus dimakamin.
Astri gak ikutan. Dia di rumah sakit meneruskan menerima tamu yang ngejenguk dia ☺.
Tepat sekitar 24 jam dari Astri diinduksi, dan 12 jam dari dia lahir dan meninggal, sekitar jam 11 siang, Lintang dimakamin.
Pemakaman dihadiri oleh keluarga dan temen-temen Narrada (kok kalian bisa ya nemu pemakaman itu! ☺ ) Rico, Mike, Anna, Nia, Ferry, Myrna, Okka, dan pak Kasino (nope dia bukan mertuanya Rico :p ).
Later-on, temen-temen Celsius dateng telat pas gue dah mau cabut: Elwin, Richard, Yenny, dan Mas Ugi.
Juga bareng sama mereka dateng Memen dan Thya (mewakili mantan models XD ).
Selama proses mandiin, nyholatin, sampe makamin, Naia keliatan “antusias” ngikutin.
Tapi gak ada air mata setetespun jatuh dari mata gue ataupun Naia.
Mungkin sekali lagi Tuhan baik sama gue.
Gue dikasih keikhlasan lebih cepat, supaya gue bisa mbantuin yang lain untuk struggle menuju keikhlasan.
Entah Astri, Naia, atau siapapun dari keluarga kami.
Lelintang Gerrardhya Adiasputro
(Bintang bernama Gerradhya, putra dari Adi dan Astri)
Dia udah duluan ke “tempatnya”…di langit atas sana.
Kata orang-orang,
dia bakal jadi “penunjuk jalan” buat kedua orangtuanya suatu hari nanti..
..ketika kedua orangtuanya menyusul ke sana…
Amin.
* Dedicated to Lintang, Naia, dan Astri; Love you so much!
Terima kasih buat semua yang udah menyempatkan diri mengucapkan bela sungkawa baik lewat FB, YM, BBM, Voice, SMS, dateng langsung, maupun yang ngedoain dari jauh. Maaf kami gak bisa bales satu persatu. Cuman doain aja semoga kalian semua diganjar berkah berlipat-lipat dari Allah SWT.
Amin.
---
Would you hold my hand
if I saw you in heaven?
Would you help me stand
if I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day
'Cause I know I just can't stay here in heaven...- Tears in Heaven ~ Eric Clapton (1992)
Ruang Kuning Lt II Narrada dengan dinding bertempelkan gambar2 karya Naia
261009
Hiks. Sniff. Smile :)
8.08.2008
Syukurin Lo!

Almarhum mertua tiri gue (buset susah banget ya nyebutnya ☺) punya line yang lucu kalo ada orang mengeluh ke dia.
Misalnya ada yang ngeluh:
“Aduh pusing banget kepalaku…”
Dia pasti akan menjawab:
“Beruntunglah. Berarti kamu masih punya kepala…”
Agak nyebelin emang.
Namanya juga orang berkeluh kesah, tentu tujuannya either pengen didengerin atau diberi empati-- bagus-bagus kalo dikasihnya solusi.
Bayangin kan kalo lo abis nyerempetin mobil kesayangan lo.
Terus lo digituin:
“Beruntung, berarti kamu masih punya mobil”
Tapi jangan salah.
Sebenernya maksud beliau cukup simpel kok.
Filosofi orang Jawa, yang selalu “untung”.
“shit happens di kehidupan. Tapi jangan lupa bersyukur”
Coba bayangin itu dilontarkan pas elo lagi ngedumel soal klien ngehe.
Atau elo lagi ngedumel soal makanan kurang enak yang lo makan.
Yap.
Kadang itu yang terjadi di kehidupan sehari-hari kita.
Padahal masih banyak orang di sekitar kita yang gak seberuntung kita bisa punya pekerjaan dan makan 3x sehari.
Tapi apa iya kita harus mensyukuri karena punya Paskah Suzetta, MS Kaban, Burhanuddin Abdullah, Hamka Yandhu yang kekocrotan aliran dana yayasan BI?
Tapi apa iya kita harus mensyukuri punya Syamsul Nursalim, Artalitha Suryani, Untung Udji Santoso, Urip Tri Gunawan, dan Wisnu Subrata di kasus penyuapan jaksa?
Tapi apa iya kita harus mensyukuri karena punya seorang selebriti mutilator bernama Ryan?
Tapi apa iya kita harus mensyukuri punya ketua PSSI yang terpidana, gak mau turun dan bikin PSSI mau dibekuin FIFA, dan nekat bikin Liga Super Indonesia yang memang makin SUPER amburadulnya?
Tapi apa iya kita harus mensyukuri punya pimpinan negara yang gampang bimbang kalo suruh ngambil keputusan sulit kayak kasus Ahmadiyah atau Pilkada Gubernur Malut?
Mungkin memang buat kita yang bodoh ini lebih gampang mensyukuri hal-hal yang jelas-jelas positif. Tapi paling tidak gue mulai belajar untuk bisa mensyukuri kejadian yang kurang menyenangkan.
Contohnya, saat gue mengeluh gak sempet2 nulis di blog sampe 5 bulan.
Dan seseorang bilang:
“Beruntunglah. Berarti kamu masih punya kesibukan lain”
Kesibukan yang menghasilkan 5 gold dan gelar The Most Creative Agency Pinasthika 2008….
(Anak2: “PONGAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!”)
(Sesek: “Bodooooooooooooo!!!! =ppppp)
---
I've taken my bows
And my curtain calls
You've brought me fame and fortune
And everything that goes with it
I thank you all
- We Are The Champions ~ Queen (1977)
---
WRAPPED
Season 5
WRAPPED
Season 5
WRAPPED
Season 5
WRAPPED
Season 3
WRAPPED
Season 1 Episode 13
Ruang Meeting Lt I Narrada yang gara2 Mike berubah jadi warnet!
080808
Go(ld)! Go(ld)! Go(ld)!
3.19.2008
An Apple

Pasti pernah denger dong quote: An Apple a Day, Keep Doctors Away
Gue gak tau siapa yang pertama mencetuskan. (Steve Jobs? Nah, I doubt it)
Tapi konon memang apel punya banyak khasiat kalo dikonsumsi dengan rutin dalam takaran yang pas.
Pada dasarnya memang banyak makanan yang berkhasiat kalo dikonsumsi rutin dengan takaran yang pas.
Konon wine pun begitu.
Tempe juga.
Di luar makanan, banyak hal juga yang seharusnya “berkhasiat” kalo “dikonsumsi” rutin dengan takaran yang pas.
Belajar. Main. Dugem.
Tidur. Kerja. Ngewe.
Istirahat. Main Fantasy Football.
Main Futsal. Nonton TV. Baca Koran.
Main Game. Fitness. Chatting.
Pijet. Main Internet.
Nonton Bokep. Baca buku. Nulis Blog.
Semua.
Problemnya, setiap orang punya kecenderungan “keseret” ke salah satu dengan porsi yang berlebihan dibanding yang lain.
Yang doyan dugem, dugeeeeem terus.
Yang doyan chatting, chattinnnnnng terus.
Yang korupsi, dipol-polin korupsinya.
Yang jalan kotanya rusak, dibablasiiiinnn terus rusaknya.
Yang kelelep lumpur dilelepiiiiinnn terus.
Yang dipenjara ngotot mimpiiiiiiinnnn PSSI teruss.
Yang naik harga, naiiiiiikkkkkk terus.
Yang ngelindungin bangsat BLBI, ngelindungin gak ada matinyeee.
Makanya ada konsep yin-yang.
Ada konsep keseimbangan semesta.
Ada balancing dan spooring kalo di mobil.
Balik ke masalah apel.
Dah sebulanan ini gue ma Astri sok-sokan sarapan apel doang tiap hari.
Bener sih, maag kambuhan gue berkurang.
Badanpun agak2 fit gak lemes.
Entah beneran, sugesti, atau gara2 skrg juga rutin futsal??? Hehehe..
Terakhir belanja di Giant Poins Square (Mal keluarga Sesek, kalo kata orang2 :P ), Astri ngambil 12 biji apel impor cina yang emang enak.
Pas ditimbang…“Pa, buset…total 62 ribu!!!”
Gue mikir sejenak, “anjrot sebijinya goceng lebih!!”
Tiba-tiba kayak di film Donald Bebek, di sisi kiri kepala gue muncul iblis mungil berkarakter Sesek bilang :
“Sekk…2 biji itu sama dengan sebungkus Dji Sam Soe 16!”
Dan tiba-tiba muncul di kanan kepala gue sesosok malaikat mungil berkarakter Sesek juga, mbisikin lembut:
“Coba lo inget udah berapa duit yang lo habiskan buat hal-hal yang ngerusak badan lo? Saatnya berkorban dikit buat kesehatan badan lo kali, Sekkkk…”
Puff!
Si Iblis menghilang, dan malaikat berjaya.
Dan gue berjalan ke kasir dengan gagah bak koboi menuju matahari terbenam.
Penuh kemenangan...
“Im a poor lonesome cowboy…and long long way from home…”
- Lucky Luke (since 1957)
Ruang kuning Narrada dekat mesin absen.
190308
Here. There. Everywhere.
2.23.2008
Tersita

Pernah gak sih ngalamin suatu saat di mana elo tiba-tiba seperti harus tarik nafas sejenak, noleh ke belakang, dan tiba-tiba sadar begitu banyak hal di belakang yang lo lewatin begitu aja tanpa sempat lo cermatin?
Yep.
Kalo gue bawa mobil, sering banget itu kejadian.
Biasanya kalo pikiran gue lagi ke mana-mana.
Tiba-tiba aja blank dan…
"anjrit! Kok gue dah sampe rumah aja!?? Tadi lewat mana ya???"
Malah Shanti –temen baik sekaligus "saudara kembar" gue—pernah cerita, dia sering banget baru kelar mandi dan lagi andukan, …dan tauk-tauk:
"eh gue dah sabunan blom ya barusan?" =))
Di kasus Shanti ini si emang agak berbau tolol dan "fak yu tu" sih, tapi gue yakin masalah utamanya bukan itu.
Tapi masalah ketersitaan.
Ya.
Saat2 kayak gitu biasanya Mind, Body, dan Soul kita lagi tersita.
Jadi yang ada cuma gerak refleks dan otomatis ngejalanin sebuah aktivitas.
Ada yang tersita karena kerjaan, ada yang tersita masalah rumah tangga, ada yang karena putus sama pacar, ada yang masalah keuangan, atau malah kombinasi dari itu semua.
Macem-macemlah.
Tapi biasanya ada satu titik di mana kita "bangun" dan sadar bahwa kita udah sampe situ dan coba nginget-nginget lagi apa yang barusan kita lewatin. Dan biasanya titik itu adalah menjelang kita sampai di tujuan akhir sebuah aktivitas.
Kayak dalam 2 contoh kasus di atas, ya pas gue mau sampe rumah atau pas Shanti mau kelar mandi.
Tujuan akhir.
Mungkin itulah makanya banyak orang di jaman sekarang yang gak pernah "bangun", karena mungkin mereka lupa apa tujuan akhir saat mereka memulai sebuah hal.
Dan hari ini kejadian itu juga menimpa gue.
Tauk-tauk gue udah di sebuah titik di mana banyak kejadian yang udah gue lewatin tanpa sadar.
Ngelewatin 3 bulan lebih gak ngisi blog.
Ngelewatin pergantian tahun dari balik jendela kamar.
Ngelewatin begitu aja transformasi gue dari warga Guntur jadi orang Hang Tuah
Ngelewatin trio 'polisi' mengguncang Singapura.
Ngelewatin sebuah anniversary bertombak tajam.
Ngelewatin resignation Anto sopir setia gue selama 3 tahun lebih.
Ngelewatin momen di mana Ijoen --sahabat gue dari SD-- kehilangan nyokapnya (yang tenang di sana ya, Tante…)
Ngelewatin hari kasih sayang di sebuah pantry kosong. (Valentine??? Jijay lo, 'Sek!)
Ngelewatin hari di mana mbak Yek, kakak gue masuk RS karena preeclempsia.
..dan entah apa lagi yang gue lewatin.
Mungkin karena gue tersita oleh Fantasy Football, Produgen, atau amild.com.
Mungkin "shabu", "candu", atau "kupu-kupu"
Mungkin Boston Legal, Harley Davidson, atau Mercy Tiger.
Mungkin Lokananta atau Vietopia.
Mungkin Ochay, Yuka, dan Maesa..atau mungkin malah Cinta Laura?
Entahlah.
Tapi apapun itu yang menyita gue.
Gue beruntung masih punya tujuan akhir yang rajin "mbangunin" gue, utk kemudian
nginget-inget lagi apa yang udah gue lewatin.
Sebuah tujuan akhir bernama Naia…
Time seemed to pass me by
I found myself alone wondering why
You came into my life
And gave your love to me
- Stryper ~ I Believe in You (1988)
Hotel Tiara-Medan, R 109 dengan TV kecil bersiaran Arsenal-Milan dan Lyon-ManU
210208.0417
Mwah. Mwuah. Muah.
11.13.2007
Hargaku Harganya

Pertama kali denger ada taneman harganya puluhan bahkan ratusan juta komentar gue adalah:
“BUSET DAH! Emang tuh taneman berbuah mobil, apa gimana siyh !!!???”
Masalahnya kalo itu taneman langka kayak Rafflesia yg cuman tinggal beberapa biji di dunia sih, masih masuk di akal gue.
Tapi ini enggak.
Bwanyakkkk bangettt!
Mending bagus lagi bentuknya. >:-(
Yap.
Yang gue omongin memang sang ANTHURIUM yg sekarang ini emang lagi jadi buah bibir.
Setelah era kejayaan Aglonema dan Addenium, taneman ini tiba-tiba jadi primadona baru. Bahkan —konon (mau dibalik terserah, Dik! ;P )—ada yang tembus di harga 1 M!
Gak kurang Kompas di dua edisi Minggunya berturut2 ngeliput khusus soal Anthurium.
Tiba-tiba majalah-majalah khusus taneman bermunculan.
Tiba-tiba majalah Trubus diburu bak majalah Playboy!
Tiba-tiba TOKET Andhara Early kalah seksi dibanding TONGKOL Jemanii Anthurium.
Tiba-tiba KISAH CINTA Maia Ahmad (iye iye sekarang namanya Maya Estianty!) kalah seru sama GELOMBANG CINTA Anthurium.
(FYI: Jemanii & Gelombang Cinta adalah salah dua dari sekian nama jenis Anthurium yang populer)
Jenis maling terpopulerpun berubah: Maling Taneman!
Udah gak jaman lagi CURANMOR, yang ngetrend sekarang CURHATAN (Pencurian Hasil Tanaman—halah!)
Semua gara-gara Anthurium!
Tapi ngomongin soal harga gila-gilaan di sebuah hal yang sifatnya hobby sebenernya bukan barang baru.
Burung Bekisar, ikan Arwana, pernah mengalami era keemasan jadi primadona yang diuber-uber.
Membandingkan harga sebuah taneman atau hewan yang harganya sebanding dengan mercedes keluaran terbaru, memang nyaris gak masuk di akal gue.
Tapi seorang temen gue tiba-tiba protes:
“Yah gak usah heran dong, Sek. Mobil kan bikinan manusia! Sementara taneman dan hewan kan ciptaan Tuhan….”
Monyet.
Bener juga ya…
Seduniawi itu kah pola pikir gue?
Sehingga memberhalakan barang dan menganggap barang harusnya lebih mahal daripada makhluk hidup.
Eits…
Jangan salahin gue dong.
Salahin sekitar gue juga yang ngebentuk pola pikir gue.
Kemaren nonton TV ada bayi dijual cuman seharga 15 juta . Mobil bekas tahun 90-an aja harganya masih 2x lipetnya kaleeee.
Nyawa orang dewasa cuman dihargain lima ribu perak. Rebutan duit segitu, ampe bacok2an? Banyak beneuuurrrr kasusnya!!
Belum lagi ngomong “nyawa” ratusan keluarga yang dihargai nol rupiah sama Lapindo.
Atau nyawa orang-orang tua dan miskin yang melayang gara-gara keinjek2 pas antri bantuan langsung tunai alias BLT (ngomong-ngomong apa kabar nih BLT ya? BBM gak turun tapi BLT nya kok lenyap??? Katanya dulu pengalihan subsidi BBM!!!!??)
Tapi temen gue juga langsung motong:
“Ah gak usah belaga bego deh lo…. sok pola pikirnya dipola jadi lebih menghargai barang segala! Buktinya elo minta gaji lo naik mulu….Harga seorang Sesek kan harga sebuah makhluk hidup bukan?”
Monyet.
---
Dibuai mimpi-mimpi
menggoda mereka
jangankan cari surga dunia
neraka duniapun ada
- Lenggang Lenggok Jakarta ~ A. Meriem Matalatta (1986)
---
WRAPPED
Episode 9 Season 3
Meja Adwork yang makin panas tapi gak boleh pergi.
131107
go. go. go.
10.24.2007
Hati-Hati di Jaman Sekarang

Beberapa bulan belakangan ada satu kalimat yang paling disebelin sama temen-temen kreatif yang kerja bareng gue.
“Udahlahh… gak usah pake hati!”
Ya, memang untuk klien-klien tertentu, gue udah netapin policy itu.
Kerjain aja yang diminta dan dibutuhkan by request.
Karena khusus klien tertentu itu, udah sering kejadian, kalo pake hati malah bikin frustrasi dan ngerusak mood.
Detailnya gak perlu lah ya.
Selain karena capek ngingetnya, juga karena ini satu hal yang gak bisa diceritain.
Tapi bisanya dirasain…
Nah itulah,
Karena males ngerasaian makanya policy yg gue berlakukan adalah “gak usah pake hati”.
Nyatanya emang sebuah hal yang ngeselin dan berlaku terus menerus dalam jangka waktu panjang, sering bikin kita mati rasa.
Protes udah males.
Kesel juga udah enggak.
Mati rasa aja.
Gak ada hati yang perlu dilibatin.
Kayak kebanyakan orang Jakarta aja.
Udah gak pake hati kalo ngadepin kemacetan.
Ditambahin macet sama pembangunan busway, juga dah biasa aja.
Diamprokin mobil-mobil muntahan tol JORR yg naik tarif, juga diem aja.
Ada sih yg mau class action tapi toh skrg udah adem ayem…
Dikasih lengang seminggu trus dijubelin lagi, juga cuman ngomel-ngomel kecil…
Kayak kebanyakan orang Indonesia aja.
Disodorin berita anggota KY terima suap, cuma cengengesan aja.
Ketua MA pengen memperpanjang sendiri umur pensiunnya, cuek aja.
Calon anggota KPU dinyatain sebagai tersangka, bodo amat.
Ketua PSSI nya adalah terpidana 2 kali, tetep aja pada mbudeg.
Tapi yang lebih bahaya sebenernya adalah, kalo ini juga berlaku buat HAL BAIK yang berlaku terus menerus dalam jangka waktu panjang.
Kayak misalnya yang terjadi sama gue.
Ketika awal puasa lalu gue ultah yang ke 35 (nih liat neh gue jujur kali ini!!!! :p )
Udah gak ada lagi excitement kayak waktu dulu ultah belasan tahun.
Meski tetep ada lah sparkle2 dikiiiiit.
Tapi ya tetep aja, beda.
Padahal harusnya justru makin seneng ya masih dikasih nikmati ultah ke sekian!?
Atau yang terjadi sama teman-teman muslim pas puasa & lebaran
Gak makan minum sebulan udah jadi rutinitas biasa tanpa hati.
Minta maaf udah otomatis meluncur dari mulut--sekarang malah dari jari
Kadang berasa cuman jadi kewajiban.
Sebuah rutinitas.
Protokoler.
Ritual.
(iya, Dhan…ini istilah lo gue pinjem!)
Betul.
Di jaman sekarang, emang hati itu udah kayak alat aja.
Mau dibawa dan dipake atau enggak, terserah aja.
HP aja kayaknya lebih penting.
Coba kita sehari ketinggalan HP….belingsatan kayak lupa pake celana dalem kan?
(Maaf pertanyaan ini cuma buat orang normal yang sehari-hari pake celana dalam yaaaa…!!! Para pervert gak usah ikutan jawab!)
Kalo ketinggalan hati?
“Masssss!!! Masssss!!!! Hatinya ketinggalan tuhhh!!!!!!”
“Oh..iya ya? Ah…biarin deh, dah jarang saya pake kok…”
---
Don't grab
Don't clutch
Don't hope for too much
Don't breathe
Don't achieve
Or grieve without leave
- Numb ~ U2 (1993)
"Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin ya teman-teman.
Pake hatinya ya, karena gue juga pake hati waktu ngucapin ini."
---
WRAPPED
All Season 3
WRAPPED
Episode 3 Season 3
WRAPPED
Episode 4 Season 3
Meja Adwork yang kalo didudukin bikin pusing.
241007
Maap. Mangap. Maap.
8.22.2007
Fak Yu Tu*

Malem itu Gue dan Lina sampe di Casa Kemang jam 10-an.
Di sana Ochay, Eming, Apit, Ai, dan Tari --sang empunya hajat-- udah di sana dengan muka gak sabar.
“Lama banget sih loooo???”
“Macet kaleeeeeee, menjelang long weekend!!”
Iya.
Malem itu hari terakhir menjelang long weekend, karena besoknya tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaaan. Merdeka dalam arti “sebenernya” karena hari libur nasional pas jatoh hari Jumat pula. Merdeka dari kantor selama 3 hari berturut-turut (malahan gue 5 hari berturut-turut karena senin dan selasanya cuti.. he …he…he…)
Malem itu, Tari emang punya hajat ngumpulin anak-anak sebelum dia kelar liburan dan balik lagi ke KL. Tari akhirnya sukses ngumpulin segitu orang, plus Shanti, Gita, dan Yuka yang muncul belakangan. Meski akhirnya dia kurang sukses ngumpulin Tanti—suaminya--yang lebih milih tetep kerja di KL drpd ketemu temen-temen kecilnya. Sama kayak Maesa yang milih tetep di Surabaya ( HUH! Awas lo Tan! Awas lo Sa!).
Topik malam itu adalah umur.
Seperti biasa, orang-orang Mid 30 kumpul2, ujung-ujungnya pasti krisis usia.
“Jo..lo inget gak jaman dulu kita ke Ori atau Musro suka geli ngeliat oom-oom dan tante-tante nongkrong di bar?”
“Iye kenapa?”
“Nah itulah kita sekarang di mata mereka-mereka ini…”
Omongan Ai membuat kita semua ketawa.
Entah ketawa trenyuh atau ketawa beneran.
Kemudian kita makin ketawa pas di belakang kita ada seorang anak muda pake kemeja kotak2 yang dikancing sampe atas dan potongan rambutnya berbentuk poni.
Insting mencela kami yang sudah terlatih bersama dari sejak kecil udah siap untuk mengeluarkan celaan dari mulut masing-masing. Tapi belum sempet keluar celaan itu, Ochay memotong duluan.
“Eh..jangan salah lo! Sekarang itu trendnya emang Geek dan Nerd kayak begini. Yang kayak begini ini yang gaul justruuu!!”
Ai yang denger penjelasan Ochay ala Fashion Police itu, penasaran,
“Maksud lo, Chay…kalo gue dandan kayak doski itu, gue bakal digauli sama cewek2??”
Gue langsung memotong.
“Ai…kalo dia dandan begitu emang gaul, nah kalo elooooo… statusnya jadi oom2 culunnnn!!! Sutra lahhhh! Oom-oom aja dah cukup lahhhh!!!”
“Monyetttttt!!!!”
Dan dialog-dialog semacam itulah.
Termasuk pas kita mau pulang.
Shanti dan Gita yang dateng belakangan pengen lanjut ke tempat lain. Disko tepatnya.
Sementara “kaum uzur” rata2 dah pengen pulang.
Apit dilematis.
Gue nyahut,
“Sudahlah, ‘Pit…kalopun lo masih punya energi untuk ke disko, emang lo masih update sama gaya anak sekarang!!??”
Anak-anak ngakak semua.
“Alahhh…gampang…kita merhatiin bentar juga langsung bisa gaya mereka. Luwes pasti!!”
“Yahhh itu kan menurut lo, ‘Pit!!! Menurut2 ABG-ABG2 itu sih begini: IH OOM-OOM INI SOK NIRUIN KITA TAPI KAKU YAAAA!!”
“Bwahahahahahahahahahahahahahahahahahaha!!”
Apit menyerah dan memilih pulang.
Ai dan Eming yang nebeng jadi keseret2 pulang juga.
Gue juga.
Lina juga.
Tari apalagi.
Yuka malah udah duluan.
Ochay gak jelas.
Di perjalanan pulang setengah tipsy dan terkantuk-kantuk, pikiran gue tiba-tiba keinget sama campaign nasionalismeku, yang gue dan teman-teman bikin buat 17 Agustus KOMPAS - Lintas Generasi.
Memang.
Ternyata semangat antara generasi yang berbeda itu sama.
Cuman bentuknya aja yang beda.
Atau dalam kasus kami:
Yang (sok) muda semangat main di luar.
Yang tua semangat main di rumah.
=)
Selamat bertambah usia, negeriku tercinta…..
* FAKtor Usia TUa
Days are numbers
Count the stars
We can only go so far
One day, you'll know where you are
- Alan Parsons Project ~ Days Are Numbers (1984)
-----
WRAPPED
Disc 2 Season 3
WRAPPED
All Season 3
WRAPPED
All Season 3
Meja Adwork yang baru disambangi anak kuliahan.
220807
Satu. Dua. Tigakah?
7.25.2007
Euphoria Senayan

“Plaza Senayan Memerah!”
Mungkin itu yang jadi headline di Kompas kalo gue jadi wartawannya.
Hari itu tim “TKI” Indonesia bertarung lawan tim “Majikan” Arab Saudi di ajang Piala Asia 2007. Di jalan menuju Gelora BK, temen gue dah kasih statement:
“Seri aja udah ajaib”
Semua tahu hasil akhir hari itu.
Timnas kita kalah TRAGIS dengan skor 1-2, lewat gol menit ke 3 dari 4 menit injury time babak kedua.
Tragis karena timnas asuhan Kolev maen bagus.
Tragis karena satu menit lagi timnas bisa dapet 1 poin dan memimpin grup D (yang isinya macan Asia semua: Korsel, Arab Saudi dan Bahrain!!—note: Korsel dan Arab Saudi langganan Piala Dunia dan Bahrain adalah juara Piala Teluk)
Tragis karena itu terjadi di depan 80 ribuan supporter Indonesia.
Ya.
80 ribuan supporter.
Lintas generasi, gender, dan kelas sosial.
Malam itu ribuan di antaranya memarkir mobil-mobil bagusnya di parkiran PS (termasuk gue dan teman-teman—yang mobilnya gak bagus2 amat :p ), Hotel Century, Hotel Hilton, Hotel Mulia dan tempat-tempat “kelas urban” lainnya di sekitaran Senayan.
Gak pernah terjadi sebelumnya.
Terakhir nonton di Gelora BK adalah semifinal 1st leg Piala Asean 2004 (saat itu namanya masih Piala Tiger) lawan Malaysia—dan kita kalah 1-2 pula! (meskipun akhirnya kita lolos ke final krn di 2nd leg di Malaysia, Boaz Sollossa dkk membantai mereka 4-1 dan akhirnya antiklimaks karena kalah lawan Singapura di final—gue lupa skornya berapa)
Saat itu bisa dihitung jarilah yang parkir di PS.
Stadion sih cukup penuh.
Tapi rasanya ketebaklah komposisi kelas sosial, generasi dan gendernya.
Kembali ke partai Indonesia-Arab.
Hari itu gue ngeliat pasangan suami-istri bawa 2 anaknya yang kurang lebih berumur 5-7 tahunan.
Hari itu gue ngeliat ada pasangan muda, yang ceweknya memakai sepatu hak tinggi. (sumpah mampus!)
Hari itu gue ngeliat scoring board menunjukkan 1-2 di akhir pertandingan, tapi penonton masih berdiri tegak, bertepuk tangan, sambil meneriakkan “Indonesia”
Hari itu gue ngeliat sebuah euphoria total!
Konon kejadian itu berulang di partai hidup mati grup D lawan Korsel, yang gak bisa gue tonton langsung karena kick off jam 17.20 dan akhirnya “cuma” gue tonton di TV kantor. Tapi euphoria yang sama pun berasa di sini.
Perempuan-perempuan kantor yang biasanya tertarik bola cuma karena David Beckham dan muka-muka ganteng lainnya, tiba-tiba ikut mengerumun di TV kantor. Ada sih yang tetep cuek, tapi tetep sesekali lewat dan nanya:
“kalah ya?”
(Pertanyaan klasik kalo timnas bermain)
SMS-SMS komentar masuk ke HP gue-- tetep sih dr “gank bola”-- tp sesekali muncul dari kakak gue cewek dan beberapa orang yang gak pernah ngebahas bola sama gue.
Gue dapet kabar malah beberapa kantor mulangin karyawannya supaya bisa pada ke Gelora. Malah ada Dirut BUMN yang beli puluhan tiket VIP buat dibagi ke karyawan (dan karyawati!) nya yang mau ndukung langsung.
Semua orang tiba-tiba jadi ngebahas timnas Indonesia.
Semua orang tiba-tiba merasa bangga karena nonton langsung ke Senayan.
(termasuk Bucin ! :p )
Semua orang tiba-tiba pengen jadi bagian dari euphoria itu.
Ingatan gue tiba-tiba melayang ke masa 1998.
Gue dan temen gue anak-anak PL meski sebagian masih mahasiswa tapi kita nginep di DPR/MPR bukan atas nama jaket kampus. Kita di sana atas nama LSM Suara Ibu Peduli (nyokap gue sempet khawatir dengan keselamatan gue dan melontarkan pernyataan kocak: “Ikut suara IBU PEDULI tapi kok gak PEDULI sama perasaan IBUnya sendiri!” :P )
Di sana kita mbantuin temen-temen mahasiswa dengan supply makanan, perlengkapan mandi, perlengkapan tidur dan keperluan2 lain yang mereka butuhkan. Kita ikut “nemenin”lari-larian dan siaga merah waktu beredar isu Kopassus dipimpin langsung Prabowo sedang menuju ke situ dan bermaksud men-Tiananmen-kan mahasiswa.
Akhirnya kita semua tahu. Soeharto mengundurkan diri.
Tiba-tiba saja euphoria menyeruak di DPR/MPR (masih di senayan juga kan ya?),
Gue yang saat itu lagi pulang ke rumah untuk mandi (dan menentramkan hati nyokap :P) langsung kemudian balik lagi ke DPR/MPR. Gue ditemenin sama Sarah (yang sekarang jadi bininya Art Director paling ganteng seadvertising – Diki :p ) yang juga mau ikutan liat situasi DPR/MPR.
Tapi apa yang terjadi?
Gue dan Sarah nyaris gak bisa masuk lagi ketemu temen-temen gue.
Karena ternyata satu Jakarta tiba-tiba pengen dateng ke MPR / DPR.
Karena tiba-tiba satu Jakarta pengen nyumbang nasi bungkus.
Karena tiba-tiba satu Jakarta pengen ambil bagian dari euphoria.
Kami yang tadinya suka kehabisan supply makanan tiba-tiba harus mencari ruangan khusus untuk menampung nasi bungkus yang menggunung karena oversupply dari orang-orang. Nasi yang harusnya disimpan dan dikeluarkan secara first in first out, akhirnya sebagian sampai busuk karena manajemen penyimpanan kita yang kurang jago. Alhasil kita harus menyortir gunungan nasi bungkus, yang mana yang busuk dan mana yang layak dimakan.
Temen gue, Ochay dan Maesa yang ikutan nyortir nasi bungkus “cuman sanggup” sampai belasan bungkus.
“busuk…enggak…enggak…busuk…enggak..busuk…mmm busuk…enggak…eh…enggak apa busuk ya…mmmbusuk kali…enggak…mungkin…joooo idung gue dah mulai rancu gak bisa bedainnnnnnn!!”
:))
Ngeliat dua fenomena itu tiba-tiba gue sadar, bahwa kita orang Indonesia sebenarnya bisa bersatu ketika kita punya satu tujuan yang sama.
Sebuah modal besar untuk menjadi lebih baik.
Nggak peduli gender, nggak peduli kelas sosial, nggak peduli generasi.
Belajar dari Senayan 1998, masalahnya cuman satu.
Gimana ngejaganya supaya gak jadi euphoria sesaat…
*dedicated to Indonesia yang bentar lagi ulangtahun ke 62
ayo ayo ayo…ayo Indonesia…
kuingin…
kita harus menang…
- Suporter Indonesia ~ Ayo Indonesia (2007)
-----
WRAPPED
All Season 3

WRAPPED
Disc 3 Season 3
Meja Adwork yang klibcanya gak nambah2 saldo.
250707
Ayo.Ayo.Kapan?
7.09.2007
Anak Kecil vs Orang Dewasa

Apa bedanya anak kecil sama orang dewasa?
“Orang dewasa bisa BIKIN anak kecil, anak kecil gak bisa bikin orang dewasa!”
Yak! Pinter…
…untuk ukuran dunia Vivid Interactive!!!!
Tenyom!
“Gak ada bedanya! Udah dewasa, maupun pas masih jadi anak kecil, sama-sama doyan nenen!!”
Jooooooo…!
Ini gak ada yg lain kecuali lulusan Asia Carrera High School, apa gimana sehhhhhh?????
Ampun dah!
Mmmmm….Betul gak sih kalo jawabannya: Orang dewasa tau maunya apa, kalo anak kecil enggak?
Ada betulnya.
Apalagi beberapa minggu belakangan ini, Naia lagi ngalamin masa “Tantrum”.
Gak jelas banget maunya apa.
“Serangan” Tantrum datang biasanya saat menjelang tidur dan ngantuk.
Semua salah.
Digendong salah.
Dipangku salah.
Dipeluk salah.
Dicuekin lebih salah lagi.
Gelas plastik melayang, gue diusir suruh kerja (joooo, jam 12 malem suruh balik kantor!!?? –yes, dia jam segitu blom tidur…yes, gue dah jarang lembur ampe jam 12 di kantor =) ), teriakan menggelegar, tangan melayang (tangannya Naia lhooo), plak!
Tapi ada salahnya juga.
Kata siapa orang dewasa tau maunya apa?
Gak usah jauh-jauhlah contohnya kita sendiri aja.
(Kita??? Lo kali Sekkkkk!! –Anak2)
Udah tauk deadline kerjaan mepet, masih nunda kerjaan buat ngisi blog atau YM-an.
“Kan gue multi-tasking!!
Udah tauk ada orang suka ngecepret dan suka ngeles di milis, masih aja diajak berdebat gak penting.
“Tapi kan serrrrrrruuuuuuu!”
Udah tauk jarang olahraga, masih aja begadang sambil ngerokok!
“Tapi kan rajin minum vitamin sama pijet refleksi!”
Udah tau ada rambu verboden, masih aja diterabas.
“Tapi kan gak ada mobil dari sana”
Udah tauk umur dah gak muda, masih aja ngejomblo dan doyan begajulan.
“Tapi emang ada aturannya umur berapa boleh jomblo dan begajulan?”
Ya.
Ternyata itu bedanya anak kecil sama orang dewasa.
Anak kecil tauk maunya apa, cuma mereka kadang gak tahu gimana nyampaiinnya.
Sementara orang dewasa tauk maunya apa, cuma mereka kadang gak tahu alasannya kenapa mereka mau ngelakuin itu.
Ya.
Mungkin karena orang dewasa MERASA punya semua jawaban dalam hidupnya.
Meskipun sebenernya ENGGAK……
*inspired by Naia, Ruri, dan semua orang dewasa di sekitar gue, termasuk gue sendiri.
Mengapa…
aku begini…
Jangan kau…
mempertanyakan...
- Naif ~ Posessif (2000)
-----
WRAPPED
Disc 3 Season 3

Meja Adwork lt II penuh Kompas bekas.
070707
On. Off. On.
6.12.2007
Siap
Seorang teman ngomentarin keparnoan gue gara-gara ngeliat di berita tentang anak umur 6 tahun yang jatoh 4 lantai ke bawah di ITC Mega Grosir—ada rekaman CCTV-nya pula!!
Kata temen gue:
“Semua orang harus udah siap ngadepin kematian dirinya maupun kematian keluarganya, toh someday semua orang pasti ngadepin itu. Itu juga yang gue ajarkan ke anak2 gue dari sekarang, kalo-kalo someday mereka harus kehilangan gue”
Exact wordsnya yang temen gue omongin, gue lupa sih, tapi kira2 “something like that” lah. (Frasa andalan para copywriter tuh…something like that! He he he)
Salut banget.
Boro-boro ngajarin orang lain, nyiapin diri aja kadang-kadang gue sulit.
Boro-boro nyiapin soal kematian, soal yang lebih remeh aja kadang gue gak sanggup.
Di minggu yang sama, seorang sahabat gue baru kehilangan Bapaknya.
Beliau terserang stroke, dan dalam dua minggu kondisinya terus ngedrop dan akhirnya meninggal. Padahal sebelum-sebelumnya beliau sehat-sehat aja.
“Kaget juga sih, Sek”
“Iyalah, Win…mana ada sih orang yang siap ngadepin kayak begini…”
Betul, saat ngucapin itu gue gak mikir apa-apa, kecuali memang berniat membesarkan hati seorang sobat.
Tapi abis itu gue mikir juga, terus kapan ya orang itu bisa siap?
Siap untuk kejadian apapun, lho ya…bukan cuman kematian.
(Tapi emang biasanya orang lebih gak siap menghadapi kejadian yang sifatnya “negatif”--perlu tanda petik untuk pre-emptive adanya debat soal value negatif dan positif he he )
Terus apa dong yang bisa bikin kita siap?
Apakah dengan tauk bahwa sebuah kejadian PASTI akan TERJADI, maka kita harus udah siap, seperti kata temen gue di awal tulisan?
Kadang pas lagi nyetir di Jl. Guntur yang satu arah, gue suka gak SIAP berhadapan dengan motor nyelonong ke arah sebaliknya-- meski gue dah tau yang kayak gini PASTI TERJADI, karena para pengendara motor itu pada buta rambu lalu lintas!
Kadang gue masih suka gak SIAP ngeliat timnas PSSI ditekuk sama timnas negara lain, padahal itu udah jadi kisah klasik yang PASTI TERJADI di sebuah timnas yang diketuai sama mantan koruptor dan ketua Komisi Disiplinnya ditengarai terima suap!
Kadang gue masih suka gak SIAP kalo ada tagihan dateng, padahal udah jelas itu PASTI TERJADI lha wong namanya aja tagihan bulanan!
Kadang gue masih suka gak SIAP liat rakyat diinjek-injek, didzolimi, ditembak, padahal di negara yang kata guru gue jaman SD adalah negara hukum ini, kejadian kayak gini PASTI TERJADI sehari-hari!
Kadang gue masih suka gak SIAP liat bajingan-bajingan yang dulu bersimbah darah rakyat, sekarang tampil kembali jadi pemimpin-pemimpin alim siap nggerogoti negeri lagi, padahal jelas-jelas itu PASTI TERJADI dari generasi ke generasi!
Makanya gak habis kekaguman gue sama orang-orang yang siap dengan the worst scenario dari kehidupan,
dan bahkan membalikkannya jadi happy ending…
* Dedicated to Shilid & Nara; Peradaban manusia mencintai kalian….
Life is ever so strange, it’s good for a change, you think you worked it out
bang, right outta the blue, something happens to you, to throw you off course,
but then you break down.
yeah, you break down, don’t you break down,
listen to me, because it’s just a ride
~ JEM - Just A Ride (2005)
Meja ceper yang sekarang bukan satu-satunya lagi di lt 2 adwork
130607
Sial! Siap! Siapa?
5.22.2007
Mari Mengocok
Percaya gak kalo orang Indonesia itu doyan banget kocok-mengocok?
Coba lihat ibu-ibunya.
Kalo ngumpul-gumpul, gak jauh dari arisan.
Ngocok kumpulan kertas, yang kemudian dibuka.
Taddddaaaaa….!
“Jeung Nganu menang!!!”
Coba lihat bapak-bapaknya.
Sambil ngelempar tarohan di meja.
“WOYY, LAE! Kartunya dikocok dong! Pantes kau menang mulu!”
Sambil garuk-garuk pala.
Bingung gimana ganti duit belanjaan keluarga.
Coba lihat remajanya.
Kalo ngumpul-ngumpul gak jauh dari nonton bokep bareng.
Abis itu….“Man…bagi vaseline dong!”
“Tuh di meja rias nyokap tuh”
Srosot…srosot…slepettt!
Coba liat para mahasiswa dan yuppiesnya
Gak asik kalo gak ngocok pala ke kanan ke kiri.
Ajep ajep! Ajep ajep! Ajep ajep!
“Barangnya bagus banget ya, joooo”
“OD neh gue …OGAH DROPPP!”
Coba liat pelawaknya.
Ampuh banget ngocok perut penonton.
Dari mulai balutan talkshow sampe ala dagelan mataram.
“Tak sobek-sobek mulutmu!!!!”
“DRAKULA!!??? Jreng!!!”
Coba liat produsen obatnya.
“Kocok dulu sebelum diminum”
Malah ada jamu yang nama generiknya Parem Kocok.
“Parcok, Parem Kocok…Pascok, Pasti Cocok!”
Brilian banget copywriternya….
Coba liat politikus dan birokratnya.
“Kabinet harus dikocok-ulang!!!”
“Kocokannya cuma terbatas lho ya….”
“Aaaah kalo hasil kocokannya cuma begini gak usah ngocok ajah!”
Yah kan lumayan buat tebar pesona…
Iya kan?
Jadi jangan shock, kalo dana non-budgeter DKP bisa dikocok2 ngalir ke mana-mana--mulai dari Presiden SBY, Megawati, sampai Amien Rais (Pak Amien? Ya ampun Pakkkk!!)
Jadi jangan kaget kalo alokasi APBN buat pendidikan bisa dikocok-kocok supaya keluarnya cuman sedikit gak sesuai sama yang ditentukan oleh Tap MPR (TAP MPR lho!! Aturan perundangan yang KATANYA berstrata TERTINGGI …)
Jadi jangan pilon kalo calon2 Gubernur DKI doyan ngocok2 aturan kampanye supaya bisa jual tampang di mana-mana padahal belum waktunya dibolehin.
(kalo masih calon aja dah ngelanggar aturan, pas jadi pemimpin kayak gimana ya, kira-kira? Oh ya btw, terimakasih SBY atas tauladanmu nyolong start kampanye pilpres dulu..)
Jadi jangan kayak orang bodo, kalo ngeliat warga Meruya Selatan dikocok bareng-bareng Sutiyoso, Anggota DPR, PT Porta Nigra, BPN, dan MA. (Pusing kan nyari yang mana pahlawan kesiangan, yang mana penjahat, yang mana jagoan benerannya, yang mana penjahat benerannya….?)
Jadi biasa ajalah.
Gak usah ngerasa perasaan kita dikocok-kocok, walau udah 9 tahun tercium bau amis darah, asap, mesiu, dan daging manusia terbakar, di Grogol, Semanggi, Yogya Departemen Store, dan ratusan tempat lain di Jakarta.
Siapa suruh, jadi bangsa yang doyan ngocok....
* menangisi nasib para Pahlawan Mei 1998
No, no, no
Stick to the stuff you know
It is better by far
To keep things as they are
Don't mess with the flow, no no
Stick to the status quo
~ OST High School Musical - Stick to the Status Quo (2006)
Kamar Naia Kebagusan
220507
Cret.Cret.Crot.
5.08.2007
(Tak) Ada Badut

Siapa badut itu?
Berbuntut panjang dan bertanduk,
berkalung ular dan bertombak trisula.
Dari awal kupu-kupu hinggap di ujung mulut,
dia sudah di sana.
Mataku memicing coba kenalinya,
tapi riasan tebalnya halangi mataku.
Dia antara ada dan tiada.
Kadang melotot, kadang tertunduk,
sesekali punggungiku.
Gemerlap pasar malam,
dengan deretan lampu-lampunya,
dan lalu lalang pengunjung,
sering butakan sejenak.
Buatku semakin susah kenalinya.
Kakiku melangkah digerakkan rasa penasaran.
Dia hanya menatapku lurus.
Semakin dekat semakin kuterbelalak.
Ia ikut membelalakkan matanya.
Nafasku semakin memburu.
Ketika sudah sejengkal dari mukanya,
hawa nafasku mengembun.
Kuusap embun itu.
Ia ikut mengusapnya,
Dengan gerakan yang seragam.
Kucoba raba mukanya.
Tapi tangannya lakukan hal yang sama.
Hingga dua tangan kami bersentuhan.
Dingin.
Licin.
Seperti cermin.
Cermin?
Aku tertegun.
Saat kusadar badut itu sudah menghilang.
Entah ke mana…
Another clown behind your curtain
Just let me down, but one thing certain
You just rely on your magic charm
- Leon Haines Band ~ Another Clown (1980)
Meja Adwork dengan setumpuk obat nyamuk bakar di atasnya.
080507
Roll snare. Roll snare. Whappa!
5.02.2007
Unwind

Sekitar pertengahan sampai akhir tahun 90-an, kami-kami alumni PL angkatan 90-an, masih suka nongkrong di taman di belakang SMA PL. Kami sering menyebut komunitas kami sebagai “Anak-Anak ITB”. Ikatan Taman Belakang…halah!
In fact di sinilah gue pertama kali menelorkan sebuah buletin ecek-ecek bernama Suara Belakangan yang kemudian diadopsi jadi judul blog ini.
Apa sebenernya yang kita lakuin di situ?
NONGKRONG!
Di situ definisi nongkrong kayaknya bener-bener terpraktekkan dengan sebenar-benarnya.
Yang Hahah-heheh ketawa-ketiwi gak jelas lah,
Yang ngobrol ngalor ngidul lah.. dari mulai mobil, jenis pager (belum jaman HP, jo…),tante di rumah seberang, sampe kisah-kisah jorok pribadi.
Kadang ada yang main kartu.
Kadang juga kita rame-rame pergi luntang-lantung gak jelas.
Kadang rame-rame dengerin cerita serem Kis FM di malem jumat.
(Yang ini biasanya diakhiri dengan saling ngajak pulang bareng.
CULUUUUNNNN! Gondrong kok takut pulang sendiri!!!—jaman itu kita emang rata2 piara rambut panjang)
Bahkan bisa kadang-kadang-- karena udah gak tau mau ngapain--kita melakukan hal-hal yang gak penting. Tingkat ke-gakpenting-annya pun bener-bener di atas ambang batas!
Contohnya, pernah suatu kali—entah gue lupa siapa yang memulai—kita nimpukin sarang tawon di atas pohon.
Alhasil selama beberapa jam kita menghabiskan waktu dikejar-kejar sekelompok tawon itu.
Ada yang ngumpet di belakang mobil.
Ada yang berlarian sampe prapatan Kemang.
Ada yang ngumpet di belakang patung gajah di tengah taman.
Tapi tau gak?
Kita menikmati “petualangan” sesaat itu, sambil berkeringat dan ketawa-ketawa gak penting!!
Yak betul.
Masa-masa itu kita memang punya waktu luang yang berlebih, karena rata-rata masih pada kuliah semester2 akhir dan banyakan gak ngapa-ngapain--bahkan beberapa ada yang pengangguran (Sambil ngeliatin Ocai yang sekarang dah sukses jadi director film =p)
Beda sama sekarang.
Boro2 nimpukin tawon, nimpukin klien di depan mata aja gak sempet!
(Anak-anak: “Gak beraneee kaleeeeeee?????”)
Sekarang, kita masing-masing udah tersita dengan kesupersibukan masing-masing. Baik karena kerjaan, keluarga, atau urusan lainnya. Masih sih sesekali ketemuan leyeh-leyeh di kafe atau resto, sambil minum, ngerokok, dan ketawa-ketawa. Dan itu memang satu-satunya jenis refreshing yang kita bisa lakuin, sekarang-sekarang ini.
Mana mungkin sih, sekarang sempet duduk mencakung di bawah pohon, gak ngapa-ngapain “sambil” ngeliatin sekitarnya tanpa mikirin yang berat-berat?
Ternyata sempet.
Beberapa hari lalu, gue lagi di dalam Busway menuju kantor, terkantuk-kantuk dibelai oleh hembusan AC, ketika tiba-tiba Account Director kantor nelpon:
“Sek, kita HARUS miting di tempat klien. SEKARANG. Lo di mana?”
“Di Busway otw kantor, pas di prapatan kuningan…”
“Ya udah lo turun di situ deh, ntar gue jemput di situ. Gue skrg di buncit neh”
Tiba-tiba gue merasa di jidat tertempel post it dengan tulisan:
“PEKCUN LAKI NUNGGU DIJEMPUT TANTE”
Tapi toh gue turun juga.
Sejurus kemudian, gue dah duduk mencakung di bawah pohon nungguin dijemput.
Gue duduk di samping seorang tukang tambal ban yang tidur ngorok.
Sambil senyum-senyum ngeliatin kakek-kakek tua penjual rokok asongan yang bersitegang dengan orang gila, karena ngambil rokoknya tanpa bayar.
Nerawang ngeliatin mbak-mbak lari-lari kecil di kejauhan lagi ngejar bis PPD,
menatap pak polisi nilang pengendara-pengendara mobil bandel,
ngerasain debu dan asap jalanan mbedakin muka,
ngobrol gak penting sama seorang pengendara motor yg dateng belakangan karena bannya kempes (dia sukses mbangunin si tukang tambal ban)
Tiba-tiba sebuah sms masuk:
“Gue dah deket ya”
Dan berakhirlah setengah jam yang menyenangkan itu.
Mari melanjutkan kehidupan…
Back to life…
Back to reality…
Back to the here and now…
- Soul II Soul ~ Back to Life (1990)
dedicated to:
Maesa, Ocai, Ercin, Armand, Ruby Sudoyo, Yuka, Tanti, Benyek, Memet, Bamos, Tunggal, Kontor, Badrik, Kelik Kaplan, Dicky, Acong, Doel, Alex Datuk, Benbat, Benlol, Erik, Aji, Gofur, Warso, Mas Slamet, dll
Meja Adwork yang dah kayak kapal pecah.
020507
Break. Break. Dicopy gitu ganti...?
4.20.2007
GEmerLAP
Hitam.
Entah yang di sebelah mana.
Gelap.
Namanya juga malam.
Pejam.
Mungkin itu sebabnya.
Silap.
Terserah mereka sebut apa.
Lalu?
Pagi berganti malam kah?
Malam berganti pagi kah?
Siapa yang peduli?
Toh matahari datang dan pergi.
dan bulanpun muncul silih berganti.
Dan akupun duduk sendiri.
Sambil pandangi 2 buah busur pelangi.....
Meja Adwork dengan clio awards palsu
200406
Malam? Pagi? Malam?
3.20.2007
Balada Orang Susah

Hari Sabtu itu adalah weekend ke sekian yang gue habiskan buat ngerjain kerjaan klien orang India, yang outputnya gak juga jadi-jadi.
Semua kerjaan kayaknya gak pernah final tiap dimitingin sama dia.
Job A dikerjain, dia udah minta job B, C dan D.
Besoknya Job A dipresent ternyata dimentahin dengan argumen panjang lebar sampe gak sempet present Job B, C dan D.
Tapi dia sempet ngasih job E, F dan G.
Besoknya Job A dipresent ulang, hasilnya minta alternatif baru sambil mentahin Job B, C, dan D.
Besoknya Job A2 (Alternatif) diterima kita berteriak girang.
Tapi detik berikutnya kita sedih karena job B, C, dan D dimentahin dan Job E, F dan G direvisi major.
Besok paginya ditelpon, karena Job A2 harus diubah karena komen dari regional.
Detik berikutnya dia marah-marah karena job B, C, dan D harusnya udah musti tayang besok (lhah baru kemaren bukan dimentahinnya?)
Detik berikutnya dia mempertanyakan revisian Job E, F, dan G.
Siangnya ngasitau ada 2 job baru.
Dan seterusnya dan seterusnya.
(Pusing bacanya? Nah lo bayangin deh tuh yang ngerjain…huehehehe)
Kalo istilahnya Yoga, setiap miting, kita pulang selalu kayak prajurit kalah perang.
Pokoknya selalu ada hal-hal untuk bikin hidup kami semua jadi susah!
Susah?
Tiba-tiba gue malu sendiri make kata itu.
Hari ini gue tinggal di rumah beratap dan berdinding.
Punya kerjaaan dan pergi ke tempat kerja bisa berangkat naik kendaraan (umum maupun pribadi)
Makan tiga kali sehari.
Punya HP.
Punya bapak ibu kakak anak istri yang sehat.
Bisa nonton DVD atau EPL
Bisa main Yahoo Fantasy Football atau browsing,
Dan lo mengklaim hidup lo susah?
Pls d Sekkkk!
Gak malu apa sama Daniel yang rumahnya kerendem banjir hartanya bablas semua? (Masih ngurusin klien telekomunikasi pula! =p )
Gak malu apa sama Gepeng yang rumahnya roboh gara-gara gempa Jogja?
(Tapi kan dia baru punya kamera DSLR baru! )
At least malulah sama penduduk Perumtas yang rumahnya raib dihajar lumpur Lapindo tanpa kejelasan ganti rugi—baik dari Lapindo maupun pemerintah!
Malulah sama keluarga korban Adam Air, Senopati Nusantara, Levina, Garuda, Gempa Sumbar, Longsor Manggarai, (perlu disebutin sampe Tsunami Aceh?)
Malulah sama pedagang-pedagang kaki lima di seluruh negeri yang belakangan ini tiap hari musti gebuk2an dan teriak2an sama satpol PP yang dibantu preman preman—berseragam maupun tak berseragam.
Malulah sama keluarga korban Trisakti, Semanggi I & II, orang hilang Mei 98, yang udah dikhianati sama wakilnya sendiri di DPR.
Malulah sama Suciwati yang suaminya dibunuh keji oleh pengecut dan sang pengecut dilindungi oleh (atau jangan-jangan kepanjangan dari) tangan-tangan tak nampak.
Malulah sama SBY dan JK yang hidupnya susah, sampe kayak orang bego gak ngerti prioritas buat negerinya.
Malulah sama Angel Lelga yang bingung sebenernya siapa yang nikahin dia, Bang Haji atau Aman Jagau…
Plak!
Suara realitas menampar?
Ternyata bukan.
Cuman sebuah brief baru terbanting di meja gue.
“Kita cuman punya 5 hari kerja buat develop print ad ini sampe tayang. Gue dah bikin timeline buat brainstorming, review, present ke klien, dan produksinya. Alangkah indahnya kalo gak perlu motret…”
(Orang-orang Susah: “Hayooo…! Hayooo…! Pasti mau bilang idup lo susah, deehh???” )
“NGGGGGGGG…. ENGGGGGGGAAAAKKKK KOKKKKK!!!!”
Meja lt 2 Adwork yang no smoking tapi smoking.
200307
Hard. Hurt. (No) Heart.
2.08.2007
Kisah Anta dan Prota

Apa salah satu plot favorit film Hollywood?
Tokoh antagonis dibikin abu-abu.
Kadang tokoh antagonis diposisikan sebagai korban, jadi meskipun antagonis tapi audiens dipaksa berempati. Misalnya Catwoman atau Penguin di film Batman.
Atau kadang tokoh antagonis ini justru punya kedekatan dengan tokoh protagonisnya. Misalnya Hannibal Lecter di Silence of the Lambs.
Apa salah satu plot favorit sinetron Indonesia?
Tokoh antagonisnya dibikin item seitem-itemnya, tokoh protagonis putih seputih-putihnya.
(Jadi inget tagline Hugos: “Tempat Party se-party-party-nya” =P )
Misalnya di sinetron ala Hidayah (Hikayah? Habibah? Ah whatever). Tokoh Istri berjilbab yang suaminya miskin, trus diajak ama temennya ngelacur. Pas ketauan dan dinasehatin sama Pak Ustadz, malah si Istri marah2 dan maki-maki
“AHHH PAK USTADZ INI NGAPAIN SIH IKUT CAMPUR URUSAN ORANG. Emangnya kalo kita kelaparan Pak Ustadz mau ngasih makan kita!!??? Udah sana Pak Ustadz ke mesjid aja sana! Sholat gih!”
"Astaghfirullah…"
(Yang ngucap ini selain tokoh pak Ustadz di sinetron itu, juga gue--Gue lebih karena shock kok ada ya penulis skenario setega ini sama karakter ciptaannya…)
Atau ada di sebuah sinetron non religi, yang ceritanya: Bapak-Ibunya itu gak punya uang sementara anak-anaknya lumayan kaya. Si anak ngomong gini,
“Bapak dan Ibu itu udah gak bisa ngasih warisan, malah ngerongrong kita. Orang tua yang baik kalo meninggal itu ngasih warisan! Lagian bapak dan ibu katanya orang yang taat beragama, berarti udah biasa puasa dong!! Tahan laper dikit kenapa sihh!!?”
Tokoh Bapak, Tokoh Ibu, dan gue: “Astaghfirullah…”
Entah apa yang ada di otak penulis skenario sinetron Indonesia.
Mungkin, mereka nganggep orang Indonesia itu bodoh, jadi kalo dikasih abu-abu, bingung yang mana antagonis yang mana protagonis.
Tapi…jangan-jangan emang bener ya?
Jangan-jangan emang begitu karena orang-orang Indonesia di kehidupan sehari-hari emang cenderung dikasih tontonan realitas yang serba abu-abu, jadi susah mbedain antagonis dan protagonis.
Ada (mantan) Narapidana jadi ketua PSSI, siap ndodosin duit APBD-APBD katanya demi “tontonan rakyat” bernama sepakbola.
Ada Menteri yang ‘tangannya bersimbah darah’ korban kecelakaan transportasi laut, darat, dan udara, tapi mukanya yang kucel dan rambutnya yang putih bikin dia dikasihani.
Ada Menteri yang bikin kelaparan ribuan orang, tapi karena dia “Beragama”, jadinya gak terlalu dihujat. (Sama dong sama SPG-SPG dari Univ Moestopo Beragama… :p )
Tapi gue rasa enggak juga.
Buktinya ada orang-orang yang konsisten tetap dengan statement-statement antagonisnya ala sinetron.
Misalnya, ada menteri cameh yang ngurusin kesejahteraan rakyat tapi :
Pas harga elpiji naik, dia nyuruh orang pake kompor minyak
Pas harga minyak naik, dia nyuruh orang pake kompor briket batubara
Pas perusahaannya nenggelemin puluhan desa di sidoarjo, dia bungkem
Terakhir pas Jakarta tenggelem, dia bilang media massa membesar2kan masalah seolah-olah Jakarta mau kiamat –cek di sini
(pak…buat yang mati dan hartanya ludes dibawa air itu namanya kiamat kaleee…)
atau ada Gubernur yang tahun 2002, daerah yang dia pimpin tenggelem, dia bilang, “Siapapun gubernurnya, saya yakin gak ada yang bisa nyelesein masalah banjir ini!”(terus kenapa elo pak yang jadi gubernur? Kenapa gak Pak Slamet tukang nasi goreng depan rumah gue? Sama-sama gak bisa ngatasin banjir kan?)
Tahun 2007 pas jakarta tenggelem (lagi) dia bilang dia gak bisa ngatasin sendiri, dan katanya emang ada daerah-daerah Jakarta yang letaknya rendah jadi WAJAR kelelep. (hellooooo…Bapak gubernur kan? Helloooo…Belanda letaknya di bawah permukaan laut bukan, pak?)
Jadi berterimakasihlah pada Sutiyoso dan Aburizal Bakrie.
Karena berkat mereka, audiens kita udah dikasih contoh tokoh antagonis itu kayak apa. Jadi mereka gak bodoh lagi. Jadi sebenernya gak perlu lagi penulis skenario sinetron menghitamputihkan permasalahan. Malah jadi gak membumi dengan keseharian.
Gak se-membumi skenario Ekskul yang jadi film terbaik FFI 2006…
Gubrak!
(Sepatu milik Nia Dinata, Mira Lesmana, dan Riri Riza mendarat di muka gue.)
Meja lt 2 kantor deket pintu manggarai
080107
Byurrrr.Byuuuuur.Biarrrr.
1.02.2007
Jejak Langkah Lego

Beberapa hari yang lalu Astri beliin Naia mainan Lego.
Mainan (yang katanya bikin) kreatif itu ternyata gak cuma menarik buat Naia.
Ken, ponakan gue yang kelas 1 SD dan tinggal di sebelah rumah itu, juga tersibukkan dengan mainan itu.
Alih-alih cuman nemenin mereka main, tiba-tiba gue juga tersedot dengan mainan itu.
Tauk-tauk gue menemukan diri gue lagi sibuk bikin bentuk helikopter dari Lego di jam 2 pagi saat Astri dan Naia udah tidur. (Dan gue baru ngeh itu jam 2 pagi, karena Astri kebangun dan heran gue lagi “kelutekan” di depan TV yang nyala tanpa gue tonton itu)
Apa yang menarik sih benernya?
Padahal mainan klasik dari jaman gue kecil itu ya bentuknya gitu-gitu aja.
Kenapa juga itu bisa lebih menarik dibandingkan siaran tunda Blackburn vs Liverpool di Trans7 dini hari itu?
(Anak-anak: “mungkin karena Brad Friedel gak ketembus dan Liverpool kalah di pertandingan itu, Sek?” =^ppp )
Hehe..mungkin.
Tapi mungkin juga karena Lego itu gak pernah ngasih skema untuk bikin bentuk-bentuk tertentu.(Eh ada gak sih?) Anak cuma dikasih gambar-gambar jadi bentuk bentuk itu (misalnya helikopter) buat nunjukin possibilty yang bisa dibikin. Bahkan bentuk helikopter versi gue atau versi Ken atau malah Naia, jelas beda-beda. Setelah dipreteli disuruh bikin lagipun gue belum tentu bisa dengan bentuk yang sama. Itu mungkin makanya Lego dianggap sebagai mainan yang bisa bikin anak jadi kreatif.
Kreatif.
Hmmm… rasanya udah terlalu sering kita denger itu kata.
Malahan dah nempel di status pekerjaan.
Orang kreatif.
Anak kreatif.
Nyatanya kita sangat jauh dari kreativitas di kehidupan sehari-hari.
Contohnya soal membesarkan anak.
Gak banyak yang sadar bahwa membesarkan anak itu GAK ADA FORMULA / RESEP AJAIBNYA!
Ada yang sibuk baca “kitab suci2” cara membesarkan anak karangan psikolog-psikolog kondang.
Ada yang sibuk bertanya di milis-milis ibu “Gimana sih supaya anak kita doyan makan?”, “Gimana sih ngelatih anak kita poeb dan pipis di toilet?” etc etc.
Ada yang cari referens ke sana kemari.
Cuma sebagian yang inget bahwa setiap anak adalah individu yang unik, yang cuma bisa dibesarkan dengan cara yang unik dan berbeda tiap individunya. Cara A bisa dilakukan buat anak yang ini, tapi belum tentu berlaku buat anak yang itu.
Contoh lain adalah soal karir.
Ada orang yang kerjanya ikut seminar-seminar dengan pembicara pebisnis kondang, berharap dia akan sesukses pebisnis itu.
Ada yang setiap hari dateng ke workshop multilevel marketing bermimpi bisa sesukses uplinenya.
Cuma sebagian yang inget bahwa, kalo semua punya cara yang sama dalam berbisnis, terus di mana keuntungan kompetitifnya? Kalo semua orang dagang bakso, terus siapa yang beli bakso?
Gak usah jauh-jauh deh.
Contoh yang paling deket sama kita (baca: anak kreatif ad agency)
Ada yang sibuk beli Archive dan browsing-browsing situs award.
Ada yang sibuk dateng ke seminar-seminar kreatif dan nanyanya : “Mas…gimana sih caranya bisa jadi kreatif kayak mas…?”
Ada yang sibuk nyela-nyelain anak-anak muda yang “Archive-minded”, tapi selalu nyuruh mereka menggali dari budaya sendiri dengan contoh….Iklan THAILAND!
(Mas…kasih dong contoh yang konkrit, jangan Thailand lagi Thailand lagi ahhhhh…apa bedanya dong lo sama generasi Archive???)
Memang mudah melirik kesuksesan seseorang.
Semudah kita mencontoh gambar jadi sebuah lego.
Tapi berharap ada formula ajaibnya?
Berharap ada jejak langkah yang bisa kita ikuti dengan mudah?
WOOOYYY…di Lego aja gak ada skema pembuatannya!!!! (semoga gue gak salah soal ini…)
Membesarkan anak.
Meniti karir.
Bikin iklan
Bikin Lego.
Adalah sebuah proses trial dan error.
Ngejalanin seluruh kehidupan itu sendiri juga sebuah trial and error.
Gak ada satupun orang yang secara absolut bisa bilang paling ngerti gimana cara ngejalani sebuah kehidupan.
Gak juga elo.
Gak juga gue.
Selamat Tahun Baru 2007.
Semoga jalan kita berbeda, tapi sama-sama menuju pada kehidupan yang lebih baik.
Amien.
Cuz life is a lesson
You’ll learn it when your through
- Limp Bizkit ~ Take A Look Around (2000)
*Terinspirasi oleh ON BEING MOM - Anna Quindlen dan Bisnis Itu Permainan - Rusman Hakim
Meja Adwork Penuh Kertas Berserakan Lt 2
020107
prok.prok.prak!
12.06.2006
Dua

Konon angka 2 lagi populer belakangan ini.
Seorang ustadz berinisal AA G baru aja beristri 2.
(Bukan!! Bukan AA G yang suka ngasih shabu ke artis-artis ituuuu, bukaaaan!! Ini yang satunya! he he)
Beredar video anggota DPR lg mesum sama istri ke 2 nya.
(Joooooo...itu bukan bininya kaleeeee! Itu artis kampung yang akting nangisnya setengah-setengah dan nyanyinya terengah-engah!!)
Lapindo akhirnya bersedia ganti rugi tanah warga 2 juta per meter!
(Duuuhhh baca berita di mana sih ni anak??? Tanah 1 juta per meter, bangunan 1,5 juta per meter!!)
Diem-diem angka 2 ternyata juga lagi populer di hati gue.
Mungkin karena gue udah bisa bertahan di semester 2 kantor baru.
Mungkin karena gue sekarang punya HP 2 biji.
Tapi yang pasti karena 2 orang yang paling gue syukuri hadir di kehidupan gue.
Dan salah satunya baru aja menginjak usia 2 tahun.....
Selamat ulang tahun cintaku!
MMMMMMMMMMMMMMUUUUUAAAAH!
Meja Adwork dengan Mac ber-wallpaper-kan Rhoma Irama memegang Playboy
05122006
Dua. Dua. Doa.
Subscribe to:
Posts (Atom)
