10.26.2009

There He Goes






Di parkiran kampus IISIP, di dalam mobil, gue menangis santer sesenggrukan.
Hari Sabtu (17/10/09) tepat jam 15.00, sesaat gue menutup kuliah KKL sore itu, gue menerima kabar dari Astri, bahwa Lintang udah gak ada. Anak laki-laki yang gue tunggu-tunggu selama 9 bulan itu diambil sama Tuhan, sekitar 1-2 minggu sebelum waktunya dia lahir.

Begitu kontrasnya air mata gue saat itu, dibanding sebelumnya.

5 bulan sebelumnya, di tempat yang sama, di dalam mobil juga, gue nangis bahagia begitu denger bahwa jabang bayi di perut Astri, adalah laki-laki.
Setelah dikasih Naia yang sehat dan tumbuh mbanyol lima tahun ini, dikasih anak laki-laki, bener-bener bikin hidup gue lengkap.
“Tuhan baik banget ya sama gue…?”

Namun hari Sabtu (17/10/09) itu berbeda.
Gue cuman sempet ngetweet “YA ALLAH…” di Twitter.
Abis itu gue nangis seada-adanya.
Setelah tangis kesedihan reda, gue segera menyusul Astri ke RS.
Jadwal ngajar di kampus tiap hari Sabtu, memang bentrok dengan jadwal Astri kontrol ke dokter.
Itulah sebabnya di dua momen yang berbeda itu, gue gak ada di samping Astri.
Sepanjang perjalanan menuju RS, terngiang kekhawatiran Astri sebelum-sebelumnya.

Hari Kamis (15/10/09) sebenarnya Astri udah beberapa kali melontarkan kekhawatiran, karena Lintang sedikit “anteng”.
Dalam beberapa kesempatan lewat telpon maupun BBM, Astri bilang “adek kok diem aja ya…”.
Tapi kekhawatiran kita saat itu mulai sirna karena ternyata lewat maghrib, Lintang menendang-nendang perut bundanya dengan aktif.

Tapi mungkin itu gerakan aktif terakhir Lintang.
Karena besoknya di hari Jumat (16/10/09) seharian dia bener-bener diem.
Bahkan goyangan gempa Ujung Kulon yang terasa sampai Jakarta itu pun gak lagi mengusik dia.
Astri yang saat itu lagi company gathering di kantornya udah was-was, meski dia gak ikut lari-lari turun karena gempa.
Dia makin cemas karena setelah maghrib lewat, Lintang masih anteng.

Hari jumat itu gue syuting seharian dari pagi sampe tengah malem di daerah Pondok Cabe.
Waktu pulang sampe rumah lewat tengah malem, Astri kebangun.
Kalimat pertama yang dia ucapin “Adek masih gak gerak…aku khawatir”.
Meski gue mulai sedikit khawatir, tapi gue nenangin Astri, karena toh besok pagi (Sabtu 17/10/09) itu memang jadwal dia kontrol.

Dan selanjutnya itulah yang terjadi.
Astri periksa ke RS.
Gue ke kampus.
Denyut jantung Lintang tidak ditemukan.

Sabtu sore itu di RS, di tengah air mata dan kelinglungan, kita akhirnya mutusin untuk pulang ke rumah, menenangkan diri, dan mikirin tindakan apa yang harus diambil.
Dokter kita sedang keluar kota jadi kalo mau nunggu dia, Lintang baru bisa “dikeluarin” hari Selasa! Buset!
Akhirnya kita mutusin untuk ngeluarin Lintang dengan dokter pengganti aja besok pagi, yang penting buru-buru dikeluarin.

Sabtu malam itu Lintang masih di dalam perut Astri.
Itu terakhir kalinya dia “tidur” di rumah sama kita.
Kekalahan Liverpool 0-1 atas Sunderland malam itu bener-bener gak semenyedihkan biasanya.
Iyalah..
kita kan baru ditinggalin anak laki-laki kita…

Malam itu gue mulai ngeblast kabar lewat BBM, Status FB, dan Twitter.
Ucapan belasungkawa mulai mengalir.
Bahkan malam itu Iyo – Wina, Kang Awin , dan Syarif Gepeng, udah berkunjung ngucapin bela sungkawa.

Minggu pagi (18/10/09) jam 09.00 kita ke RS dan berangkat seperti layaknya pasangan mau ngelahirin anak normal.
Memang proses persalinan Lintang pun dilakukan secara normal, bukan dioperasi cesar.
Karena ternyata operasi cesar itu adalah tindakan yang dilakukan dengan dasar keselamatan jabang bayi.
Jadi saat bayi emang udah meninggal, buat apa operasi?
Karena meski dianggap prosedur yang udah biasa dan aman, yang namanya operasi --dengan sayatan dan anestesi, pasti tetep ada resikonya.

Ijoen, sahabat gue dari SD, juga pernah ngalamin kayak begini pas anak pertamanya.
Dia juga ngelahirin Fio (Alm) dengan persalinan normal tanpa operasi.
Ijoen adalah salah satu orang-orang pertama yang gue kabarin soal meninggalnya Lintang barengan sama keluarga gue.

Pagi itu sudah mulai mengalir teman-teman gue berkunjung ke RS.
Ada Ilya, Mike-Alex, Dinah, Eko, Atma, dan Mbak Dewi Meita.
Terus terang gue bingung menghadapi kunjungan teman-teman, karena ini situasional yang berbeda dengan saat punya anak (dan hidup).
Karena biasanya, teman-teman berkunjung setelah anak dilahirkan.
Sementara saat itu Astri baru mulai diinduksi ketika beberapa teman-teman menyusul muncul.

Mulai dari Bucin, Gepeng (again), Yoris-Debbie, Aci-bini (gw lupa nama bini lo Ci..maap! :p), Lala-Benyek, Monik-Donny, Richard Asisi, Yoelia, Tasya, Joe, Martinus, Dewwar, Acid, Nanish, Dewi PS, Mbak Arum-Kemal, Miss Emma- Miss Reygel, Ijoen-Is, Yuka-Eveline, Bisma, Evin-Ajo, Vira-Yul, Lady-Alex, Asca-Inul, Pak Lardi, Mas Incon-Mbak Thea dan ditutup Vella-Dimas terakhir di jam 10 malem.

Sepanjang kunjungan itu sebagian teman sempat masuk nemuin Astri di ruang persalinan—yang amazingly sosoknya kaya kamar opname: ada sofa, TV LCD, dll—sebagian lain cuman gue temuin di luar.

Ini karena emang sebenarnya kaya’ lazimnya orang ngelahirin, yang boleh masuk ke dalam, cuman keluarga.
Tapi mungkin karena situasionalnya dianggap beda, susternyapun akhirnya longgar, dan ngebiarin beberapa yg “nekat” masuk.

Tapi suster shift malam ternyata lebih ”galak” dibanding suster shift sebelumnya.
Ngeliat banyaknya tamu yg masuk, sementara Astri udah mulai mules-mules akibat induksi, suster tersebut akhirnya ngelarang.

“Nanti ibu kecapekan terima tamu, malah gak punya tenaga buat ngeden, pak..”
Make sense, sih.

Alhasil, Vella-Dimas kebagian gue temuin di luar.
Itupun akhirnya gue tinggal karena Astri nelpon dari dalem.

Dari sejak diinduksi jam 11 siang, kemudian bukaan dua di jam 5 sore--pas diobserve, kemudian ditambahin induksi lagi, kemudian pas diobserve jam 10 itu, ternyata air ketuban udah pecah dan Astri udah bukaan 8.

Kerempongan terjadi.
Di tengah siap-siap untuk mulai proses persalinan, gue nyempetin diri ngebales semua saudara-saudara yang minta diupdate current situation.
Ada yg lewat SMS ada yang lewat BBM.
Bayangin, tangan kanan diremas, BB di tangan kiri masih diketik2, plus sesekali ngajak Astri inhale-exhale.
Tapi akhirnya BB gue taroh, karena kayanya proses kali ini luar biasa sakitnya, melebihi waktu Naia lahir.
Astri yang gue kenal adalah Astri yang jarang ngeluh sakit kecuali bener-bener sakit.
Tapi kali ini dia teriak-teriak, bahkan sempat muntah karena gak kuat nahan sakitnya.

Dan kemudian, proses persalinan normalpun dimulai.
Dokter ditelpon.
Istri meregang nahan sakit.
Suami berdiri megang tangan istri-- coba kasih support.
Suster nyiapin peralatan.
Istri sesekali nanya ke suster, dokter udah dateng apa belom.
Suami sesekali nenangin istri.
Dan semua proses dan protokoler persalinan normalpun terjadi.
Kecuali,
Bayi itu keluar tanpa diikuti suara tangisnya…
Lintang “lahir” dengan “tenang”.

Dokter sempet berdiskusi sama gue soal penyebab meninggalnya, ketika dia baru “keluar setengah badan”.
Aliran makanan dan “napas” di tali pusatnya terhenti sekitar 1,5 jengkal dari pusar Lintang.
Diduga dia terlalu aktif sampe-sampe tali pusatnya “melintir” berlebihan dan memacetkan aliran makanan tadi.

Kemudian dia ditaroh di box.
Tangis gue nyaris meledak waktu ngeliat dia di box.
Tapi kemudian gue inget pesan Ijoen dan Is.
“Habiskan waktu bersama dia sebanyak2nya, dan foto dia. Kita berdua nyesel gak punya fotonya Fio…”

Dan guepun mulai memotret Lintang dari berbagai angle.
(I wish I could share the pic here, tapi gue sama Astri mutusin untuk nyimpen buat kita aja).
Bibir atasnya yang “njedir” nyaris gak beda dgn bibir gue.
Mungkin juga malah lebih sedikit, secara Astri juga punya bibir seperti itu.
Idungnya mbleber--tapi tulang hidungnya nggak pesek kaya Naia ☺
Dia tidur sangat nyenyak.
Entah apa yang terjadi, mulai detik itu tiba-tiba kesedihan gue hilang.
Nyaris gak bersisa.

Rencana makamin Lintang langsung setelah dia lahir, batal, karena ternyata lahirnya malem banget.
Gue malam itu butuh banget istirahat.
Capek fisik dan mental, jadi gue mutusin untuk tidur di rumah sakit
dan besok pagi (Senin 19/10/09) makaminnya.

Jenazah Lintang yang seharusnya dimasukin ke kamar jenazah, entah kenapa sama suster jaga malam itu dibolehin ditaroh di samping Astri tidur.
(besok paginya suster kepala rada sewot pas tau jenazah ada di dalem kamar :P)

Tapi itu sebuah blessing in disguise buat gue sama Astri, karena “dibolehin” menghabiskan malam itu bareng dia.

Senin pagi itu dijemput ipar, gue ngebawa jenazah Lintang ke rumah bokap-nyokap gue di Gandul buat dimandiin dan disholatin terus dimakamin.
Astri gak ikutan. Dia di rumah sakit meneruskan menerima tamu yang ngejenguk dia ☺.

Tepat sekitar 24 jam dari Astri diinduksi, dan 12 jam dari dia lahir dan meninggal, sekitar jam 11 siang, Lintang dimakamin.
Pemakaman dihadiri oleh keluarga dan temen-temen Narrada (kok kalian bisa ya nemu pemakaman itu! ☺ ) Rico, Mike, Anna, Nia, Ferry, Myrna, Okka, dan pak Kasino (nope dia bukan mertuanya Rico :p ).

Later-on, temen-temen Celsius dateng telat pas gue dah mau cabut: Elwin, Richard, Yenny, dan Mas Ugi.
Juga bareng sama mereka dateng Memen dan Thya (mewakili mantan models XD ).

Selama proses mandiin, nyholatin, sampe makamin, Naia keliatan “antusias” ngikutin.
Tapi gak ada air mata setetespun jatuh dari mata gue ataupun Naia.
Mungkin sekali lagi Tuhan baik sama gue.
Gue dikasih keikhlasan lebih cepat, supaya gue bisa mbantuin yang lain untuk struggle menuju keikhlasan.
Entah Astri, Naia, atau siapapun dari keluarga kami.

Lelintang Gerrardhya Adiasputro
(Bintang bernama Gerradhya, putra dari Adi dan Astri)
Dia udah duluan ke “tempatnya”…di langit atas sana.
Kata orang-orang,
dia bakal jadi “penunjuk jalan” buat kedua orangtuanya suatu hari nanti..

..ketika kedua orangtuanya menyusul ke sana…

Amin.




* Dedicated to Lintang, Naia, dan Astri; Love you so much!
Terima kasih buat semua yang udah menyempatkan diri mengucapkan bela sungkawa baik lewat FB, YM, BBM, Voice, SMS, dateng langsung, maupun yang ngedoain dari jauh. Maaf kami gak bisa bales satu persatu. Cuman doain aja semoga kalian semua diganjar berkah berlipat-lipat dari Allah SWT.
Amin.

---
Would you hold my hand
if I saw you in heaven?
Would you help me stand
if I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day
'Cause I know I just can't stay here in heaven...
- Tears in Heaven ~ Eric Clapton (1992)

Ruang Kuning Lt II Narrada dengan dinding bertempelkan gambar2 karya Naia
261009
Hiks. Sniff. Smile :)

15 comments:

Neng Keke said...

Insya Allah udah ada tangan Lintang yang siap 'ngajak' nanti...

pascalia said...

aku ngga nangis loh Mas, tapi hatiku terenyuhhh...
btw, ade lintang kan dikuburnya senin pagi tgl 19/10. :)

Linda Karamoy said...

aduhh... well written... gue terharu brts tp ketawa2.. antara lawakan lo & kesedihan lo...

Wiwi_kayla said...

aduh...ampe ga bisa berkata2...hati nurani seorang ibu...ampe mata gw berkaca2....tapi gw salut banget sm kalian bs dengan cepat mengikhlaskan kepergian Lelintang...Ade Lintang akan menyambut orang tuanya di pintu syurga..Amin

Eddo Dadyka said...

maaf sebelumnya, kita belum kenal. tp kita sempet duduk sebangku tanpa ngobrol waktu pinastika 2008 ;p.

gw jg ngebuka blog mas sheq ini gak sengaja, krn lagi browsing2 aja.

tp pas gw baca ttg Lintang... well, gw berkaca-kaca.

semoga dalam waktu dekat adiknya Lintang bisa bermain bersama Naia.

nuwwman said...

Turut berduka cita mas Sesek, Ngebaca tulisan ini seharusnya bisa menyiapkan gw yg juga lagi jadi suami siaga. Moga2 gw bisa sekuat loe nerima takdir Alloh. Smoga kesabaran kalian dikonversikan jadi tiket penerbangan pertama ketemu Lintang di surga kelak. Aamiin.

wassalam,
nurman

ps. maap ni sok akrab, kayanya belum perna kenalan same situ. sesama pekerja iklan gandul based boleh laah kite ta'aruf.... ;P

rendjana_setra said...

maaf ya seq. gue baru tau ini cerita lengkapnya. burem mata gue bacanya seq. rese nih, ada aer yang datang gak diundang di mata gue :D


Alhamdulillah, salut gue ama elo dan astri. Bisa cepet ikhlas menerima semua ini.

Percaya deh, semua yang datang dari Allah, nggak ada yang buruk. Meski kadang nggak selalu keliatan indah dari sudut pandang kita.

May Allah SWT always bless you and your familly. Amien.

nuLs said...

ow my god... mewek meneh aku baca blog nya mas sE2Q...
giamanapun juga i'm proud with mbak Astri, she is the best!!!! *spechless*

sumpah baru kali ini aku biasanya kakean lambe alias nyuocot tok, hmmm... pas ketemu mbak astri meneng clep... palagi liat mas se2Q yang sepertinya ga mandi seharian tambah diem seribu bahasa... blum lagi susternya ketus... hiks...

pingin ngomong apa lagi ya... banyak sebenarnya...

tapi ya utama...

mbak astri kapan masuk kantor??
kangen kangen kangen...

jangan kuatir spionya udah kumandikan tiap hari hahahahha...
dijaga baik baik kok sama mas femes... ehehehehhe...

luv you all.. :)'

"senyum haru tawa senja,
mampu mengurai air mata,
tiada kesan tanpa tawa dan haru,
terukir jiwa yang tenang, setenang senyum 'lintang'

gemintang lintang bertebaran dihati...
memberi kesan dengan cara sendiri...
sketsa kasih dan cinta yang abadi...

selamat jalan ade'lintang :)"

Micki Mahendra said...

sesek,
tabah ya...

gue pernah baca, waktu nabi meninggal, dia bilang 'ra fiq al ala', menuju sahabat sejati (Allah)...
Insha Allah, Lintang gak kemana-mana, cuma duluan...=)

Fahroni Arifin said...

Nggak ada yang gw sesali selain telat denger kabar ini dan nggak sempet dateng malam itu. Sepertinya Tuhan terlalu sayang sama Lintang, dia akan hidup selamanya di surga.

Sheque said...

Temen-temen, makasih semua ya doa, empati dan semua-semuanya. Gak bisa balesin satu-satu. Gak tau gimana cara bales budinya.

Cuman bisa ngedoain aja, semoga temen-temen semua diberi limpahan berkah sama Allah SWT. Amin.

Kita sekeluarga beruntung punya temen-temen seperti kalian..

phkz uw0ow!! said...

sabar yaa

Leonita Ardhyan said...

been there, tapi younger infant & longer stay di perut setelah meninggal.

udah agak lama ini ya mas? semoga sebagian besar kesedihan sudah terangkat ya..

@Lily4R said...

maaf juga, belum kenalan. melacak dari twitter (yg juga belum difollow :D) tapi saya ingin komen posting ini ...

Ya, Tuhan sangat sayang pada kalian

gugun said...

Moga sabar ya mas