7.07.2014

Pilpres 2014: Mau Pilih Jadi Apa Kita?


image via Sarie Febrianne's Path

disclaimer: tulisan ini tidak netral, karena penulis sudah menetapkan pilihannya.
Penulis hanya bermaksud berbagi sedikit kepada teman-teman yang masih tidak tahu harus memilih siapa, soal pertimbangannya dalam menetapkan pilihan.









Kapan terakhir kali lo antusias nonton debat capres?
Kapan terakhir kali Piala Dunia gagal ngerebut perhatian penuh lo?
Kapan terakhir kali, di kafe socialite sampai warung kopi pinggir jalan, kita semua ngobrol penuh semangat soal pilihan capres?
Kapan terakhir kali lo nengok facebook lo sendiri--selain pas update foto traveling dan posting place pas jalan2?

halah nyinyiiiiiir* :))

Kapan lagi lo punya alasan sahih untuk nge-unfriend teman-teman facebook lo yang sebenernya-gak-kenal2-amat-tapi-mau-unfriend-kok-gue-gak-enak-ya

Mwahahahahahahak!

Rasanya nyaris gak pernah itu semua terjadi di zaman dulu.
Sebuah hal baru yang belom pernah kita semua rasain.
Boro-boro pas orde baru,
pas jaman reformasi aja gak pernah tuh kejadian.

Mungkin ini disebut sebagai sebuah “Kegembiraan Politik”.
Mungkin.
Tapi sayangnya buat sebagian orang, milih untuk gak (mau) ikut ngerasain kegembiraan itu.

Karena buat sebagian orang postingan tentang capres hanyalah “copras-capres” yang diributkan oleh segerombolan supporter kampungan – sejenis kayak kampungannya supporter2 klub EPL

*sambil ngaca*

Cuma ribut2 yang bikin berisik dan mengganggu keseruan dia posting makan malamnya.
Mengganggu posting selfienya.
Mengganggu pencarian tas dan sepatu di olshop-nya.
Mengganggu invitation Candy Crush Saga-nya.

Padahal bukan.

Ini adalah kegembiraan politik yang bikin ngiri orang di negara lain.
Bikin ngiri orang2 di Suriah, Libya, dan Mesir. 
Bikin ngiri tetangga-tetangga di Malaysia.
Kegembiraan Demokrasi ini satu2nya yang sampai detik ini gak bakal bisa diklaim sama Malaysia! : ))

Okelah kita udah capek dengan pertarungan argumen soal orang tegas vs orang baik.
Pertarungan argumen + bukti soal penculik pelanggar HAM vs Boneka kurus kerempeng.
Udah males denger itu semua kan?

Tapi coba pikirin bahwa pertarungan antara Prabowo vs Jokowi itu sebenernya adalah pertarungan pembuktian siapa sebenernya jati diri kita.

Iya, kita.
Kita rakyat Indonesia.

Rakyat Indonesia yang katanya udah maju.
Rakyat Indonesia yang ngata2in menkominfonya karena gak ngerti gunanya internet cepat dan seneng ngeblok2 situs yang berguna.
Rakyat Indonesia yang ngabisin sebagian besar waktunya di depan monitor. Monitor HP, komputer maupun monitor TV.

Pertarungan Prabowo vs Jokowi ini adalah pertarungan antara MOBILISASI versus PARTISIPASI.

Pertarungan antara pilihan:

1. Punya jati diri sebagai sekumpulan manusia yang hidupnya harus disuruh-suruh oleh seseorang, supaya mau melakukan sesuatu yang baik.

Atau

2. Punya jati diri sebagai  sekumpulan manusia yang mau ikut berpartisipasi melakukan sesuatu yang baik, dengan kesadaran diri.

Sebagai seorang bapak, gue seneng banget kalo ngeliat anak gue berinisiatif untuk ikutan sebuah hal yang baik tanpa gue suruh. Gak cuman seneng bahkan ada kebanggaan.

Begitu juga kalo ngeliat anak buah di kantor melakukan hal kayak gitu. Karena situasi di mana orang di bawah kita harus nurut sama kita, itu sebenernya bikin dua2nya capek lho.
Kitanya capek, yang di bawah kita juga capek.

HEH PUASA2 JANGAN MIKIR JOROK!

Kita2 yang biasa main social media pasti udah biasa banget sama crowd-wisdom. Rame2, dengan kesadaran diri berpartisipasi jadi watch-dog buat sebuah nilai benar-salah. Kita tolak bentuk superioritas seorang menkominfo yang main blokir sebuah layanan dengan sebuah alasan yang nilai benar/salahnya dia sendiri yang nentuin.

Coba pikir, seinget lo ada gak orang yang pernah nggerakin orang lain berpartisipasi padahal enggak saling kenal. Bergerak buat saling dukung, bahu membahu, bergotong royong dari social media sampai dengan di lapangan, demi satu tujuan?

Prita saat Koin Untuk Prita?
Tapi saat itu bukan soal siapa, melainkan soal mengapa.
Yang didukung waktu itu bukan figur Pritanya tapi kondisi ketidakadilannya.

Bayangin bahwa Jokowi secara gak langsung udah nggerakin partisipasi orang2 yang gak saling kenal.
Gerakin mereka-mereka dalam simpul2 relawan.
Dalam forum2 dan milis-milis.
Dalam whatsapp group, BBM group, dan FBChat Group.

Sampe ada relawan yang secara becanda ngeluh “mulai overdosis WA group neh” : )))

Saling tukar ide, saling tukar isu, saling tukar informasi, dan saling tukar kreativitas pendukung.
Orang-orang yang berpartisipasi ini gak dibayar, gak digaji, gak berkepentingan secara langsung, tapi mereka gerak dengan masif.

Salah satu kulminasinya adalah di Stadion GBK Sabtu kemarin.
Sebuah kegembiraan politik.
Tanpa dibayar.
Semua berpartisipasi.
Siapa di sini yang gak rindu punya pemimpin yang bisa menginspirasi sebegitu banyak orang berpartisipasi tanpa iming2 materi?





Pertarungan Prabowo vs Jokowi adalah sebenernya juga pertarungan antara PESIMISME versus OPTIMISME.

Pertarungan antara pilihan:

1. Jadi sekumpulan manusia yang pesimis bahwa diri mereka bisa berubah sendiri

Atau

2. Jadi sekumpulan manusia yang optimis bahwa yang bisa ngubah mereka ya cuma mereka sendiri.

Orang yang pesimis ngerasa butuh pemimpin yang kuat dan sedikit otoriter. Mereka rindu orde baru yang konon otoriter tapi lebih aman. Mereka ngerasa capek sama rezim SBY yang penuh ketidakpastian karena pemimpinnya ragu-ragu. Mereka adalah orang yang punya romantisme masa lalu, karena udah sering banget dikecewain sebelom-sebelomnya.

Sementara orang yang optimis ngerasa butuh pemimpin yang bisa memberdayakan rakyatnya bareng-bareng.  Mereka rindu pemimpin yang belom pernah dipunyai. Mereka percaya masih ada pemimpin baru di luar sana, bukan lagi sisaan orang2 lama dari rezim2 sebelumnya.

Orang yang pesimis ngerasa butuh polisi buat siap di semua titik jalan untuk nilang semua motor yang ngelawan arus, naik trotoar, atau mobil nerobos busway.

Sementara orang yang optimis ngerasa cuma butuh satu contact poin polisi, supaya dia bisa memberdayakan diri sendiri buat motret no polisi motor2 dan mobil2 yang ngelanggar itu buat ditindaklanjutin.

Orang yang pesimis ngerasa bahwa udah gak ada yang bisa menyelamatkan mental2 orang Indonesia yang semacam itu. “Susah deh Melayu…” “Indonesia banget dah”

Sementara orang yang optimis percaya kalo masih lebih banyak orang yang bener daripada orang yang ngawur. Makanya mereka juga percaya bahwa kalo semua orang bener itu lalu bersatu ngoreksi yang ngawur, itu bakal jauh lebih powerful daripada seorang polisi.

berapa sik jumlah petugas polisi dibanding jumlah manusia yang mau diatur?

Hari ini laporan muncul di mana-mana soal lonjakan antusiasme pemilih di luar negeri yang pemilihannya lebih dahulu daripada kita-kita yang di dalam negeri. Jauh di atas pileg kemaren atau pilpres-pilpres sebelumnya. Ada yang antri berjam-jam karena antrian mengular ratusan meter, malah sampe ada yang agak ricuh karena gak bisa ikut nyoblos.
Lagi-lagi bukti sebuah kegembiraan politik.
Lagi-lagi bukti betapa setiap orang mau ikut memberdayakan diri.

Tinggal sekarang kita yang di dalam negeri memilih tgl 9 Juli nanti.
Mau jadi bangsa yang pesimis dan maunya dimobilisasi?
Atau jadi bangsa yang optimis yang percaya kekuatan partisipasi?

Apapun pilihannya, gue bangga jadi saksi sejarah pilpres paling menggembirakan dan paling seru sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Apapun pilihan kita, mari bersama mendoakan tetap seperti ini sampai seterusnya.

MERDEKA!  *tinju ke udara*

*pelan2 buka telunjuk dan jari tengah bersamaan*


---





"Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan daku darimu
Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas"

- Kebyar-Kebyar  ~ Gombloh (1979)


060714
Kamar Kruntelan Kebagusan.
Mental. Menang. Total.


4.08.2014

Kesempatan Balas Dendam Itu Tiba

 
Pernah gak sik lo sebel banget abis beli produk apa gitu,
atau nongkrong di resto mana,
ternyata produk atau layanannya jelek banget, sampe saking sebelnya lo bersumpah gak akan beli atau dateng ke tempat itu lagi?

Gue sik sering.
Meski sering juga abis itu melunak seiring dengan waktu.
Hahaha…

Rasa-rasanya, pasti banyak bangetlah yang begitu.
Gue sering banget kok baca tweet di TL


“CAFÉ XXX SUCKS!!!!”
“XXX IS A LOUSY PLACE!!!”
dan tweet2 semacamnya yang menunjukkan protes, yang bahkan kadang ya berujung boikot.

Enak kan era social media?
Dikit-dikit komplen,
dikit-dikit minta dukung  temen-temen follower.
Kalo perlu, tweet dari followers yang dukung boikot di-RT2-in.
hahaha…

Beruntunglah kita kalo brand owner atau pemilik resto menanggapi komplen kita. Entah karena takut makin dibully, takut gak laku, atau memang sesimpel mereka punya prinsip Pelanggan adalah Raja.

Bayangin jaman belom ada socmed, satu2nya penyaluran komplen yang efektif jangan2 ya cuman surat pembaca di koran.
Itu aja antri banget --bahkan belom tentu dimuat.

Gue sendiri beberapa kali melakukan komplen di resto atau boikot produk tertentu karena beberapa alasan.
Kalo lagi rajin, bahkan gue juga suka ngompor2in ke temen gue --dengan harapan mereka ikutan boikot.
Kalo mereka terpengaruh ya syukur, kalo pun enggak ya gak papa. Tetep ada kepuasaan tersendiri aja.
Hahaha

Apalagi kalo kemudian gue secara “over-acting” sengaja membeli produk atau layanan kompetitornya.
Kayak ada kepuasan sendiri gituh.
“Mamam noh, duit gue sekarang buat kompetitor lo!”
Hahaha…

OK.
Melenceng dikit yak.
Tebak2an.

Komplen, komplen apa yang paling rame di twitter!?

Yak betul!
Komplen tentang negara, aparat, pemerintahan, politikus, anggota dewan, birokrat, teknokrat dan sejenisnya.
Entah kenapa komplen tentang ini tuh permanen banget.
Biasanya emang dipicu sama berita di media-media mainstream sik.
Baik TV, Print, Radio, maupun Online.

Kadang kita ikut sebel, ikut marah-marah, ikut komplen.
Kadang kita juga ikut lelah karena ya kayak marahin tembok aja.
Bahkan lama2 mungkin gerah dan apatis, liat orang-orang yang masih marah-marah dan komplen.

“Ngapainnnn sik loooo, menuh2in TL gue sama omelan, gak bakal didenger jugaaakkk. 
Gak bakal berubah jugaaaakk”

Mulai dari anggota Dewan yang nonton bokeplah, yang tidur mangaplah, yang asal njeplaklah, menteri ngupillah, menteri gak bisa nyanyi Indonesia Rayalah (eh itu orangnya sama ding ya? :p), pembubaran diskusi agamalah, pembubaran tempat ibadah agama minoritaslah, dll.

Semua diomelin.
Semua dicaci maki.
Semua dimensyen, bahkan diajak tweetwar –kalo perlu.
Semua.

Dulu banget gue pernah sekantor dengan temen yang sehari-hari isinya ngeluh tentang kliennya, komplen tentang load kerjaan, dan ngedumel soal gaji yang underpaid dan lain-lain.

Kalo cuman ngedumel sik gak papa, tapi kan kadang jadi pengaruh ke kerjaan juga.

Berkali-kali ditawarin pindah kagak mau.
Diajakin ngerjain inisiatif-inisiatif ad buat award juga kagak mau.
Diajak kerja hore-hore juga tetep komplen.

Apa mereka-mereka yang “tukang komplen” begini itu salah?
Ya enggak sik, congor2 mereka, suka2 merekalah komplen.

TAPI KAN MASUK KE KUPING GUE JUGA DAN LAMA2 BEGAH!

Ya nasib lo, temenan sama dia hahaha!!
*unshare* *unfriend* *unfollow*

Kembali ke soal boikot.
Kita beruntung bisa boikot produk atau brand secara langsung.
Langsung itu artinya lo bisa lakukan saat itu juga.
Kita bisa berenti beli sekarang dan bisa langsung cari penggantinya.
Atau bahkan kayak gue, yg kemudian sengaja cari pengganti yang adalah kompetitornya-- biar dendam terbalaskan!
Hahaha!!

Tapi kalo yang lo komplenin anggota DPR atau Presiden yang gantinya tiap 5 tahun? (kecuali kena Pergantian Antar Waktu, mokat, atau kena kasus)

Lo gak bisa  saat itu juga boikot.
Lo gak bisa saat itu juga banting setir ke “kompetitor”.
Lo gak bisa bales dendam senikmat kita balas dendam dengan boikot produk.
Lo akan menghabiskan bertahun-tahun ke depan lagi dengan hidup penuh omelan, makian dan cacian.
*kesehatanmu lho...*

Makanya gue besok2 ini niat ke TPS bukan karena apa2…

Peduli setan sama debat gak abis2 soal golput versi hak vs kewajiban.
Peduli setan sama debat golput bawa2 bayar pajak dan status kewarganegaraan.
Peduli setan sama orang2 yg males ngubah nasibnya tapi ngeluh berkepanjangan.

Gue cuman mau bales dendam!

Gue mau ganti itu semua anggota DPR petahana  yang tukang bolos, tukang boros, tukang tidur, tukang nonton bokep.
Gue mau ganti itu semua menteri-menteri kampret yang kagak kerja yang cuma koar2 jilat2 pantat presidennya yang bingung mau mutusin apa.

5 tahun nyeeeeettttt!
Kagak mau gue, nunggu 5 tahun lagi!

OK, SAPAAAA YANG MAU IKUT GUEEEEEEE?

*tinju ke udara*


  ---




"we're happy, free, confused, and lonely at the same time"


- 22 ~ Taylor Swift (2013)


080414
Ruang Kerja Berjamaah NRD-RDO
Golmut. Golput. Golcrut. 


Inspired by @BudiSetyarso ‘s tweet ]




12.30.2012

Hari Ibu. Hari Gini?


Apa yang paling nyebelin –sekaligus juga menyenangkan-- dari twitter?

Twitter itu… semua hal HARUS dibahas! :p
Yang gak penting dibikin penting.
Sementara yang penting dibahas berlebihan.
Kalau perlu diperdebatkan berlarut-larut, malah.

Beberapa tahun intens main di sosial media yang satu ini, kadang bisa membuat kita jadi ‘ahli nujum’.  :D

Bisa nebak kira-kira apa yg bakal ramai dan kayak apa ramainya di twitter.

Contohnya Hari Ibu, 22 Desember ini.
Sudah hampir bisa dipastiin tweet-tweet bakal banyak diisi testimonial dan ‘puja-puji,’ plus kalimat-kalimat inspirasional tentang Ibunda masing-masing.

Biasanya bakal ada beberapa seri tweet yang bercerita slice of life kehidupannya dan gimana hebatnya sang ibu.

Biasanya tweet-tweet sejenis itu bakal nerima sambutan –sekaligus ‘sambitan’—dari yang lain.

Sambutannya tentu yang positif dan ngerasa ikut terinspirasi sama tweet-tweet jenis beginia. Tapi yang nyinyir dan ngasih sambitan, juga pasti bakal bermunculan.

Sambitannya bentuknya bisa sebuah pertanyaan:
“Harusnya gak perlu ada tuh hari ibu. Kan tiap hari harusnya jadi hari ibu. Emangnya elo cuman ngehargain nyokap lo setahun sekali?”

Atau:
“Eh kalo emang elo ngehargain nyokap lo, ya ngomong langsung sana, kok malah ngomong ke twitter…”

Oh! Oh! Oh!
Belom selesaaaiii!
Jangan lupa, ada yang biasanya lebih keras dengan ngebahas dari sisi lain:
“Yang bener itu Hari Perempuan. Bukan Hari Ibu! Jadi hari ini tuh milik semua perempuan, bukan cuman kaum ibu! “

Perdebatan biasanya kemudian makin seru dan makin meluas yang kadang-kadang bahkan ujung-ujungnya melebar jadi ‘perang gender’ he he..

Tapi mari kita lihat dari sisi baiknya.
Ini artinya semua orang ngerasa Hari Ibu itu penting.
Atau paling gak cukup penting untuk dijadikan isu penting.
Atau paling gak…. cukup penting untuk semua orang ngerasa jadi orang penting dengan ngebahasnya di twitter. :))

Mungkin karena tiap orang pasti lahir dari seorang ibu.
Laki-laki maupun perempuan.
Gak ada satupun manusia di dunia ini yang gak lahir dari rahim seorang ibu.

Konon, rasa sakit waktu ngelahirin anak itu, adalah rasa sakit yang paling luar biasa yang bisa dirasain oleh seorang manusia.
Gue pake kata ‘konon’ tentunya karena gue gak pernah dan gak bakal bisa ngelahirin, jadi gak tauk rasanya.

Rasa sakit yang paling luar biasa yang pernah gue rasain cuma waktu timnas Indonesia dikalahin Malaysia di SEA Games 2011 atau AFF Cup 2010 dan 2012…. *tsaaaah…

Baiklah.
Kembali ke soal ibu.
Apa yang membedakan saat kita masih single dengan saat kita sudah menikah dan punya anak?

Buat gue pribadi perubahannya itu adalah: penghargaan gue ke orang tua gue mendadak berubah drastis.
Jadi orang tua itu berarti menempatkan diri kita pada posisi yang sama dengan orang tua kita, waktu membesarkan kita.

Yang artinya ngerasain sendiri betapa sulitnya bagi waktu, pikiran, perhatian, dan tenaga buat anak-anak kita.

Jadi orang tua itu ternyata gak gampaaaangggggg, boooooookkkkk!

Ini  ‘memaksa’ kita mengagumi seorang perempuan yang menjadi ibu.

Sebagai seorang anak laki-laki –kebetulan satu2nya-- dari empat bersaudara. Gak heran kalo gue cukup dekat sama nyokap. Kata orang, anak laki-laki memang lebih mudah dekat sama nyokap. Paling gak itu yang terjadi dalam kasus gue, karena nyokap gue adalah seorang ibu rumah tangga, yang artinya secara keseharian akan lebih banyak waktu yang gue habiskan sama beliau daripada sama bokap gue.

Pada waktu nulis ini kebetulan dua anak gue lagi gak enak badan. Anak gue cewek yang pertama, Naia 8 tahun,  dan anak gue cowok yang kedua, El 20 bulan, sama-sama lagi demam panas. Kebayang kan kalau dua anak gak enak badan? 
Merengek penuh manja.
Sasaran kemanjaannya sudah hampir pasti bundanya.
Dua-duanya cuma mau tidur sama bundanya.
Inilah momen-momen di mana Ayah gak laku! :)))

Memori gue pun langsung jatuh ke nyokap.
Kayak gimana ya kira-kira kalau keempat anaknya waktu itu sakit berbarengan?
Ngadepin rengekan keempat anaknya yang kurang enak badan, pasti adalah sebuah ‘teror’ yang melelahkan.
Yang gue rasain dengan dua anak saja udah melelahkan, apalagi dengan empat anak.
Gak kebayang lagi kalau seorang Ibu yang punya lebih dari empat anak…

Dengan pengalaman seperti itu, gak heran, nyokap gue sering ikutan ngasih nasihat-nasihat soal mengasuh dan membesarkan anak.
Nasihat-nasihat yang sering gue salahartikan sebagai keikutcampuran.
Nasihat-nasihat yang sering gue abaikan karena kekunoannya…

Padahal,
dengan segala keterbatasan finansialnya waktu itu,  dengan segala keterbatasan akses informasi di masa itu, beliau berhasil bahu-membahu sama bokap, menunaikan tugasnya sebagai orang tua, membesarkan 4 anak dengan selisih 2-3 tahunan antar anak, biayain sekolahnya, ngasih makan, mengasuh, nyediain waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian buat empat orang anaknya dengan adil.

(Iya sih sekarang bisa bilang adil, dulu aja ngerasa dibeda-bedain :p)


Jadi…
Apapun itu namanya,
Hari Ibu atau Hari Perempuan, memang layak untuk kita rayain.
Paling  gak itu bakal ngingetin kita bahwa ada seorang perempuan yang berjasa membesarkan kita jadi kayak sekarang.

Sama kayak kita merayakan hari kemerdekaan buat ngingetin kita udah merdeka dari jajahan bangsa asing …

Makanya, maaf, kalau hari gini, masih pada berdebat soal Hari Ibu.
Gue malas ikutan.
Gue lebih pilih ngabisin energi buat meluk perempuan-perempuan yang ada di sekitar gue.
Terutama yang udah jadi ibu.

Selamat Hari Ibu, teman-teman…



---

Shadow boxing when I heard you on the radio

I just don't know
What made you forget that I was raw?
But now I got a new tour

- Mama Said Knock You Out ~ LL Cool J (1990)

181212
Ruang Ijo Gantinya Ruang Kuning Narrada Lt 2
Ibu. Bapak. Anak..



[uncut & casual version blog postingan gue di Ayahbunda  ]

8.03.2012

Kepo Membunuh Kucing



















Sering denger dong kata “kepo”?
Yap. Populer gegara twitter.
Saking populernya, bahkan tadinya gue sempet bikin configurasi kata “Kepo” waktu bikin TTS di sebuah majalah. Sayang kemudian karena keterbatasan space, akhirnya terpaksa gue ganti –iya itu foto di atas, tadinya :)

Kepo konon berasal dari kata “kay poh”, sebuah kata Singlish yang artinya: Someone who interferes with others; one who is nosy, intrusive or meddlesome” ~ wiktionary

Terjemahan bebasnya mungkin keikutcampuran.
Atau keingintahuan.
Atau kepengentauan.
Atau apalah itu.

Yang pasti keingintahuan itu emang salah satu sifat dasar manusia.

Gak perlulah lama-lama mantau timeline twitter kalo cuma mau liat “ke-kepo-an” bin keingintahuan.

Pancing aja pake satu tweet .

Dyarrr.
Boong aja, kalo abis itu gak banyak yang kepo dan nyamberhore. :))
Cek aja reply-an dan mentionnya. :p
(Malah ternyata ada yang sampe DM segala HAHAHAHA)

Kata orang, keingintahuan jugalah yang bikin umat manusia bisa lebih maju daripada makhluk hidup lain. Banyak perkembangan teknologi, penemuan-penemuan, dan inovasi yang terjadi ‘akibat’ sebuah keingintahuan manusia akan suatu hal.

Keingintahuan tentang asal usul manusia dan soal keberadaannya di alam semesta, misalnya, ternyata udah menciptakan berbagai macam usaha-usaha dan pengembangan-pengembangan teknologi, seperti eksplorasi luar angkasa.

Gak usah sejauh teknologi kayak gitu,  bahkan filosofis keingintahuan pun bisa menginspirasi lahirnya film keren-nya Jodie Foster, Contact (1997). --Meski sayang juga mendasari lahirnya film busuk, Prometheus (2012) *sigh* 

Itulah.

Keingintahuan itu pisau bermata dua.
Selain mendasari hal-hal yang positif, pastinya ada yang negatif juga.
Kayak orang bule bilang: “curiosity killed the cat”
Keingintahuan juga bisa bikin kita celaka.

Udah sering kejadian, gara-gara sebuah kecelakaan, terjadi kecelakaan berikutnya. 
Cuman gara-gara si pengemudi yang melintas, pengen tauan ada kecelakaan apa. 
Dianya sendiri jadi meleng dan nabrak mobil depannya.
Geblek.

Yang juga sama bahayanya itu adalah keingintahuan yang dilakuin di dunia maya.

Kenapa?
Karena kadang begitu gede keingintahuannya, sampai lupa buat hati-hati dan gak sadar akan konsekuensi dari tindakannya.

Udah bukan cerita baru, cuman karena pengen tauan pengguna internet kepancing sama link berjudul  “Video terbaru Ariel” lalu tiba-tiba kena virus spam.

Keingintahuan seseorang yang kurang hati-hati dan main ngeklak ngeklik link. Bahkan bisa bikin kena phising,  password akun email atau akun socmednya kebobol. Kiamat kan?

Beberapa lainnya malah punya keingintahuan, tapi males baca permission, terms and condition, dan sejenisnya, pas nge-authorize sesuatu. Begitu udah kejadian kemudian ngomel-ngomel kayak anak kecil.

Atau yang paling sederhana, seorang jomblo yang kepengentauan, kemudian baca2 timeline twitter mantannya. Begitu tau mantannya lagi sama pacar barunya, langsung nangis-nangis garuk-garuk aspal.  Gak konsen kerja. HAHAHAHAHA! 
*ngakak2 sambil nunjuk2*

Internet & keingintahuan.
Dua hal yang saling melengkapi dan saling membesarkan.

Idealnya juga seharusnya ikut melengkapi dan membesarkan kita penggunanya, menjadi dewasa.
Bukan justru sebaliknya, bikin kita kayak anak kecil.
Atau malah mati kayak anak kucing.

Bahwa masih ada yang milih jadi anak kecil atau mati kayak anak kucing, ya itu pilihan.
Silakan dinikmati pilihannya… :)


---

Now I'm paralyzed
Still stuck in that time
When we called it love
But even the sun sets in paradise
- Payphone ~ Maroon 5 feat Wiz Khalifa (2012)

030812
Ruang Ijo Gantinya Ruang Kuning Narrada Lt 2
Country. Kampung. Ndesit.





3.15.2012

Pengalaman Itu Guru


















Banyak yang bilang: pengalaman adalah guru yang baik.
Iya. Bener.
Gue lumayan dapet banyak pelajaran dari pengalaman.
(Woyy ini gak ada hubungannya sama umur yaaaa!! :p)

Salah satunya adalah pengalaman kehilangan Lintang.
Dari situ gue belajar bahwa sepahit dan sepedih apapun cobaan yang kita dapet, sebisa mungkin, kita secepatnya move on.

Move on.
Dua kata yang sekarang makin populer gegara twitter.

Gampang diucap, gak gampang dilakuin…

Beberapa bulan lalu dua teman baik gue, Nana dan juga Fe, ngalamin hal yang sama.
Mereka keilangan jabang bayi mereka yang udah ditunggu-tunggu banget.

Kalimat pertama –dan satu-satunya-- yang gue sampein ke mereka adalah:

“Diikhlasin ya…”

Gue tahu itu yang terpenting.
Sekaligus gue tahu itu yang tersulit.

Pengalamanlah yang bikin gue tahu
Dan bikin gue lebih bisa berempati.

Tapi hati-hati.
Pengalaman itu dua mata pisau.

Karena pengalaman jugalah, yang kadang bikin orang jadi SOK TAHU dan GAK SIMPATIK.
Pengalaman bisa dengan mudah bikin orang tepok dada, “Gue tahu banget”
Pengalaman bisa dengan mudah bikin orang mengecilkan orang lain, yang lagi ngalamin peristiwa yang sama.

Bayangin aja, kalo gue kemaren tergelincir dengan ngomong ke Nana atau Fe:

“Udah jangan dipikirin, jangan sedih terus-terusan, gak ada gunanya. Harus cepet dilupain tuh. Kayak gue dulu…”

Desssss….

Pasti dalam hitungan detik mereka berdua akan sebel ke gue.
Males dengernya.
Lagi sedih keilangan jabang bayi kaleeeeee….


Pengalaman bisa jadi adalah guru yang baik.
Tapi pengalaman juga bisa jadi guru yang jahat.
(Ada ya guru jahat? Guru killer gituh istilahnya kalo jaman gue sekolah? :p )

Ada lho orang yang  gara-gara ngerasa berpengalaman, terus membuat dirinya menjadi seorang pakar.
Nggak salah, sik.
Tapi  ya nggak sepenuhnya bener juga.

Contohnya,
Berkali-kali nikah-cerai, bukan berarti bikin seseorang jadi ahli pernikahan kan, BETUUUUL? *intonasi ala AA Gym*

Sering nabrak atau nyrempet mobil gak berarti bikin seseorang jadi pakar lalu lintas kan? –suruh jadi anggota KNKT ajah…

Orang yang punya pengalaman sembuh dari berbagai macam penyakit bukan berarti dia bisa jadi dokter kan? –testimoni DRTV aja deh

Orang yang pola hidupnya sehat sepanjang waktu pun bukan berarti boleh ngasih konsultasi kesehatan seperti pakar medis kan? –Pfffttt…

Orang yang main twitter & facebook sejak lama pun bukan berarti terus bisa pake julukan Social Media Guru kan di kartu namanya? –NOKOMEN!!

bla bla bla bla bla bla…

Pengalaman, kata orang itu mahal.
Gak bisa dibeli, kayak orang beli vote atau followers :p
Tapi kan bukan berarti kalo kita punya, trus jadinya dipake buat gagah2an atau ngecilin orang lain.
Mending dipake buat ngembangin diri sendiri.
Buat learning untuk kita supaya lebih baik di masa depan.

Misalnya,
udah pengalaman satu periode punya presiden kayak gitu, kok ya masih milih lagi periode berikutnya… :DDD
Yang udah pengalaman punya gubernur ahli omdo soal macet dan banjir, mbok nanti dipake buat ngingetin diri sendiri pas pilkada jangan dipilih lagi… :p

Kita berada di era sosial media, di mana derasnya akses informasi dan demokratisasi suara plus konten, --sedikit-- memerdekakan kita dari kungkungan rezim korporasi dan kapitalis.
Alhasil semua informasi tumplek blek jadi satu--termasuk pengalaman banyak orang yang di-share.
Simpang siur.

Tapi jangan lupa.
akal sehat masih tetap harus dipiara.
Karena akal sehat adalah karunia Yang Maha Di Atas.
Sebuah tools yang cuman dimiliki makhluk hidup bernama manusia...
 
BETUL!??
FAHAM!!?
ALHAMDU….?


..LILLAAAAAAAHHHHHH (koor anak2 singkong)



Special thanks buat Najwa Shihab & Fe Utomo buat izin berbagi ceritanya sedikit


---

Do you ever feel already buried deep?
Six feet under screams, but no one seems to hear a thing
Do you know that there's still a chance for you?
Cause there's a spark in you
- Fireworks ~ Katy Perry (2010)

150312
Ruang Ijo Gantinya Ruang Kuning Narrada Lt 2
Kibulan. Nyibulan. Bulan.


7.29.2011

#BARU





Punya satu hal yang #baru itu biasanya ada excitement tertentu.

Misalnya punya gadget #baru.
Dioprek ampe lupa makan lupa tidur.
Malah ada yang bela-belain mantengin livestreaming cuman buat dengerin Steve Jobs ngelaunch produk2 atau OS terbarunya (dan ngetweet menuh2in timeline hahaha..)

Atau punya gebetan #baru.
Dipamer-pamerin di timeline, profile picture, atau foto2 di FB. *ngikik*
Ngalah2in yang suka pamer gadget baru malah hahaha…

Tapi gak papa.
Itu manusiawi.
Niatnya mungkin bukan pamer, tapi karena over-excited aja.

Kayak contohnya gue kemaren ini yang #baru pertama kali ke Hong Kong atas belas kasihan simPATI Friday Movie Mania.
Sempet bikin sirik beberapa orang di timeline.
Maap yaaaaa, gue over-excited aja kok itu, gak niat pamer.
(Anak-anak: “Boonggg itu emang niat pamerrrrrr!!!!”)
(Gue: “Iya, sik. Dikiiiit… :p” )
*ngikik*

Tahun ini, gue dikasih beberapa hal yang #baru sama Yang Maha di Atas.
Kelahiran El, anak laki-laki gue April lalu adalah salah satunya.
Dan punya anak itu, artinya elo akan menerima secara bertubi-tubi berbagai hal #baru lainnya yang sensasinya sensasional. (ih redundant…)
Mulai dari: #baru pertama tengkurep, #baru pertama kali ndongak, #baru pertama kali makan makanan pendamping ASI dst .
Suatu berkah yang gak akan terlupakan.

Pada umumnya orang ketika dapetin sesuatu yang #baru, maka dia bakal ngelupain yang lama.
Wajar banget.

Coba tanya yang punya mobil #baru.
Pasti cenderung ngejual mobilnya yang lama, kan?

Coba tanya yang punya pacar atau gebetan #baru.
Pasti yang lama di-dump kan?
Dijadiin mantan. (ih gue #termomo beut sik? :p )

Tapi nyatanya gak semua kayak begitu.
Hari ini, gue gak pernah berhenti meluk, ngerangkul, nggandeng, nyiumin Naia, meski udah ada El.

Hari ini masih banyak orang yang punya gadget sampe 3 biji.
Gadget lamanya disimpen meski udah ada gadget #baru.

Hari ini masih ada Tifatul dan BHD.
Yang istri lamanya masih disimpen meski udah punya istri #baru. *eh? *tiarap*

Hari ini gue masih bertemen dengan temen SD slash sahabat baik gue, Ijoen. Bertemen dengan temen SMP slash kembaran gue, Shanti. Meski gue punya banyak temen #baru dari Twitter.

Hari ini gue masih anggap teman-teman Narrada gue sebagai teman-teman baik gue, meski Senin gue udah gak lagi di sini. (Dem, gue berkaca2…).

Karena buat gue,
Apa yang hari ini baru, toh besok udah berubah jadi lama.
Dan nyaris gak ada untungnya kita melabeli segala sesuatu dengan lama dan baru.
Terutama buat sebuah persahabatan.
Makasih ya teman teman…
Doain gue.

Elo2. Gue. Nggak End.


Dedicated to:
Rico, Ilya, Iyo, Joe, Andri, Meiwa, Budi W, Yanti, Lisda, Anna, Mike, Vella, Windy, Adhit, Nia, Ardi 'Gendud', Myrna, Widi, Ferry “Peyi’, Panda, Devy, Shinta, Abby, Riri, Jeffry, Diah, Ipoets, Elita, Muti, Santy, Phillips, Mel, Ican, Rey, Budi Botol, Irwan ‘Kojay’, Avi, Widi ‘Bebsy’, Dea, Friska, Tonny, Ian, Yayuk, Dini, Jalis, Masyuri, Pak Wandi, Pak Makmun, Ronnie Cyin, Pak Kasino, Martinus dkk. Romijo perlu juga gak ya? Hahaha..

---

Never say goodbye
You and me and my old friends
Hoping it would never end
- Never Say Goodbye ~ Bon Jovi (1987)

300711
Ruang Miting Sekaligus Ruang Merokok Narrada Lt 1
Last. Not Least. Netes.


7.25.2011

Friday Movie Mania Hong Kong bareng simPATI




8-11 Juli 2011

@sheque
@thomasarie
@masova
@tikabanget
@ismanhs
@hertju
@yshakuntala
@simikey
@vellav
@vaiyo
@farizvanjava
@willyarmany
@podelz
@tengku_ferdi

7.19.2011

Privilege





Beberapa minggu lalu, gue dan beberapa orang lain, beruntung diajak jalan-jalan sama simPATI ke Hong Kong untuk nonton Transformers 3: Dark of the Moon, dalam rangka SimPATI Friday Movie Mania #FMMHongKong. 

Yah seperti yang lo-lo pada tau, film-film Hollywood, sampe waktu gue nulis ini, masih belom pada masuk Indonesia.

Jadi, Barengan sama Mumu, Thomas, Ova, Tika, Rangga, Isman, Mike, Vella, Iyo, Hery, Yeni, Fariz dan ‘tuan rumah’ Ferdi, Willy, dan Fadhel, kita ngerasain nikmatnya dapet privilege untuk nonton duluan dibanding beberapa juta manusia di Indonesia … :)

Ya, privilege.
Keistimewaan.

Hampir semua orang, pengen diistimewakan.
Dalam hal apapun.

Dulu jaman gue belum jadi mualaf, makan babi itu jadi keistimewaan. Sering banget ikut makan ke Kota bareng temen-temen, padahal gue sebenernya gak doyan-doyan amat. Tapi gue makan lebih karena ngerasain itu sebagai keistimewaan saat temen-temen gue yang muslim pada gak boleh makan … ha ha ha

Sementara kalo buat pejabat, keistimewaan itu yang dirasain pas berkendara di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta dan ditemani voorrijder.
Kalo perlu nyikat jalur busway sekalian.
Biar aja yang lain sana ngerasain Macet Foke!! :)


Buat seleb atau figur publik,
keistimewaan itu bisa jadi dirasain waktu ke tempat umum.
Misalnya masuk ke event tertentu tanpa harus antri.
Atau dapet pelayanan ekstra, waktu nyervis di toko komputer-- sampe komputernya dilap berkilap sama mas-masnya… #nomention :D

Buat media, keistimewaan itu kayak waktu dapet wawancara dari narasumber tertentu yang susah banget didapetin—misalnya Nazaruddin live nelpon dari tempat persembunyiannya yang entah di mana, kayak MetroTV barusan.

Btw, bangsat emang tuh si Nazaruddin. *nyempetin maki di sini* :p

Buat sebagian orang yang aktif di socmed, keistimewaan itu kadang dirasain waktu dapet informasi duluan, dibanding orang-orang lain yang gak aktif di socmed. Mulai dari info gempa, kerusuhan, gosip artis, politik, tiket murah, kuis berhadiah, sampe ketololan2 miskominfo dan menkurham.

Begitu ‘hausnya’ orang supaya dapat keistimewaan, kadang sampe menghalalkan segala cara buat ngedapetinnya.

Ada yang bela-belain pake lambang DPR di plat nomer mobil biar boleh nerobos jalur busway.
Ada TVOon yang tengsin berat karena sampe malsuin narasumbernya. Ketauan pulak!
Ada so_called pakar telematik wasaikar wasaitik,  yang pake status anggota DPR-nya buat maksa ikut flight yang bukan haknya. (Jieee Ernest..
:p )

Orang kadang lupa bahwa keistimewaan itu meski nikmat,
bukanlah segala-galanya.
Apalagi kalo sampe mengorbankan hal-hal yang baik.


Orang kadang lupa bahwa keistimewaan itu diraih seiring dengan pencapaian yang kita capai secara becapai-capai. *hadeuh* #kusut :)


***

Malem ke 3 di Hong Kong.

Gue bertiga sama Thomas, Vella, dan Mike, lewat tengah malem, terdampar di daerah Kowloon.
MTR udah tutup dan taksi-taksi kita cegat gak ada yang mau.
Kampret banget.
Entah karena muke juteknya Mike, muke melasnya Thomas, muke ndesonya Vella, atau muke jompo gue,  yang pasti ada 10 an taksi kita cegat gak ada yang mau.

Saat itu juga gue langsung rindu tengah malam di Jakarta.
Rindu 7Elevennya yang bisa ditongkrongin (gaya loooo Seq sok mudaaaa).
Rindu ramah orang-orangnya.
Rindu ini, rindu itu.

Akhirnya  kita dapetin sopir taksi baek yang mau nganter kita balik hotel.
Malem itu gue nunggu ngantuk dengan nongkrong di kamar Vella dan Mike bareng Thomas.
Nikmatin privilege merokok di dalem kamar.
(Kamar mereka berdua memang satu2nya kamar rombongan yang terletak di lantai yang boleh ngerokok.)

Di tengah hembusan asep Dji Sam Soe dan kaki yang rasanya mau copot itu gue berpikir satu hal.

Kita kadang terlalu napsu mengejar dan mendambakan keistimewaan-keistimewaan yang belum kita miliki.
Kita kadang lupa.
Bahwa hidup yang sedang kita jalani,
adalah keistimewaan tersendiri…


---

cause baby you're a firework
come on show 'em what you're worth
make 'em go "oh"

as you shoot across the sky

- Fireworks ~ Katy Perry (2010)

Lt II Narrada, Ruangan Kuning
190711
Oh. Oh. Oh.