8.30.2006

Sindroma Inferior





Katanya bangsa Indonesia itu kelamaan dijajah, sampe gak punya harga diri.
Mulai dijajah Belanda, dijajah Inggris, dijajah Jepang, dijajah Soeharto, sampe dijajah infotainment, membuat kita menjadi bangsa yang inferior.
(Desainer Inferior? Haiyah….)

Paling tidak itu yang dipercayai oleh sebagian besar orang Indonesia sendiri.
Ngeliat ada orang nyerobot antrian,
Ngeliat orang dateng telat,
Ngeliat bonek, bobotoh, dan jakmania rusuh,
Ngeliat orang2 rebutan keliatan sorot kamera di belakang reporter,
Ngeliat negatif ini,
Ngeliat negatif itu,

Langsung yang keluar: “Dasar melayuuuuuuuu…”

( + Padahal Melayu kan gak Indonesia doang?
- Lho Melayu itu Jawa lho… Melayu karo Melaku…haiyaahhhhh!!!)

Mungkin itu juga yang ada di otak Nadine, waktu dia milih pake bahasa Inggris belepotan daripada bahasa Indonesia pas diinterview di ajang Miss Universe.

Mungkin itu juga yang ada di otak salah satu mantan rekan kerja gue, waktu dia ngomong:
I mean, cmon, geto lowh… at the end of the day kita bisa menunjukkan how lengkapnya servis kita…”

(Dan biasanya gue akan menundukkan kepala sambil melakukan ketololan yang sama, bergumam, “Owhh pllleaseeee…” =p )

Di timnas sepakbola, kita bisa ngeliat Ponaryo Astaman dkk, keliatan banget “minder” ngadepin musuh, meskipun masih di level Asia Tenggara. Kadang keliatan kurang konfrontatif buat ngerusak emosi lawan. Nrimo ing pandum bola dan keputusan wasit.

Dulu gue paling sebel sama salah satu kakak gue.
Karena sindroma inferior, makanya dia itu selalu memosisikan diri sebagai orang yang perlu dikasihani.

Kalo gue cerita ke dia bahwa gue dan temen-temen gue ke Fire atau Musro (anjrittttttt ketauan banget angkatannyaaaaa), dia bakal ngomong:
“Disko tuh kayak gimana sih??? Aku tuh belum pernah ke disko…”

Atau kalo gue ngebahas tipe-tipe HP terbaru (padahal cuman ngebahas lho…secara HP Nokia 3650 gue dah gue pake hampir 3 tahun!!!) , langsung dia nyamber:
“ Wah canggih-canggih banget ya, kalo punyaku boro-boro ada kamera, layar aja masih monochrome…”

Sesebel-sebelnya gue dengan segala sindroma inferior, tapi ternyata lebih pedih lagi punya sindrom superior.
Seperti yang gue rasain saat tumbang di final pitch sebuah bank beberapa minggu lalu.
Dengan segala keoptimisan dan rasa superior ternyata membuat sebuah kekalahan itu begitu menyakitkan.

Gue jadi tauk rasanya Brazil, Inggris, dan Jerman di Piala Dunia kemaren…

But anyway…. (Anak2: SEEEEEEEEKKKKKKK!!!)
Entah karena itu atau enggak,
tapi gejala sindroma inferior menghinggapi gue belakangan ini.
Sindroma yang sebenernya punya bibit tumbuh subur dalam diri gue dari dulu dan mati-matian berusaha gue kontrasepsikan biar gak berkembang, ternyata tiba-tiba menyeruak.

Kenapa Sek, kenapa? Ha? Ha?


Well I guess...karena gue orang Indonesia….”

I guess mbelgedessz!!!




Meja baru di "pojokan nekat ngerokok" Adwork.
300806
Miss? Missed? Mistress...

8.11.2006

Perjalanan Waktu








Sinar matahari jatuh di keningnya.
Sesaat kulihat dia berkernyit.
Guratan usia tampak bertumpuk di kepalanya.
Satu, dua,..
Keinginanku untuk menghitung hilang seketika.
Kata orang hidup itu bukan matematika.
Dan memang,
karena lalu lintas Jakarta pun membenarkannya.
Sekaligus membenamkannya.
Sorot matanya masih tajam.
Kadang bergerak liar.
Sorot yang sering membuatku bergidik.
Entah kapan saja kutak ingat semua.
Tapi yang kutahu
tak cuma sorot seperti itu yang dia punya.
Dia juga kadang punya semburat kehangatan.

Kali ini sorot matakulah yang jatuh ke perutnya.
Timbunan lemak tak lagi bisa disamarkan.
Oleh baju lamanya yang sudah melar tak karuan.
Tak ada sedikitpun kesempurnaan di perawakannya.
Termasuk lengan besarnya yang bertulang kecil.
Termasuk uban sporadis di kepalanya.
Termasuk anting di telinga kirinya.
Termasuk bibir tebalnya yg kehitaman
yang sejurus kemudian sudah mengepulkan asap
Membuatku menutup hidung dengan perlahan.
Kuintip sederet gigi yang tak rapi muncul di balik bibirnya.
Membuatnya makin tampak mengerikan
buat orang lain.
Tapi entah kenapa,
tidak buatku.

Tiba-tiba,
jemarinya yang berkuku panjang menyapa kulit rambutku.
Aku diam tak bergerak.
Perlahan jemarinya turun menelusuri wajahku.
Aku tak berusaha menghentikannya.
Kehangatan terasa di tiap sentuhannya.
Kemudian dia mendekatkan mukanya ke mukaku.
Bau rokok kretek khas tercium dengan jelas.
Bibirnya yang hitam menghampiri bibirku.
Dan dia mulai mengecup bibirku.
Kemudian dahiku.
Kedua pipiku.

Dan aku membalas.
Mencium dahinya.
Hidungnya.
Bibirnya.
Dan dagunya.

Sebuah kebiasaan
yang katanya sudah kulakukan dari saat umur 1,5 tahun

“Ati-ati pulangnya ya, Nai….”

Seperti biasa.
Aku tak pernah bisa membedakan.
Apakah ia memanggilku “nak” atau “Nai”.

“Iya, Pa. Doain Naia ya. Papa juga ati-ati ke kantor. Jangan panasan kalo nyetir “

Dia cuma terkekeh.
Aku mencium punggung tangannya.
Kemudian turun dari mobil.
Dia menggoyangkan lengannya berputar berporoskan siku
Dadah Miss Universe, kami menyebutnya.

Mobil bergerak.
Tinggalkanku berdiri di depan sekolah.
Masih memandanginya di kejauhan

Memandangi papaku.
Yang aku sadar jauh dari kesempurnaan.
Tapi kutahu dia mencintaiku sepenuh hatinya….




You know, that in twenty years or more,
You still look the same as you do today.
You'll still be a young girl, when I'm old and grey.
- Genesis ~ Anything She Does (1987)






Meja di Adwork dengan sebotol cap tikus di atasnya.
110806
Lust. Lost. Love.

7.11.2006

Pelajaran Yang Tersisa






Di sebuah kelas Fakultas Hukum, Marcello Lippi maju ke depan dengan cerutu di mulutnya.
Dia bicara panjang lebar tentang arti sebuah kerja keras.
Tentang proses panjang menuju sebuah tujuan.
Seluruh isi kelas manggut-manggut.
Mereka tak berani menyangkal kebenaran isi kuliahnya hari itu.
Mereka semua menjadi saksi keberhasilan tim Italia yang dibentuknya dengan solid.
Mulai dari melibas Jerman di partai pemanasan di Firenze, dengan skor telak 4-1, sampai di laga pamuncak mengandaskan Perancis 6-5 lewat adu penalti di Berlin, tim Italia tak pernah terkalahkan.
Determinasi, strategi, permainan cantik menyerang diramu dengan cattenacio, menjadi resepnya.
Dan Piala Dunia di tangannya, menjadi buktinya.

Setelah itu Zinedine Zidane maju ke depan.
Kali ini seisi kelas manggut-manggut mendengar isi kuliah Zizou tentang kehidupan seorang manusia.
Dia bicara tentang perjalanan panjang hidup seorang manusia yang penuh dengan pasang surut.
Tentang manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, yang tak pernah sesempurna penciptanya.
Lagi-lagi mereka tak berani menyangkal kebenaran isi kuliah itu.
Mereka semua memelototi rekaman perjalanan roller coaster Zizou, mulai dari Girondins de Bordeaux, Juventus, Real Madrid.
Mulai Dari WC 1998, 2002, sampai 2006.
Keseimbangan skill dan mental menjadi resep kehidupannya.
Baik dan buruk adalah hasil dari komposisinya.
Golden Ball 2006 dan Kartu Merah adalah buktinya.

Giliran Horacio Elizondo maju ke depan.
Dia bicara soal keadilan.
Dia bicara soal keberanian.
Dia bicara soal esensi pepatah yang sudah lama mereka kenal: "Berani karena Benar"
Dan sekali lagi mereka manggut-manggut.
Mereka memangguti performa Elizondo di tengah kritik buruknya kinerja wasit di WC 2006.
Mereka memangguti keberaniannya bersikap adil, tanpa pandang bulu.
Siapapun bersalah, meskipun bintang seperti Rooney atau dewa seperti Zizou, ya harus dihukum.

Kuliah pun selesai.
Tiga tamu kehormatan, Mendiknas Bambang Sudibyo, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dan Wapres Jusuf Kalla pun dipersilakan maju ke depan untuk menyampaikan satu patah dua patah kata.
Sebelum nantinya memukul gong, sebagai penutupan secara simbolis, kuliah singkat tersebut.

Mereka bertiga kemudian bergantian menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tiga dosen tamu tersebut.
Sambil bergantian memberi petuah yang intinya sama: agar para mahasiswa memahami isi kuliah tersebut, mengambil esensinya yang begitu berharga, sebagai pijakan untuk kehidupan dan masa depan para mahasiswa sendiri.

Seorang mahasiswa berdiri.
"Maaf bapak-bapak terhormat.
Kalo benar bapak setuju dengan esensinya pak Lippi, Pak Zidane dan Pak Elizondo, lalu mengapa itu tidak keliatan dr pemikiran dan perilaku Anda bertiga ya?"

Kelas bergemuruh.

"Kebijakan Mendiknas mengadakan Ujian Nasional sama sekali tidak menghargai kerja keras anak-anak sepanjang tahun.
Hanya dalam sehari kerja keras setahun hilang begitu saja.
Hidup matinya seseorang bisa dibalik semudah membalik kertas.
Lihatlah Pak Zidane.
Kesalahannya di partai final, tidak memupus kerja kerasnya sepanjang turnamen.
Dia masih tetap terpilih sebagai Pemain terbaik World Cup 2006.

Ucapan Bapak Wapres yang mau menjadikan janda-janda di daerah puncak menjalankan kawin kontrak supaya menarik wisatawan TimTeng, sangat-sangat tidak memanusiakan manusia.
Pemerintah tak mau kerja keras menyediakan mereka lapangan kerja, dan lebih memilih cara instant dengan melacurkan mereka.
Pemerintah tak menganggap mereka manusia, karena bukan saja tak berusaha meningkatkan skill mereka, tapi juga justru memarjinalkan mental mereka.

Keputusan Pak Ketua MA yang tidak mau datang sebagai saksi di pengadilan Tipikor tidak menggambarkan keadilan.
Merasa dirinya sebagai Dewa yang tak tersentuh.
Boro-boro dikartumerah, diperiksapun tak mau.
Sebaliknya Pak Ketua MA malah "memanusiakan" hakim dengan cara menerbitkan peraturan MA yang membolehkan hakim menerima pemberian..."

Kelas hening.
Semua orang manggut-manggut.
mahasiswa tadi maju ke depan, mengambil pemukul gong.

"Pelajaran sudah selesai..."

GOOOOONGGGGG!!!!!




Meja di Adwork dengan poster jadwal WC 2006 yang terkelupas.
110706
Ole. Ole. Oleh-oleh...

6.30.2006

Kiprah Para Pengadil





Ada kisah kocak di jaman gue SMA.
Di PL itu ada aturan yang tidak tertulis (atau jangan2 di semua SMA?) bahwa kalo ada murid yang 2 kali berturut2 veteran, dia langsung dikeluarin dari sekolahan.
Cuman ada satu orang yang gak kena itu.

The Living Legend itu bernama Moh. Slamet Darmadjaja alias Memet.
Dia ketika gue kelas 3 SMP, dia udah di SMA kelas I.
Karena veteran dia jadi angkatan gue pas gue masuk SMA PL (rese banget pula pas ospek)
Pas gue naik ke kelas 2 SMA, dia lagi-lagi veteran.
Dan entah apa yg ada di benak Bruder Michael a.k.a Benyek, kepsek gue, yang pasti Memet dikasih kesempatan 1 tahun lagi.
Mungkin karena melas.
Atau karena ngeliat keteguhan hati Memet yg begitu cinta PL( padahal udah gak dinaikin 2 kali...Ha ha ha...)

Tapi pasti bukan atas pertimbangan yang sama, makanya Graham Poll ngasih tiga kartu kuning ke Josip Simunic, back Kroasia pas pertandingan terakhir sekaligus penentuan di grup F, antara Kroasia vs Australia.

Poll, yang terkenal bagus kalo mimpin pertandingan di EPL, akhirnya gak bakal dipake mimpin pertandingan sisa dari sejak perempat final, dan dia mutusin retired dari pertandingan internasional.

Bruder Michael dan Graham Poll adalah para pengadil yang bekerja di bidangnya masing-masing.
Kekuasaannya di lapangan atau di sekolah adalah absolut.
Apapun keputusannya, hasil gak mungkin diubah.

Tapi toh mereka ngejalanin perannya karena ada aturan yang ngatur.
Toh mereka tetap manusia yang bisa bikin kesalahan.
Mereka bisa dievaluasi dan diberi hukuman kalo bikin kesalahan.
Hukuman yang diberikan atas dasar semangat dan keinginan untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan.

Tapi memang Sepakbola adalah sebuah potret mikro sebuah negara.

Tengok dunia sepakbola kita .
Wasit berbuat salah gak dihukum.
Pemain dikasih kartu, wasit digebukin.
Pemain dihukum, tapi langsung hukumannya diputihin.
Ketua PSSI nya jadi kriminal, dicuekin.

Lihat Republik ini.
Hakim memihak, malah dibela.
Hakim korupsi, justru dilindungi.
Pelapor korupsi, terus diintimidasi.
Hakim Agung bisa memperpanjang pensiun sendiri.
Diperiksa gak mau.

Jadi ya sudahlah.
Gak usah ngarep wasit dievaluasi, pemain salah dihukum.
Wong ketua PSSI nya udah jadi narapidana aja gak diturunin.
Wong ketua KONI nya aja lebih sibuk sama network media dan cucu gelapnya.
Belum lagi bentar lagi bakal jadi calon gubernur DKI.

Gak usah ngarep wasit kita bisa adil.
Wong ketua Mahkamah Agung yang harusnya jadi juragan adil aja gak bisa adil.
Wong pegawai MA aja bisa disuap apalagi kok wasit.

Mending ngarepin Ronny Patinasarani dan Danurwindo bisa lebih BERANI memprediksi hasil. Daripada cuman sok menganalisa permainan dengan analisa standard. Beda ama komentator politik dan hukum yang jauh lebih BERANI teriak---- meskipun tanpa hasil!

Atau mending ngarep Graham Poll pensiun wasit ikut fit and proper test jadi Ketua MA?

Sak karepmu....
Kalo gue mending ngarepin Zidane melakukan tarian indah pencetak gol sebagai penutup manis karirnya.

Pritttt! Pritttt! Prittttt!!





Meja di Adwork dengan kalendar Tiara Lestari di meja.
070706
Prit!! Priiiiitt! Pret!

6.10.2006

Football-Freak Harrasment





.........


(Ini speechless. Jangan dibaca "Titik titik titik titik"!!)




Meja di ruang tim GG Adwork kena AC.
100606
Koma. Koma. Koma

5.27.2006

Ronggowarsito Monolog II





Ya Allah...
mengapa kau benarkan LAGI imajinasiku....

Ronggo
Ronggo I


Kamar Naia masih di Gandul
280506
Jogjakarta. Jrrrrrrroooogggjjjaaakaarrrrrrtaaa. Dukakarta.

5.24.2006

Teguh Beriman






Guh...
inget gak pas tahun 87, jaman kita beneran masih ABG--masih kelas 3 SMP! (gak kayak skrg.. NGAKUnya doang masih ABG :p) dan kita berdua jadi juara 3 lomba ngeRAP di My Place discotheque? Huaahahahahaha...bodoh banget..
Pesertanya cuman 4 tim, jelas aja juara 3!!!

Udah gitu jaman itu kita juga lagi suka-sukanya ama Run DMC, Beastie Boys dan...............
Rick Astley!!!? Najis lo Guh...he he he...

Guh...
Inget gak jaman itu elo orgnya tempra banget. Sampe elo sempet ribut gebuk-gebukan sama Iwan Tarjo di kelas pas pelajaran Pak Sum. Atau berantem sama Bamos di depan kantin PKK cewek. (Gue masih inget banget komennya Bamos pas pertama lo pukul.."Aduhh!!! SAKIT GUH!!!" hi hi hi)

Atau pas jaman SMA yang elo digebukin rame-rame sama anak '90 di depan WC sementara deket kantin Don Salamo ? Gara-gara elo mukul Tulo pas elo gak pake badge?

Saking seringnya lo ribut sama orang, sampe pas elo sama Adam tabrakan on the way ke PAMSOS --acara musiknya anak SMA 6--dan tangan lo patah, banyak yang bilang elo kena tulah karena "ringan tangan"
Padahal abis itu justru Ijum Verdi kena pukul elo gara2 maen slepetan di kelas nyasar ke tangan lo yang lagi patah digips itu. Hi hi hi...

Guh...
Inget gak di suatu saat di Taman Belakang, ketika kita masih SMA, elo bilang gini ke kita-kita "He he..iya yah gue tuh kalo udah begini selalu nyesel, kenapa gak seringan maen sama elo-elo...", menyesali kenakalan elo bersama gank nakal lo.

atau pas jaman angkatan gue daftar-daftaran kuliah di Bandung, dan elo memberi kami fasilitas sebuah rumah di jalan Kanayakan punyanya sodara lo untuk kita acak-acak sementara. Malah jaman itu elo masih pacaran sama Tanya, elo pake telponnya sodara lo untuk interlokal Tanya, sambil maenin lagu pake piano. Romantis sih Guh, tapi berapa ya tagihan telpon sodara lo setelah itu..ha ha ha...

Atau jaman kuliah kita rame-rame nangkring di rumah Teges, dan elo selalu memainkan piano dengan romantisnya, tapi saat lo mau menyanyi, Teges ngebekap mulut lo "Udah Guh, kamu maen piano aja..."
Hahahahaha...Tae tuh emang Teges.

Guh..
inget gak jaman elo mulai cabut dr The Hours of Silence trus mulai gabung ama Kidnap dan seterusnya jadi anak potlot dan kita mulai "kehilangan" elo meskipun kita sesekali masih ketemu elo.

Guh..
Mungkin blog gue gak cukup buat nulis semua kenangan-kenangan dan kejadian-kejadian tolol yang pernah kita lakuin bareng-bareng.
Tapi semoga cukup bisa ngingetin ke semua orang bahwa, mau ke manapun kita pergi, cuman IMAN kitalah yang bakal menentukan ke mana akhirnya kita.

Seperti seluruh perjalanan terakhir-terakhir hidup lo yang tercermin dari postingan-postingan blog lo...

Yang tenang ya DI SANA, Guh....



Layar pun menutup perlahan
Lampu-lampu satu persatu padam
Tinggal raut wajah malam
Kulihat menjawab dengan tawa
tanda pertubjukan selesai
sampai di sini...

DRAMA HITAM-PUTIH
by Anda, Yuka, Teguh (?)






Meja Adwork dengan G4 nangkring di atasnya.
240506
Lahir. Hidup. Mati.

5.18.2006

Maridjan, Maribeth, dan Mari Mengampuni






Bo'ong aja, kalo ada dari kita-kita belakangan ini belum pernah denger nama Mbah Maridjan.
Gara-gara Merapi mau meletus, Mbah penjaga Wedhus Gembel ini memang jadi omongan di mana-mana. Mulai dari kekaguman sampe cercaan dia dapet gara-gara gak mau nyuruh penduduk ngungsi.

Nama Mbah Maridjan, emang nyaris sekondang Mbak Maribeth, waktu lagu Denpasar Moon lagi ngetop-ngetopnya! Jaman itu kayaknya kalo lo jalan-jalan di Glodok atau Aldiron (hweh Aldiron???) atau apalah yang banyak toko kasetnya, atau pertokoan yang biasanya muterin lagu-lagu di pengeras suaranya (kayak Matahari, Ramayana dll itu), pasti lo akan denger lagu Denpasar Moon.
Dari mulai versi dangdut, house music, versi Sunda, versi Disko, Reggae, etc etc Hoekkkkk!!!!

Tapi ya itu tadi,
seperti biasa, setelah "trend"-nya lewat semuanya pun bakal senyap lagi.
Mbah Maridjan suatu saat pasti akan ganti sama Mbah Maridjan-Mbah Maridjan yang lain-- kalo Merapi dah kelar dan ganti gunung lain yang waspada.
Denpasar Moon pun ilang berganti dengan Lemon Tree, atau Asereje, atau Mambo no 5, yang juga turun berbagai versi.

Udah jadi kebiasaan kita, (KITAAAA!!??? Elo kaleeee!!) yang anget-anget tai ayam pas lagi masa serunya, tapi abis itu "mak klepus!" ilang tanpa penyelesaian.

Begitu juga dengan RUU APP dan Playboy, Revisi UU Naker, Kasus Rekening PATI Polri, Kasus BNI dan Trunojoyo I, atau bahkan Semanggi I & II, Tanjung Priok dan lain-lain.
Ada yang muncul lagi setelah ilang, tapi abis itu ilang lagi.

Kasus Pak Harto mungkin yang paling unik.
Kontroversi Bapak Pembangunan bin Pahlawan atau Penjagal HAM bin Koruptor kelas wahid, masih kenceng-kencengan. Antara pendukung dan pendongkel, masih sama-sama adu kuat. Jadinya yang ada muncul ilang, muncul ilang.

Kalo mau diadili--> semua rame, beliau sakit, pengadilan diberhentiin.
Kalo keluarganya ada yang kawin--> beliau sehat, semua teriak, tim dokter kepresidenan langsung masuk infotainment dan bintang acara talkshow.
Semua teriak rame--> beliau langsung sakit lagi, pengadilan malah mau disuruh diberhentiin secara permanen.

Jusuf Kalla, Jimly Ashiddique, Yusril Ihza Mahendra getol menyuarakan "MARI MENGAMPUNI! BELIAU KAN BAPAK BANGSA, PAHLAWAN, UDAH TUA HARUS DIBERI EMPATI PERI KEMANUSIAAN"

Sementara ICW, PBHI, dan kaum sebangsa getol menyuarakan "HUKUM ADALAH HUKUM. IMPUNITAS TAK BOLEH ADA"

Logika awam dipermainkan dan dibengkokkan bak oleh aktor-aktor Srimulat.

Asmuni membaca surat: "Yang bertandatangan di bawah ini...."
Lalu Asmuni kelabakan sibuk mencari ke bawah lantai, di mana tandatangan itu berada.


Katanya setiap warga negara itu derajadnya sama di mata hukum.
Mau mantan presiden, mantan maling, mantan koruptor, tukang becak, mantan pemimpin Baja Merah Putih, tukang pecel, sampai orang advertising, semuanya sama di mata hukum.

Kalo salah ya dihukum.

Tauk dia salah atau enggak, gimana?
Ya diadili!

Kan udah tua, sakit-sakitan?
Kalo maling ayam sakit2an apa terus dia diberhentiin pengadilannya?

Tapi kan pahlawan?
Kalo Ellyas Pical yang Pahlawan Tinju Indonesia, ketangkep jualan ecstasy apa musti diampuni?

Tapi dia sakit, jadi gak mungkin dateng ke pengadilan?
Ehmmm..tauk istilah "Pengadilan In Absentia" yang tanpa dihadiri terdakwa gak?

Adili ajalah!!
Kalo salah, ya dihukum, terus hartanya di sita, tapi dikasih grasi jadi gak usah njalanin hukuman fisik.
Adil kan?
Kemanusiaan tetep terjaga, keadilan tetep didapet.

Kalo tauknya gak salah?
Ya dibebasin.
Terus biarin dia hidup seperti sekarang tapi tanpa dikejar-kejar orang.
Kasian kan hidupnya?

Jangan2 emang KETIDAKTENANGAN DI HARI TUA itulah, bentuk hukuman buat beliau dari Tuhan..??
HUSH!! Ngaco!

Ngacoan mana sama yang nebak beliau bentar lagi meninggal, mengingat Wedhus Gembel biasanya keluar di saat ada kejadian besar?

Amien..

Lho?




Meja di pojokan tim GG Adwork.
180506
On-Off. On-Off. Capek.

4.07.2006

Kisah Kupu-Kupu dan Shabu







Masuk di lingkungan baru--entah kantor , sekolah, atau komunitas memang menghadirkan satu sensasi sendiri.
Sebuah sensasi yang sampe sekarang gak pernah berhasil gue describe.

Ingatan gue merambat ketika gue masuk TK pertama kali.
Sensasi itu muncul ketika gue ngeliat muka-muka asing itu.
Kalo kata Jolly Jumper di komik Lucky Luke, "rasanya seperti habis menelan kupu-kupu".

Dan bener...kalo ngeliat muka (calon) temen-temen gue di TK itu kayaknya memang rasa itu juga yg mereka rasain.
Tapi memang akhirnya waktu lah yang mengubah "rasa menelan kupu-kupu" itu jadi "rasa menghisap shabu2" (bwehehe..)

Kalo gak ketemu temen-temen, rasanya gimana.. gituuu...

Waktu pertama kali pindah ke Jakarta kelas 3 SD,
di hari pertama yang "ketelen" kayaknya malah "Kupu-Kupu Raja".
Anjrit gak enak banget.
Gimana enggak?
Udah lingkungan baru, bahasa baru pula..
(maklum anak Jokaw pindah ke metropolitan =) )
Padahal di kemudian hari, di sinilah gue menemukan Ijoen
--"shabu gue"paling setia sampai sekarang.

Masuk SMP pindah lingkungan lagi.
Di sini "Kupu-kupu" nya gak terlalu berasa.
"Shabu"nya banyak yang nyangkut ampe sekarang.
Maesa, Ocai, Yuka, Shanti, Emink, Tari, Ienda, Ai, Bamos, Apit, Yoris, dll
(Mungkin karena SMA gue gak ganti lingkungan dan lanjut sama mereka-mereka)
Di SMA malah nambah Tanti, Upil, Kambing, dan anak angkatan lain dari Ikatan Taman Belakang

Pas kuliah beda lagi.
Kampus FE Pancasila adalah sebuah tempat yang unik.
Lingkungan ini gue rasain sebagai lingkungan yang baru terus-terusan.
Lo bayangin, selama 7 tahun kuliah (???) gue berasa nelen kupu-kupu setiap gue pergi ke kampus!!
Bayangin betapa kenyangnya gue dengan kupu-kupu saat itu.
Gak heran gue jadi gak punya shabu di sana...
kekenyangan kupu-kupu, jo!!!

Tapi bukan itu doang yang unik.
Cabe Rawit juga lingkungan yang unik.
Di sini gue malah gak nemu satu kupu-kupupun untuk ditelen sejak mulai dari hari pertama masuk!!!
Mungkin itu yang menyebabkan gue begitu kecanduan sama lingkungan ini.
Bahkan saat gue udah memutuskan untuk quitpun gue tetep kejerumus balik.
Cabe Rawit bukan Shabu.
Cabe Rawit itu Putauw.

Dua minggu udah gue menginjak EuroRSCG.
Ada sedikit kupu-kupu di sana-sini tapi kecil-kecil.
Belum ada putauw maupun shabu,
tapi ada sedikit ecstasy dan happy-five =)
--itu juga kecil-kecil.

Tiba-tiba gue ngerasa kembali ke masa hari pertama masuk TK.

"SELAMAT PAGI, BU GURUUUUUUUUUUUU!!!!"

Pinterrrrr....


Meja di depan pintu ruang tim GG Adwork.
070406
Halo? Halo? Halah...

2.28.2006

METAMORPHED (Selamat Tahun Baru yang Tak Pernah Terlambat)





Angka di kalendar itu terasa berdetik bak jam dinding.
Sesaat nafasku sesak menyadari waktuku tinggal sedikit.
Hhhhhhh…..

Pandanganku menerawang,
Entah mencoba dengan sia-sia melihat ke masa depan,
atau sekadar menonton tayangan yang telah lalu di benak sendiri.

Seorang manusia, setiap hari selalu mengambil langkah, coba mencapai tujuannya
meskipun tak pernah tahu apakah akan sampai atau tidak
Dimulai dari langkah pertama yang ia ambil
(yang buat Naia berarti tepat tanggal 1 Jan 2006—mulai pertama dia bisa jalan!)
manusia tak akan pernah berhenti coba mencapai tujuannya.

Padahal kita tahu, satu-satunya yang pasti di langkah manusia adalah ketidakpastian.
Oleh karena itulah manusia memiliki harapan.
Sebuah abstraksi yang diciptakan sendiri demi mempertahankan ayunan langkah.
Yang selalu diinginkan untuk lebih baik dibanding yang sebelumnya.

Mungkin itu sebabnya setiap manusia mengambil momen-momen tertentu untuk menggantungkannya.
Momen seperti tahun baru.
Seperti kemarin ini.
Kebanyakan orang menggantungkannya di tgl 1 Januari 2006.
Saudara-saudara kita yang keturunan Cina di tgl 29 Januari 2006,
Saudara-saudara kita beragama Islam di tgl 31 Januari 2006.
Terserah.
Setiap orang punya kebebasan memilih momennya.

Termasuk diriku.
Kebetulan saja aku memilih tanggal 10 Maret 2006, sebagai tahun baruku.
Sebagai momen untuk menggantung harapan setinggi langit,
yang akan menerangi langkahku beberapa waktu ke depan
yang akan mengiringiku demi mencoba mencapai tujuan
yang semoga menjadi lebih baik daripada sekarang.

Selamat tahun baru teman-teman.
Have a nice METAMORPH
Tolong doakan aku semoga ber-METAMORPHOSHEQUE…



Terinspirasi ClearNation Metamorphoself
Tersentil secara impulsif oleh ultah NSH @ Ben Tuman
Didedikasikan untuk
Santo, Salim, Suryana, Wuri, Pak Omo, Rahmat, Pak Dadan, Pak Mea, Gogon, Trisna, Adi, Sigit, Wiwik, Lina, Yati, Mbak Hesti, Mbak Ida, Mbak Ari, Meinar, Ani, Yopie, Iim, Mas Timin, Bagus, Lana, Julkipri, Dessy, Tifa, Sigit, Mbak Tari, Sofyan, Oki, Oci, Mulli, Derry, Kundra, Mamo, Glen, Ayu, Linda, Ukiet, Asta, Rini, Moza, Jack, Ugi, Mas Willy, Bambang, Jonv, Frency, Taryono, Genta, Jeanny, Pak Narga, Pritha, Riva, Wisnu, Pronky, Richard, Memen, Shinta, Pitra, Donald, Bosko, Tonny, Titi, Tuko, & Elwin.



Kamar Gandul dengan monitor komputer penuh souvenir kawinan
280206
Tes. Tes. Tes.

12.22.2005

Branded Friends: Who am I to you?


(Proyek Cross-Blogging Alia – Sesek)




By Alia

How many times do we judge people?
Almost every time.

And usually, we judge them first by their outer appearance.
In the first 10 seconds, we would’ve already “branded” our friends.

These days in the Internet age world,
We can find new friends from chat, blogs, mailing lists,
forums, networking sites like Friendsters, Orkut and so on.

Yet although we can’t even see our “virtual friends” appearance,
we still judge them by their “first impression.”
Their nickname, their words, their blog layout, their avatar, their pictures, their testimonials.

With that first impression, we begin to have
a certain image for our “virtual friends”.

We give them a certain “brand”.
Either a good brand or a bad brand.

For example, to me :
Laluna Maya is a Madonna. Outspoken and rebellious.
Rangga is a Fiat. Driven by Passion.
Sesek is an A-Mild. Bukan Basa Basi. :P

But those brands emerged only from first impressions.
And of course, first impressions can be deceiving.

And that goes for both the real and virtual life.

Even though people say, it’s the first impression that counts.
I say, don’t make it stick forever.

As you cannot judge a book by its cover,
You can’t also know a whole person in 10 seconds. :P

From my own experience, I learned that girls
who have the most innocent faces
are usually the naughtiest, back-stabbing girls.

And guys who are smooth-talkers, and are very confident
and act as though they are “all that”
are the worst jerks in the world.
:P

You might only know me through my words.
I might only know you through your words.

Yet as I might have branded you,
I wonder what have you branded me?



-----------------------

Note : Baca juga tulisan Sesek di blog Alia
BRANDED FRIEND: You Are What You (want them to?) See

-----------------------

12.17.2005

Apa Arti Sebuah Angka?




Dulu anak-anak PL paling suka ngebecandain anak-anak SMA negeri begini:
"SMA lo di mana?"
"SMA Tiga Empat..."
"Hah??? Nama sekolah kok pake angka sihhhh!!??"

Becandaan klasik yang kadang masih suka kebawa-bawa di kantor itu, emang kadang dirasain keterlaluan.
Tapi bener deh!
Apa sih enaknya dikasih identitas numerik begitu??? =p

Kayak Gerombolan Si Berat musuhnya Gober Bebek aja.
Gue ampe sekarang gak pernah tahu nama mereka aslinya.
Yang gue tahu "176-761" dan semacemnya.

Kayak panti pijet di kota aja. (ini kata temen gue looohhh!! =) )
"Silakan mas, mau yang nomer berapa???"
Jooooooooo'!!!
Mereka punya nama geto lowhhh!
Masih lebih beradab Mitra Sehat di belakang kantor deh...(he he he ya iyalah!)

Kebayang gak sih misalnya Liga Sepakbola Indonesia timnya dikasih nama numerik.
"Baiklah pemirsa, sebentar lagi kita saksikan pertandingan seru antara PS Satu melawan PS Tigabelas.."
Sumpah mampus gak kebayang gue!

Belum lagi soal konotasi strata yang berbeda.
Nomer 1 pasti dianggap strata tertinggi dibanding nomer 139, misalnya.

Atau masalah angka-angka tertentu yang dianggap membawa sial kayak angka 4 di kepercayaan orang cina dan 13 di kepercayaan orang bule.
Pasti entar bakal perlu angka 3B dan 12B kayak di lift-lift gedung bertingkat..
(Gue yakin SMAN 4 Gambir gak ada satupun siswanya yang cina! He he he)

Memang angka kadang terasa jauh dari hal yang manusiawi.
Janji 50% di awal ternyata faktualnya di atas 100% kenaikan BBM, buat SBY-JK dan tim ekonomi geblegnya sih cuman soal itung2an di atas kertas.
Tapi buat rakyat kecil itu adalah hunusan belati di leher yang maju setiap detik.

Data BPS soal jumlah keluarga miskin yang nerima bantuan kompensasi BBM mungkin cuman keliatan sebagai chart yang bentuknya sering gue pelototin di powerpoint--yang kalau salah sasaran tinggal di bilang "Wah maap kami salah sasaran"
Padahal mereka adalah indvidu-individu bernyawa yang rela meregang nyawa atau mengancam nyawa demi kebagian jatah.
(Yang masih pula dipalakin ama Mendagri Rp 50/liter minyak tanah!!! Biadab lo Ma'ruf)

Coba bayangin misalnya Chart di BPS itu dibentuk dari nama-nama orang misalnya Mbah Surip, Bik Supi, Yu Narti, dst. Mungkin itu bisa bikin orang BPS lebih ati-ati supaya gak salah sasaran, karena ngebayangin muka-muka mereka yang renta dan butuh bantuan.

Atau nama-nama SMAN-SMAN jadi SMAN Bulungan, SMAN Mahakam, SMAN Daha, SMAN Pondok Labu, SMAN Setia Budi dst. Daripada mereka suka nambahin nama lokasi sekolah mereka di belakang angkanya..

Tapi nyatanya ada juga angka yang sangat dekat dengan manusiawi.

Misalnya togel.
Kurang manusiawi apa coba, angka-angka yang selalu dioprek-oprek tukang ojek, tukang becak, dan orang-orang kecil lain itu? Sampe-sampe kadang bikin mereka percaya sama coret-coretan orang gila. Atau ngeramesin mimpi-mimpi. Bahkan sampe percaya no polisi mobil yang tabrakan bakal jadi nomer yang keluar..(hik..hik..)

Buat gue sendiri ternyata 5 Desember kemaren membalikkan semua pengecilan arti sebuah angka yang selama ini selalu gue anggap menidakmanusiawikan segala hal.

Mungkin angka 1 di atas kue saat itu,
buat orang lain, hanyalah sebuah lililn yang harus ditiup Naia,

Tapi buat gue,
itu adalah simbol rangkaian sensasi kebahagiaan
yang gak akan pernah bisa dibagi dengan orang lain,
--kecuali orang lain itu ngalamin sendiri...

Selamat telah melangkahi tahun pertama dalam hidupmu, bidadariku...




Terinspirasi oleh: Gandhi Soeryoto's "Lali rupane, kelingan rasane" =)


Komputer rumah yang kibordnya digelendotin Naia terus
101205
Muah! Muaahh!! CBBBAK!!

12.13.2005

Robur






Pernah punya imaginary friend?

Selama ini gue mikir pasti tiap orang punya.
Paling tidak, gue punya.
Namanya Robur.
Gue ambil namanya dari salah satu judul Album Cerita Ternama.
(masih ada gak ya majalah keluaran Gramedia ini?)

Sosoknya si Robur ini dalam bayangan gue sama seperti gue.
Cuman dia lebih cakep.
Lebih atletis.
Lebih pinter begaul.
Lebih putih.
Nggak Polio.
Singkat kata dia adalah bentuk sempurna dari seorang Sesek.

Robur hidup sampe sekitar gue lulus SD.
Abis itu hilang entah ke mana.
Meskipun fantasi tentang bentuk sempurna seorang Sesek tetap hidup.

Bahkan sesekali fantasi itu pun masih muncul di kehidupan gue sekarang .
Kadang menjadi seorang pesepakbola Indonesia yang tiba-tiba terkenal di usia tuanya.
Menjadi sang maestro yang membawa Indonesia disegani di kancah dunia.
Selevel dengan Zidane, Raul, Gerrard, Sheva, Lampard, dan Beckham.

Kadang menjadi penulis sitkom sukses, yang enggak SO WHAT GETO LOWH. =)
Sejajar sama Candace Bushnell atau Martha Kauffman.

Ah itu kan ekses psikologi ala Freud!
Di saat keinferioran seorang bocah, dia merasa perlu berlindung dengan tokoh sempurna ciptaannya.
Di saat ngeliat kebobrokan PSSI dengan ketua umum bandit, ketua KONI nan bodoh, dan semua sinetron yang selalu ada adegan kuburannya,
kita merasa perlu menciptakan perisai dengan fantasi-fantasi tolol.

Entah bagian mana lagi dari kehidupan yang perlu kita tamengi dengan fantasi?

Mahalnya elpiji-bensin-minyak tanah--yang subsidinya dikurangin tapi malah ditambahin pungutan?
Kelaparan dan busung lapar di halaman rumah kita sendiri?
Terpuruknya industri advertising yang sekarang getol PHK2an?
Terpuruknya Olahraga kita bahkan di level Asia Tenggara?
Billing statement Kartu Kredit yang dateng bertubi-tubi? =)

Pertanyaannya,
sanggupkah tameng ini melindungi kita?
Di saat kita (seharusnya) sudah dewasa, realistis, dan berpikir rasional?

"Robur, di manakah dirimu....?"
Gue berbisik dengan lirih....


Meja XCR pojok lantai 2 samping banci
131205
blink.blank.bloop.

10.03.2005

Time Passes By





Kadang kita emang gak pernah inget apa yang udah kita lewati sejalan dengan waktu berlalu.
Kadang elo tauk-tauk tersadar dan kemudian melongo sambil berucap
"Hahh?? Itu tahun lalu?"
"Hahh?? masak sih itu udah 5 tahun yang lalu?"

Kayak yang gue lakuin waktu ngelongok postingan terakhir gue di blog geblek ini.
"Buset ampir 3 bulan udah ini blog gue onggokin."

Dalam 3 bulan ini apa aja yang udah terjadi ya?

Yep, gue kumpul2 dengan beberapa temen jaman SMP plus temen SMA.
Pertama di Chatterbox Citos,
trus di Rumah Apit & Dunya di Cilandak,
dan terakhir di rumah Harlin dan Aya di Kemang.
Selintas muka-muka yang nongol gak ada yang berubah.
Tapi jangan tanya soal postur.
Damm!
Bocah-bocah yg hampir 20 tahun lalu satu sekolah ini udah menjelma jadi bapak-bapak (Apit, Tanti, Harlin, Emink, kambing, Irto), ibu-ibu (Shanti, Tari, Vivi, Lina, Dita) , tante-tante (Cumi & Soraya!), oom-oom (Maesa, Yoris, dan Aci dan Ireneee!).
Cuman gue doang yg keliatan masih ABG..he he he
(Anak-anak: Iya SEEEKKKK, maksud lo ABG = Anaknya Baru Gede!!??)
20 tahun?
Gila ke mana aja waktu itu berjalan....

Selain itu apalagi yang terjadi?

Oh iya, XCR dapet 9 finalis dan 1 bronze di Pinasthika Award akhir Juli di Jogja dan dapet 1 finalis plus 1 bronze di Citra Pariwara pertengahan September kemaren di Surabaya.
Gila ternyata udah setahun yang lalu CP tanpa pemenang plus mencret2 sepanjang malem di Sabuga.
Gila ternyata udah satu setengah tahun lebih XCR berdiri.
Cepet banget rasanya.

Trus?

Oh iya gue ultah.
13 September kemaren gue 33!
Anjrit.
Dan sepanjang hari itu Five For Fighting konser nonstop bawain satu lagu "100 years" di telinga maya gue.
"I'm 33 for a moment. Still the man, but you see I'm a they. Kids on the way, family on my mind"

Lalu?

ARi Kondang kawin!
LAGI!
He he he...
Perasaan baru kemaren gue nyalamin dia di pelaminan Gran Melia berdampingan sama Rosa.
Tauk-tauk pertengahan September kemaren itu gue udah di pinggir pantai Bali, bareng Dicky, Keke & Wulan, Alex & Ella, David Hutagalung, Riri, Maesa dan Fabby,
Jadi saksi Kondang dan Maria kawin.
Kawin lagi buat Kondang, kawin pertama buat Maria.=)

Anda & Meuthia juga kawin!!!
Dan gue dengan tololnya malam itu ngasih selamat ke Tiara kembarannya Meuthiaaaa...!!
Aduh! Maklum, rasanya baru kemaren gue kenal Meuthia...
Ternyata itu udah bertahun-tahun.

Kemudian?

Rasanya baru kemaren gue posting soal nyeseknya BBM Naik.
Tauk-tauk hari ini gue ngerasain betapa uang 50 rb itu cuman dibakar jadi uap sehari.
Sore udah harus diisi lagi.
Hikk...hikk...Naiaaaa susumu dirampokkkkkk!!!
Bedebah kau SBY, bangsat kau JK!

Yang terakhir.

Rasanya baru kemaren ngeliat Paddy's dan Sari Club rata jadi tanah.
Dan rasanya belum lama setelah itu gue dan Astri honeymoon berpotret ria di tempat yang sama yang berubah jadi monumen Ground Zero.
Makan di desiran angin pantai Jimbaran.
(Dengan susah payah karena Astri patah metatarsal waktu itu)
Keliling-keliling di keramaian Kuta Square.

Dan sekejap itu udah jadi gambaran masa lalu lagi...

Entah apa lagi yang bakal kita lewatin.
Dan entah ke mana perginya masa-masa itu.
Entah lenyap begitu aja ninggalin memori.
atau pergi bareng sama rasa kemanusiaan dan keluluhlantakan.

Entah...


meja XCR dengan air AC yang netes
031005
merah. marah. muntah.

7.12.2005

pang | gung





Iya, teman.
Ini panggungku.
Panggung yang kupilih dengan kesadaran penuh.
Yang kujaga dengan kantuk sangat tiap malam.
Berteman dengan ribuan hening.
Berpacu bersama lajunya waktu.
Bersandar pada ludah dan peluh.
Bernyawa oleh denyut lamat.

Iya, teman.
Itu panggungmu.
Yang kauhiasi indah.
Dengan lampu-lampu semarak.
Bak 50 tahun emas Indonesia Merdeka.
Bertaburan intan permata.
Berseliweran oleh domba-domba berdasi.
Berkacak di antara serdadu-serdadu wangi.
Berkacamata dengan silaunya lentera kristal.

Iya teman, kita ada di sandiwara yang sama.

Tapi, entah
mengapa kita berada di sisi panggung yang sangat berbeda....


Terinspirasi oleh:
Kenaikan harga BBM, malnutrisi & busung lapar, krisis listrik & BBM, Perpres Tanah, rekonstruksi-macet Aceh, vonis Nurdin Halid & Adiguna, industri tengik bernama Periklanan, omong kosong Widya 'Pertamina' Purnama, hemat energi ala badut Jusuf Kalla, pertunjukan opera Mahakampung Cinta-nya Guruh & Didi Petet, dan pernikahan Agus & Anissa.




Meja XCR Menghadap Langit Dengan Awan Bergulung Entah Hujan Entah Tidak
110705
muak.mual.muntah.

7.01.2005

Kata Pertama





Kadang suka mbayangin gak sih apa kata yang pertama kali kita ucapin waktu bayi?
Apa ya kira-kira?

Standardnya sih:

"papa"

"mama"

atau jangan-jangan kalo gue:

"bola.." =)

Berkhayal mergokin bayi-bayi ngucapin kata pertama mereka, ternyata menyenangkan juga.

Misalnya:


Gene Roddenberry
: "Space..."

Kirk Hammet: "Jeng jeng terettt" (kata pertama udah tiga kata????)

Asia Carrera: "owwhhhhh"

Maradona: "Gol.."

Bill Gates: "deng-dong!" (suara windows error)

Isaac Newton: "aduhhhh!"

Sutiyoso: "Slllllrrrpppp" (suara jilatan pantat)

Nurdin Halid: "Freeedooommmm" (gaya Brave Heart)

Koes Hendratmo: "ho-hokeeehh..."

Deddy Corbuzier: "Konsentrasi!" (yew yew wasaisi, mulut lo bau trasi!!!)

Bucin & Diki (Dynamic Duo :)) ): "apdeeetttt.."

Alia: "BiLOG!"

Pak Haji Awi--tetangga gue: "Berangkat??"
(entah kenapa dia selalu nanya gitu kalo pas gue mau pergi--ya jelas berangkat lah pak haji!!! Gimaneee sehhh????")

Mungkin bisa lebih panjang lagi khayalan gue.
(Atau mungkin lo yg baca postingan ini mau nambahain khayalan gue?)
Sejenis kayak email dan sms berantai soal "describe me in one word" itu.

Tapi ada satu hal yang bukan khayalan.

Dulu gue yakin kata pertama-nya Naia pasti "papa".
Karena kata "Bunda" secara lafal lebih susah buat lidah bayi.
Tapi beberapa hari lalu gue menangis.
Antara geli dan trenyuh.
(Karena setelah itu dia selalu ngucapin kata yg sama di saat yang sama)
saat dia haus dan ndeketin Astri,

di tengah raungan dan tangisnya dia bilang:

"NENEN...!!"



Meja XCR lantai II tetep di depan poster dedek Dhini Aminarti
040705
ha.ha.hik.

6.07.2005

Twist of Fate





Entah kayak apa perasaan Martunis.
Bocah umur 8 tahun korban tsunami itu gak "cuma" keilangan Ibu, kakak, dan adiknya.
Dia sendiri nyaris keilangan nyawa setelah 3 minggu terkatung-katung di laut lepas.
Bertahan idup dari mie intsant dan air mineral yang kebawa ke lautan.

Tapi nasib buruknya dipelintir abis sama baju yang dia pake.

Kalo gak gara-gara kostum "palsu' timnas Portugal no 10 nya Rui Costa yang dia pake waktu dia diselametin, dia gak bakal diliat sama Christian Ronaldo di TV.

Dan berarti dia kemudian gak akan dikasih rumah sama Luis Felipe Scolari, pelatih timnas Portugal.

Dia gak akan dikasih isi rumah lengkap dari pemerintah Portugal

Dia gak akan akan dikasih sumbangan uang sekitar Rp 460 juta sama federasi sepakbola Portugal.

Dia gak akan punya kostum timnas asli bernomor punggung 1 dengan nama Martunis, lengkap dengan tanda tangan semua pemain timnas Portugal mulai dari Ronaldo (Man U), Figo (Real Madrid), Deco (Barcelona), sampai Paulo Ferreira (Chelsea).

Dia gak akan digandeng sama Luis Figo ke tengah lapangan sebelum pertandingan kualifikasi Portugal vs Slowakia, salaman sama Presiden FIFA Sepp Blatter, dan nonton pertandingan yang dimenangin sama Portugal 2-0 itu dari tribun kehormatan duduk di sampingnya Manuel Rui Costa, pemain favoritnya....!

Kadang Forrest Gump memang ada benernya.
Kita gak bakal pernah tau apa yang bakal kejadian sama idup kita.
Mau keplintir jadi buruk atau jadi baik (atau keplintir buruk dan dipelintir balik jadi baik, kayak Martunis), batasnya emang tipis.

Setipis skenario buruk George Lucas yang mlintir Anakin jadi Vader dalam sekejapan jari berpaling dari Force ke Dark Side...
(gak worth sama penantiannya, jooo)

Setipis batas antara apatis, gak nasionalis, sama think big-nya seorang pengarah kreatif agensi lokal
(Masih geleng-geleng ke Bucin... =^p)

Setipis jawaban dokter, insinyur, dan pilot, jaman kecil ditanya cita-cita kita.
(gedenya toh jadi kuli iklan, DJ, atau socialite)

Setipis semangat gue tetep kerja di industri ini....

Terinspirasi obrolan sama Yenny, obrolan sama Mimin, debat kusir sama Bucin di milis, Star Wars 3: Revenge of the Culuns, dan the un-opportunist Martunis


meja XCR yang bentar lagi gak ditempatin oleh empunya
070605
takjub. takut. taktau.

6.03.2005

Miracle





Ada yang merhatiin gak kenapa waktu Sheva
--pemain paling gue kagumi skillnya saat ini--
gagal ngeksekusi penalti malem itu, gak ada cahaya dari langit yang turun menyorot ke bumi?

Atau waktu W. Max Felt kemaren ngebuka jatidirinya sebagai Deep Throat,
--tokoh sentral pembocor kasus Watergate--
setelah 30 tahun bungkem, gak ada gempa bumi atau suara menggelegar dari langit.

Padahal, buat gue, jelas-jelas dua hal tadi itu sebuah mukjizat yang gak bisa gue percaya.

Gimana mungkin European Footballer 2004 gagal mencetak gol dari seorang kiper tolol langganan blunder!!?

Gimana mungkin orang normal bisa sekuat itu dan selama itu nyimpen rahasia.
(Kebayang banget kalo gue jadi Deep Throat, 2 menit berikutnya seluruh dunia udah tauk, kali!!)

Di jaman sekarang emang ternyata mukjizat datang dengan cara yang beda.
Lebih sering tanpa scene-scene dramatis kayak ray of light atau suara-suara nggema di film-film.

Kadang dateng dengan bisik-bisik.

Kadang dateng dengan tangisan menggelegar.
Seperti 6 bulan lalu waktu kamu dateng di dunia, dik.

Sampe sekarang pun kehadiranmu masih jadi mukjizat di tiap malam.

Di tengah tsunami kerjaan yang memuakkan sepanjang 2 minggu belakangan ini....

Hhhhhh....


Meja XCR dgn tumpukan barang-barang gak karuan--entah punya sapa aja. CHAAAAT!!
030605
pitch.current.hoeeek.

5.11.2005

Kamu Jonimu





Entah kenapa, berita itu tiba-tiba terlintas lagi di otak—meskipun udah basi.
TOTET? UMROH?
Gila.. Dua kata itu kayaknya gak layak bersandingan deh!

Masih lebih layak nyandingin Charles dengan Camilla Parker, Jose Mourinho dengan Premiership, Tony Blair dengan George Wacky Bush, atau bahkan Jusuf Kalla dengan Badut Ancol ! Karena mereka semua itu bener-bener mengisi satu sama lain.

Tapi, Totet dengan Umroh!!??

Buat gue ngebayangin hal itu adalah pekerjaan yang sangat susah!
Sesusah ngebayangin orang seawam dan secantik Mariana, fasih ngucapin istilah “proyeksionis” di film JANJI JONI. –istilah yang amat sangat langka diucapin orang awam di kehidupan nyata.
(Kenapa Joko Anwar gak suruh dia ngomong “Tukang Puter Film di Bioskop” aja sihhh???)

Tapi sebenernya apa sih susahnya?
Toh gak ada satu halpun di dunia ini yang mustahil…
Nyandingin Mulyana W. Kusumah dengan suap aja sekarang pun bisa kok...
Apalagi nyandingin Kepala BKPM ama Preman JIS!
Belum lagi nyandingin FPI sama graphic house!!!
Wong Habib-nya udah bisa bikinin logo buat kaset, jee…
(jangan2 FPI itu singkatan Freehand-Photoshop-Illustrator ????)

Toh Totet kan cuma seorang aktor di sebuah film berjudul KEHIDUPAN.
Yang memainkan adegan dari roll film ke roll film berikutnya.
Yang Maha di Atas adalah sutradaranya.
Dan Joni si pengantar roll adalah Totet sendiri.
Terserah dia, mau sampai bagian mana kisah itu diputer…

Setiap orang berhak menjadi Joni-nya sendiri.
Gak tergantung orang lain cuman untuk nuntasin ending film tentangnya.
Gak tergantung orang lain buat ngisi film dengan roll-roll miliknya.

Ini film tentangmu.
Ini roll film-mu.
Jadilah Joni-mu.

Layaknya seorang Sesek,
yang memutuskan untuk mengisi hari sabtu itu dengan roll-roll film berisi adegan:

- Winning Eleven sepagi-siangan
- Nemenin Astri belanja baju dan sepatu di Kayla
- Bawa Naia di-imunisasi dr. Waldi,
- Nemenin Astri dicabut jahitan drg. Franky
- Cekikikan nonton Janji Joni di PIM
- Flaming Towers di Blowfish

apa roll film berikutmu, Sek?

apa roll film berikutmu, Tet?

---

Terinspirasi oleh film bagus berjudul Janji Joni, keuletan Astrid dengan Kayla-nya, dan kemabukan anak-anak eks taman belakang di Blowfish, yang tetap sama ngangeninnya.. =)



Kamar Belakang Gandul
090505
wild. weird. wacky.

4.13.2005

Midnight Scene





"'!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Bunyi Alarm bikin gue kaget setengah mampus!

"Ngepetz!"

Di samping gue, Astri ngebuka matanya pelan-pelan. Jelas lah!
Boro-boro bunyi alarm,
suara Naia ngerengek dikit aja bisa bikin dia melek apalagi alarm!
(kecuali saat dia gak kebangun waktu gue titip bangunin Liv 2-1 Juve minggu kemaren!)

Gue sendiri lupa kalo gue pasang reminder hari ulangtahun dia
jam 00.01 di HP gue.
Gue yang lagi mulai mau mbakar aromatherapy langsung beraksi cepat.

Bungkusan kado, kartu, dan bunga
yang tadinya gue umpetin cepet-cepet gue keluarin.
Gue taroh di samping aromatherapy yang lagi nyala.
Secepat kilat gue nyalain kasetnya Naia dalem tape yang emang udah gue siapin.
Sesaat kemudian lagu "panjang umurnya" terlantun di tengah malem itu.

Astri ketawa ngakak seada-adanya.

Mungkin dia geli karena ternyata gue make cara almarhum Papanya waktu dia kecil ulang tahun.
Papa Pims selalu naroh kado di meja dan nyetelin lagu "happy bday" dari kaset, waktu dia bangun pagi di hari ultahnya.
Seperti rencana gue semula.
Tapi gara-gara alarm, rencana gue berubah dipercepat jadi tengah malem itu.
Dan di tengah malem itulah Astri dengan muka bahagia
niup "lilin ulang tahunnya" berupa aromatherapy.
=^p

Gak sia-sia gue beli kado jauh-jauh hari.
Pake dipergoki sama Narga lagi ngobrol ama mbak2 Global.
Ke D'Best mbungkusin kado sama Riri yang cedera engkel ala van basten.
Beli bunga kayak pasangan homo sama Richat di Barito.

Memang semua hal gak ada yang sia-sia
Gak satupun.
Kalo itu tentang Astri...

Selamat ulang tahun Ntaku.


Meja XCR yang berisik dan panas
120405
makasih. kamsia. taksiasia.