4.18.2017

"New Normal" di Jakarta



disclaimer:
Penulis adalah pendukung Paslon no 2 di Pilkada DKI 2017 jadi tak bisa dipungkiri pasti ada bias di tulisannya.
Meski demikian penulis berusaha seobyektif mungkin dalam mengutip fakta-fakta yang ada.

Suatu hari pas lagi nongkrong sama temen-temen, gue ngelempar topik ini:

“gaes… lo masih pada inget gak jaman dulu, SMS cuma bisa antara operator yang sama, belom bisa lintas operator? Yang pake Telkomsel cuma bisa SMS ke temen yang pake Telkomsel juga. Gak bisa ke Indosat atau XL?”

“Eh iya ya! Hahaha tolol banget yak kalo diinget2 jaman itu hahaha”

Gara-gara lontaran gue itu, maka kemudian pembahasan melebar ke mana-mana termasuk ngebahas hal-hal jadul kayak jaman pager (pejer yak bukan pager rumah :D).

“Serius, Pa? Jadi kita harus nelpon operator dulu, nitip pesen, trus operatornya yang ngirim pesen ala SMS gitu? Kenapa gak pengirimnya yang kirim langsung aja sik!!??”

Iya. Itu respon anak gue pas suatu hari gue ceritain jaman pake pager Starko (eh ngomong2 perusahaan2 operator pager itu pada ke mana ya sekarang?) :DD
Buat angkatan mereka yang native smartphone, betapa gak masuk akal dan tololnya teknologi jadul itu :DD… Jangankan buat mereka, buat kita2 yang pernah ngerasain aja, kadang juga udah gak kepikiran dan cenderung lupa. 

Hal begini itu terjadi biasanya diakibatkan oleh munculnya sebuah perubahan yang mendasar di kehidupan manusia. Baik itu perubahan value, perubahan habit,  maupun perubahan yang lain. Perubahan tersebut –entah baik atau buruk – bakal menciptakan sebuah kebiasaan baru yang lama-lama akan diterima menjadi hal yang sangat normal. Jadilah kecenderungannya orang gak lagi sadar, kalo mereka udah di sebuah “kenormalan yang baru”—atau mari kita sebut sebagai "New Normal”.

Dulu kita kalo mau janjian ketemuan sama temen, kudu udah bener-bener fix tempat dan waktunya, sebelum mulai keluar rumah. (Lha ya janjiannya aja masih pake fix phone rumah :D).
Sekarang new normal-nya adalah janjian serba tentatif, baik secara tempat maupun waktu, toh nanti bisa difixin sambil telpon-telponan di jalan.

Dulu kita sebelum makan berdoa dulu.
Sekarang new normal-nya,  makanannya difoto dulu, baru abis itu berdoa.
Itu juga kali berdoa biar foto makanannya dapet banyak likes di Instagram. :D

Dulu ngeliat sampah berceceran di kali dan selokan itu, normal-normal aja. Sekarang new normal-nya adalah ngeliat pasukan oranye yang lagi bersih-bersih.

Dulu naik bus PPD gelantungan sampe keluar-keluar –itu pun masih disodok2 sama kondekturnya yang nagih duit. Sekarang new normal-nya pintu bus ketutup, ber-AC, bayar pake e-money di halte bus, pindah-pindah tujuan gak bayar lagi selama belum keluar halte.

Dulu sekolah di sekolah negeri Jakarta, bayarnya murah --daripada yang swasta.  Sekarang… gratis sama sekali malahan yang gak bisa beli peralatan sekolah dikasih tunjangan… itu udah normal.

Dulu banjir di jakarta itu berhari-hari baru surut.
Sekarang dalam hitungan jam, banjir udah surut, itu sesuatu yang normal.

Begitu banyaknya hal-hal yang udah dianggep normal,  bikin kita jadi terbiasa dan kadang jadi taking for granted. Lupa bahwa itu hasil dari sebuah perubahan.
Kalo itu buat hal-hal yang lebih baik, mungkin masih enggak apa-apa. Yang menakutkan itu kalo new normal-nya adalah buat hal-hal yang lebih buruk.

Maling ketangkep massa terus dibakar, itu normal.
Bulan puasa sweeping restoran & warung sampe ancur2an, itu normal
Cewek pake baju seksi terus dicolek, itu normal.
Mobil ngelawan arus lalu lintas , itu normal.
Motor naik trotoar dan penyeberangan orang, itu normal.
Kapal diisi muatan melebihi kapasitas, itu normal.
Anak di bawah umur nyetir kendaraan sendiri, itu normal. –apalagi sampe nabrak orang di tol dan meninggal.
Unjuk rasa teriak-teriak bunuh atau bawa golok, itu normal.
Beda agama dan ras terus dikafir-kafirin, itu normal.
Beda pilihan politik sampe jenazahnya gak disalatin, itu normal.

Sampe titik tertentu kita manusia kudu bisa narik garis batas. Kita makhluk yang dikasih akal budi & nurani sama Allah SWT, pastinya bukan cuman buat gaya2an tapi karena Allah sayang sama kita, punya privilege buat bisa menakar sebuah nilai itu baik atau buruk.

Jangan sampe kita keseret dalam new normal sampe akhirnya gak bisa mengapresiasi sebuah perubahan di masa lalu.

Jangan sampai kemerdekaan negara kita yang diperjuangkan lewat darah, keringat dan air mata para pejuang dari beragam suku, agama, dan etnik pun dianggap sebagai new normal yang gak perlu lagi diperjuangin, bahkan kemudian cuma dipake buat retorika tenun kebangsaan (yang kemudian hari dikhianati?)

Selamat memilih besok, untuk Jakarta 5 tahun ke depan yang lebih baik
(…atau lebih buruk?)

Merdeka!
Allahu Akbar!

*kepalkan tinju ke udara*





*pelan2 buka telunjuk dan jari tengah bersamaan*

---


"So when you sense of change
Nothing feels the same
All your dreams are strange, love comes walkin'in"


- Love Walks In  ~ Van Halen (1986)


18042017
Ruang Pintu Orange Sisingamangaraja.
Deg. Deg. Ser..


3.14.2017

Antara Barcelona, Arsenal, Liverpool, Ahok & Anies.

(Goal.com)
Ketika Barcelona dibantai 4-0 oleh PSG kemudian Arsenal dibantai 5-1 oleh Bayern Muenchen di leg pertama babak 16 besar UEFA Champions League semua orang terperangah. Meski di leg kedua Barcelona dan Arsenal sama-sama bermain di kandang mereka, tak ada yang percaya bahwa keadaan bisa dibalikkan dengan defisit gol yang demikian besar.

Tapi kita tahu akhirnya apa yang terjadi. Barcelona dengan semangat Catalan yang menggebu-gebu berhasil lolos memanfaatkan kelengahan pemain-pemain PSG dan ganti membantai PSG dengan skor 6-1 di Nou Camp.

Sementara Arsenal gagal membalikkan keadaan di Emirates, ketika Bayern Muenchen malah kembali membantai mereka dengan 5-1 lagi. Semangat dan koordinasi Arsenal hancur ketika Koscielny dikartumerah. Total Muenchen meluluhlantakkan Arsenal dengan agregat 10-2.

Sementara itu di “Leg Pertama” Pilkada DKI kemaren boleh dibilang Ahok menang tipis atas Anies. Skor kira-kira sama dengan unggul 1-0 di kandang lah bagi kubu Ahok. Kubu Anies cukup bergembira dengan pencapaian yang di luar dugaan itu. Mereka cukup menang 2-0 di “Leg Kedua”, maka mereka akan juara.


Apa kira-kira yang akan terjadi di Leg Kedua nanti?

Apabila kubu Ahok lengah, keunggulan margin yang tipis itu bisa dengan mudah dibalikkan. Bayangkan dalam kasus PSG, margin tebal pun ternyata bukan jaminan. Sebaliknya kubu Anies juga tidak bisa terlalu percaya diri. Membalikkan margin tipis tidak mudah. Apalagi meski menggunakan analogi dua leg dalam UCL, sebenarnya Pilkada DKI berbeda karena tidak menggunakan sistem aggregat. Dalam hal ini Putaran Kedua nanti adalah the real final. Jadi siapa yang lengah pasti akan menyesal.

Mungkin kita harus mengingat final UCL 12 tahun lalu di Istanbul ketika AC Milan di babak I sudah unggul 3-0, kemudian di babak II Liverpool membalikkan keadaan menjadi 3-3 dan akhirnya menang dengan adu penalti  dan menjadi juara Champions League. Tidak ada yang tidak mungkin, sehingga kelengahan lawan bisa jadi akan menjadi KUNCI kemenangan. Entah di sepakbola, entah di Pilkada DKI nanti. Sementara kunci untuk kita berlibur mudah dan murah --mungkin sambil menonton bola --apakah itu ke Barcelona, London, Liverpool, Istanbul, Milan atau Muenchen--adalah memilih tour & travel yang tepat. Cobain pake Dwidaya Tour a
tau donlod appnya di Android maupun iOS.Dan rasain sendiri pengalamannya...