5.18.2006

Maridjan, Maribeth, dan Mari Mengampuni






Bo'ong aja, kalo ada dari kita-kita belakangan ini belum pernah denger nama Mbah Maridjan.
Gara-gara Merapi mau meletus, Mbah penjaga Wedhus Gembel ini memang jadi omongan di mana-mana. Mulai dari kekaguman sampe cercaan dia dapet gara-gara gak mau nyuruh penduduk ngungsi.

Nama Mbah Maridjan, emang nyaris sekondang Mbak Maribeth, waktu lagu Denpasar Moon lagi ngetop-ngetopnya! Jaman itu kayaknya kalo lo jalan-jalan di Glodok atau Aldiron (hweh Aldiron???) atau apalah yang banyak toko kasetnya, atau pertokoan yang biasanya muterin lagu-lagu di pengeras suaranya (kayak Matahari, Ramayana dll itu), pasti lo akan denger lagu Denpasar Moon.
Dari mulai versi dangdut, house music, versi Sunda, versi Disko, Reggae, etc etc Hoekkkkk!!!!

Tapi ya itu tadi,
seperti biasa, setelah "trend"-nya lewat semuanya pun bakal senyap lagi.
Mbah Maridjan suatu saat pasti akan ganti sama Mbah Maridjan-Mbah Maridjan yang lain-- kalo Merapi dah kelar dan ganti gunung lain yang waspada.
Denpasar Moon pun ilang berganti dengan Lemon Tree, atau Asereje, atau Mambo no 5, yang juga turun berbagai versi.

Udah jadi kebiasaan kita, (KITAAAA!!??? Elo kaleeee!!) yang anget-anget tai ayam pas lagi masa serunya, tapi abis itu "mak klepus!" ilang tanpa penyelesaian.

Begitu juga dengan RUU APP dan Playboy, Revisi UU Naker, Kasus Rekening PATI Polri, Kasus BNI dan Trunojoyo I, atau bahkan Semanggi I & II, Tanjung Priok dan lain-lain.
Ada yang muncul lagi setelah ilang, tapi abis itu ilang lagi.

Kasus Pak Harto mungkin yang paling unik.
Kontroversi Bapak Pembangunan bin Pahlawan atau Penjagal HAM bin Koruptor kelas wahid, masih kenceng-kencengan. Antara pendukung dan pendongkel, masih sama-sama adu kuat. Jadinya yang ada muncul ilang, muncul ilang.

Kalo mau diadili--> semua rame, beliau sakit, pengadilan diberhentiin.
Kalo keluarganya ada yang kawin--> beliau sehat, semua teriak, tim dokter kepresidenan langsung masuk infotainment dan bintang acara talkshow.
Semua teriak rame--> beliau langsung sakit lagi, pengadilan malah mau disuruh diberhentiin secara permanen.

Jusuf Kalla, Jimly Ashiddique, Yusril Ihza Mahendra getol menyuarakan "MARI MENGAMPUNI! BELIAU KAN BAPAK BANGSA, PAHLAWAN, UDAH TUA HARUS DIBERI EMPATI PERI KEMANUSIAAN"

Sementara ICW, PBHI, dan kaum sebangsa getol menyuarakan "HUKUM ADALAH HUKUM. IMPUNITAS TAK BOLEH ADA"

Logika awam dipermainkan dan dibengkokkan bak oleh aktor-aktor Srimulat.

Asmuni membaca surat: "Yang bertandatangan di bawah ini...."
Lalu Asmuni kelabakan sibuk mencari ke bawah lantai, di mana tandatangan itu berada.


Katanya setiap warga negara itu derajadnya sama di mata hukum.
Mau mantan presiden, mantan maling, mantan koruptor, tukang becak, mantan pemimpin Baja Merah Putih, tukang pecel, sampai orang advertising, semuanya sama di mata hukum.

Kalo salah ya dihukum.

Tauk dia salah atau enggak, gimana?
Ya diadili!

Kan udah tua, sakit-sakitan?
Kalo maling ayam sakit2an apa terus dia diberhentiin pengadilannya?

Tapi kan pahlawan?
Kalo Ellyas Pical yang Pahlawan Tinju Indonesia, ketangkep jualan ecstasy apa musti diampuni?

Tapi dia sakit, jadi gak mungkin dateng ke pengadilan?
Ehmmm..tauk istilah "Pengadilan In Absentia" yang tanpa dihadiri terdakwa gak?

Adili ajalah!!
Kalo salah, ya dihukum, terus hartanya di sita, tapi dikasih grasi jadi gak usah njalanin hukuman fisik.
Adil kan?
Kemanusiaan tetep terjaga, keadilan tetep didapet.

Kalo tauknya gak salah?
Ya dibebasin.
Terus biarin dia hidup seperti sekarang tapi tanpa dikejar-kejar orang.
Kasian kan hidupnya?

Jangan2 emang KETIDAKTENANGAN DI HARI TUA itulah, bentuk hukuman buat beliau dari Tuhan..??
HUSH!! Ngaco!

Ngacoan mana sama yang nebak beliau bentar lagi meninggal, mengingat Wedhus Gembel biasanya keluar di saat ada kejadian besar?

Amien..

Lho?




Meja di pojokan tim GG Adwork.
180506
On-Off. On-Off. Capek.

12 comments:

Diki Satya said...

Adalah satu kesenangan tersendiri 'menangkap basah' tulisan baru Sesek dan lantas menjadi pemberi komentar pertamanya.. :)

Pak Harto?
Ya emang harus dimaafin.
Ya emang harus diadili.
Bebas kalo gak bersalah, hukum kalo bersalah.

Pak Harto juga manusia. Kita juga.
Ayo! Jadilah manusia.

Mister G said...

kenapa ya tulisan On Off di baris terakhir itu dibikin black 30%. Fade out kayak kasus2 di atasnya?

dewi said...

Kita kok sehati ya sek? http://aeraksa.blogspot.com/2006/05/maapin-dilupain.html

poy said...

mari jo!

nurul said...

kl langsung diambil hartanya aja, brarti kita sama juga dengan ngerampok, persis kayak kelakuan eyang itu jaman dulu ya..benul tuh, meskipun langit runtuh, hukum harus tetap tegak!
btw, mbah maridjan itu hebat bener yaaa..bisa langsung ngetop hehehe..

foto naia dong pak...pengen liat neh..*request ngarep* :)

buztanul said...

ya...ya...ya...
engkau yang mulai engkau yang mengakiri..(wekk.. kayak dankdut)
tinggal diadili aja kok repot...he10X

Mimin said...

Kita sering kebalik-balik dalam kesantunan memperlakukan terduga, tersangka, terdakwa, terpidana dan terpidana mati.

http://ragam.info.tm/sudutpandang/12-05-2006/20

Dendi said...

kata mahatma gandhi juga...
an eye for an eye makes whole world blind... Tapi kenapa waktu Ny. Munir mau jenguk ditolak ya? tanyaaaa kenaaaappaaaaa

oca said...

..jadi tanda tangannya ada di mana dong Sheq???
*sumpeh, gw masi nyari tanda tangannya niiy*

Bunda Raihan said...

maap..maap...
*eh ini lebaran ya

btw lam kenal ya

Blogger said...

Did you know that that you can generate money by locking premium areas of your blog / site?
Simply open an account with CPALead and implement their Content Locking widget.

Blogger said...

Are you making money from your premium file uploads?
Did you know AdWorkMedia will pay you an average of $0.50 per link unlock?