7.07.2014

Pilpres 2014: Mau Pilih Jadi Apa Kita?


image via Sarie Febrianne's Path

disclaimer: tulisan ini tidak netral, karena penulis sudah menetapkan pilihannya.
Penulis hanya bermaksud berbagi sedikit kepada teman-teman yang masih tidak tahu harus memilih siapa, soal pertimbangannya dalam menetapkan pilihan.









Kapan terakhir kali lo antusias nonton debat capres?
Kapan terakhir kali Piala Dunia gagal ngerebut perhatian penuh lo?
Kapan terakhir kali, di kafe socialite sampai warung kopi pinggir jalan, kita semua ngobrol penuh semangat soal pilihan capres?
Kapan terakhir kali lo nengok facebook lo sendiri--selain pas update foto traveling dan posting place pas jalan2?

halah nyinyiiiiiir* :))

Kapan lagi lo punya alasan sahih untuk nge-unfriend teman-teman facebook lo yang sebenernya-gak-kenal2-amat-tapi-mau-unfriend-kok-gue-gak-enak-ya

Mwahahahahahahak!

Rasanya nyaris gak pernah itu semua terjadi di zaman dulu.
Sebuah hal baru yang belom pernah kita semua rasain.
Boro-boro pas orde baru,
pas jaman reformasi aja gak pernah tuh kejadian.

Mungkin ini disebut sebagai sebuah “Kegembiraan Politik”.
Mungkin.
Tapi sayangnya buat sebagian orang, milih untuk gak (mau) ikut ngerasain kegembiraan itu.

Karena buat sebagian orang postingan tentang capres hanyalah “copras-capres” yang diributkan oleh segerombolan supporter kampungan – sejenis kayak kampungannya supporter2 klub EPL

*sambil ngaca*

Cuma ribut2 yang bikin berisik dan mengganggu keseruan dia posting makan malamnya.
Mengganggu posting selfienya.
Mengganggu pencarian tas dan sepatu di olshop-nya.
Mengganggu invitation Candy Crush Saga-nya.

Padahal bukan.

Ini adalah kegembiraan politik yang bikin ngiri orang di negara lain.
Bikin ngiri orang2 di Suriah, Libya, dan Mesir. 
Bikin ngiri tetangga-tetangga di Malaysia.
Kegembiraan Demokrasi ini satu2nya yang sampai detik ini gak bakal bisa diklaim sama Malaysia! : ))

Okelah kita udah capek dengan pertarungan argumen soal orang tegas vs orang baik.
Pertarungan argumen + bukti soal penculik pelanggar HAM vs Boneka kurus kerempeng.
Udah males denger itu semua kan?

Tapi coba pikirin bahwa pertarungan antara Prabowo vs Jokowi itu sebenernya adalah pertarungan pembuktian siapa sebenernya jati diri kita.

Iya, kita.
Kita rakyat Indonesia.

Rakyat Indonesia yang katanya udah maju.
Rakyat Indonesia yang ngata2in menkominfonya karena gak ngerti gunanya internet cepat dan seneng ngeblok2 situs yang berguna.
Rakyat Indonesia yang ngabisin sebagian besar waktunya di depan monitor. Monitor HP, komputer maupun monitor TV.

Pertarungan Prabowo vs Jokowi ini adalah pertarungan antara MOBILISASI versus PARTISIPASI.

Pertarungan antara pilihan:

1. Punya jati diri sebagai sekumpulan manusia yang hidupnya harus disuruh-suruh oleh seseorang, supaya mau melakukan sesuatu yang baik.

Atau

2. Punya jati diri sebagai  sekumpulan manusia yang mau ikut berpartisipasi melakukan sesuatu yang baik, dengan kesadaran diri.

Sebagai seorang bapak, gue seneng banget kalo ngeliat anak gue berinisiatif untuk ikutan sebuah hal yang baik tanpa gue suruh. Gak cuman seneng bahkan ada kebanggaan.

Begitu juga kalo ngeliat anak buah di kantor melakukan hal kayak gitu. Karena situasi di mana orang di bawah kita harus nurut sama kita, itu sebenernya bikin dua2nya capek lho.
Kitanya capek, yang di bawah kita juga capek.

HEH PUASA2 JANGAN MIKIR JOROK!

Kita2 yang biasa main social media pasti udah biasa banget sama crowd-wisdom. Rame2, dengan kesadaran diri berpartisipasi jadi watch-dog buat sebuah nilai benar-salah. Kita tolak bentuk superioritas seorang menkominfo yang main blokir sebuah layanan dengan sebuah alasan yang nilai benar/salahnya dia sendiri yang nentuin.

Coba pikir, seinget lo ada gak orang yang pernah nggerakin orang lain berpartisipasi padahal enggak saling kenal. Bergerak buat saling dukung, bahu membahu, bergotong royong dari social media sampai dengan di lapangan, demi satu tujuan?

Prita saat Koin Untuk Prita?
Tapi saat itu bukan soal siapa, melainkan soal mengapa.
Yang didukung waktu itu bukan figur Pritanya tapi kondisi ketidakadilannya.

Bayangin bahwa Jokowi secara gak langsung udah nggerakin partisipasi orang2 yang gak saling kenal.
Gerakin mereka-mereka dalam simpul2 relawan.
Dalam forum2 dan milis-milis.
Dalam whatsapp group, BBM group, dan FBChat Group.

Sampe ada relawan yang secara becanda ngeluh “mulai overdosis WA group neh” : )))

Saling tukar ide, saling tukar isu, saling tukar informasi, dan saling tukar kreativitas pendukung.
Orang-orang yang berpartisipasi ini gak dibayar, gak digaji, gak berkepentingan secara langsung, tapi mereka gerak dengan masif.

Salah satu kulminasinya adalah di Stadion GBK Sabtu kemarin.
Sebuah kegembiraan politik.
Tanpa dibayar.
Semua berpartisipasi.
Siapa di sini yang gak rindu punya pemimpin yang bisa menginspirasi sebegitu banyak orang berpartisipasi tanpa iming2 materi?





Pertarungan Prabowo vs Jokowi adalah sebenernya juga pertarungan antara PESIMISME versus OPTIMISME.

Pertarungan antara pilihan:

1. Jadi sekumpulan manusia yang pesimis bahwa diri mereka bisa berubah sendiri

Atau

2. Jadi sekumpulan manusia yang optimis bahwa yang bisa ngubah mereka ya cuma mereka sendiri.

Orang yang pesimis ngerasa butuh pemimpin yang kuat dan sedikit otoriter. Mereka rindu orde baru yang konon otoriter tapi lebih aman. Mereka ngerasa capek sama rezim SBY yang penuh ketidakpastian karena pemimpinnya ragu-ragu. Mereka adalah orang yang punya romantisme masa lalu, karena udah sering banget dikecewain sebelom-sebelomnya.

Sementara orang yang optimis ngerasa butuh pemimpin yang bisa memberdayakan rakyatnya bareng-bareng.  Mereka rindu pemimpin yang belom pernah dipunyai. Mereka percaya masih ada pemimpin baru di luar sana, bukan lagi sisaan orang2 lama dari rezim2 sebelumnya.

Orang yang pesimis ngerasa butuh polisi buat siap di semua titik jalan untuk nilang semua motor yang ngelawan arus, naik trotoar, atau mobil nerobos busway.

Sementara orang yang optimis ngerasa cuma butuh satu contact poin polisi, supaya dia bisa memberdayakan diri sendiri buat motret no polisi motor2 dan mobil2 yang ngelanggar itu buat ditindaklanjutin.

Orang yang pesimis ngerasa bahwa udah gak ada yang bisa menyelamatkan mental2 orang Indonesia yang semacam itu. “Susah deh Melayu…” “Indonesia banget dah”

Sementara orang yang optimis percaya kalo masih lebih banyak orang yang bener daripada orang yang ngawur. Makanya mereka juga percaya bahwa kalo semua orang bener itu lalu bersatu ngoreksi yang ngawur, itu bakal jauh lebih powerful daripada seorang polisi.

berapa sik jumlah petugas polisi dibanding jumlah manusia yang mau diatur?

Hari ini laporan muncul di mana-mana soal lonjakan antusiasme pemilih di luar negeri yang pemilihannya lebih dahulu daripada kita-kita yang di dalam negeri. Jauh di atas pileg kemaren atau pilpres-pilpres sebelumnya. Ada yang antri berjam-jam karena antrian mengular ratusan meter, malah sampe ada yang agak ricuh karena gak bisa ikut nyoblos.
Lagi-lagi bukti sebuah kegembiraan politik.
Lagi-lagi bukti betapa setiap orang mau ikut memberdayakan diri.

Tinggal sekarang kita yang di dalam negeri memilih tgl 9 Juli nanti.
Mau jadi bangsa yang pesimis dan maunya dimobilisasi?
Atau jadi bangsa yang optimis yang percaya kekuatan partisipasi?

Apapun pilihannya, gue bangga jadi saksi sejarah pilpres paling menggembirakan dan paling seru sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Apapun pilihan kita, mari bersama mendoakan tetap seperti ini sampai seterusnya.

MERDEKA!  *tinju ke udara*

*pelan2 buka telunjuk dan jari tengah bersamaan*


---





"Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan daku darimu
Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas"

- Kebyar-Kebyar  ~ Gombloh (1979)


060714
Kamar Kruntelan Kebagusan.
Mental. Menang. Total.


10 comments:

Satyabudi said...

Keren mas.

Salam dua jariiii!

MERDEKA!!

Chubby Awesome said...

Keren!?! Lugas singkat dan ga neko neko, pasti dulunya copywriter!? ;))

RennyFernandez said...

Mewakili keadaan & perasaan semua orang...
Semua orang yang masih punya harapan :)

Lita Iqtianti said...

Masalah piala dunia jd kalah gaung sama pilpres juga gue singgung di.. Mana ya? Blogpost gue atau tulisan di FD, kok lupa. Hehe..

Intinya, tulisan keren wajib share!

TaQin said...

benerrrr bangetttt #MakinYakinPilihJokowi

MasJun said...

Aku inget kata mu disik.

"local youth kok ra njago jagoanmu"

:))


Salam2Jari Om.

Adolf Toyz said...

Kamerad.. kerennn, salam 2 JaRI, sialan yang nulis gue jadi meneteskan air mata.............. akhirnya apa yang mungkin bukan cuman gue (karena egois amat gue kesannya) mimpiin, untuk punya seorang yang bisa memimpin kita bukan punya pimpinan yang memerintahkan kita, menjadi kenyataan. Amin ya Allah SWT, amin.

Anonymous said...

Izin copas ya oom ?
Dara

herlina m said...

terharu.. ada tulisan yang bisa mewakili fikiranku.............

ipye said...

You think ? Orang tegas belum tentu otoriter, sebaliknya orang yg nice blm tentu visioner.. sets standar foe excellent,, kalau ingin maju dan ingin bergaul di komunitas internasionsal,, menurut saya,, maaf ya anda terlalu men-sederhanakan ,, jadi tidak menantang dan tidsk inspiring generasi muda,, ngumpul rame2 seperti di GBK itu hanya for fun dan bersifat euforia,, setelah itu what,, go home and be poor or uneducated forever ?